Panduan Praktikum Farmakologi

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN INJEKSI INTRA CUTAN (IC)

 

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan alat

–       Bak instrumen injeksi

–       Spuit disposibel ukuran sesuai keperluan

–       Desinfektan/kapas alkohol

–       Jarum injeksi untuk keperluan oplos obat

–       Kasa steril

–       Obat yang dimasukkan sesuai etiket

–       Aquadest/aquabides

–       Buku catatan pengobatan klien

–       Perlak + pengalas kain

–       Bengkok

PEMBERIAN INJEKSI INTRA CUTAN (IC)

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien/keluarga.

C.    Tahap Kerja

–       Baca daftar obat klien yang menyatakan nama obat, dosis dan waktu pemberian

–       Ambil obat dari tempatnya,cek labelnya

–       Hitung dosis yang akan dipakai secara tepat

–       Mencuci tangan

–       Buka ampul/vial, jika vial buka penutupnya kemudian karet didesinfeksi dengan kapas alkohol. Jika ampul jentikkan ampul untuk menurunkan obat yang terjepit leher ampul didesinfeksi dengan kapas alkohol kemudian dipatahkan dgn menggunakan kapas alkohol / kassa

–       Ambil spuit dan jarum dari tempatnya dengan korentang

–       Jarum dipasang pada spuit /cek bila posisi jarumsudah benar pas dan tidak tersumbat

–       Bila obat dari vial maka spuit dimasuki udara lalu dimasukkan kedalam vial

–       Isap obat sesuai dengan kebutuhan

–       Buka jarum dan ganti yang baru (jika obat vial) lalu letakkan di dalam bak injeksi yang telah disediakan

–       Kembalikan sisa obat pada tempatnya tulis tanggal membuka vial/ampul/oplosing obat tersebut

–       Buanglah ampul kosong/vial dan kotoran lain kedalam bengkok yang tersedia

–       Perawat mencuci tangan

–       Bawalah obat yang disiapkan dalam spuit dan masukkan kedalam bak injeksi kedekat klien, serta kapas alkohol dan daftar observasinya/ daftar suntikan obat

–       Sebelum obat diberikan identifikasi klien, cek kembali intruksi pemberian obat, nama obat, dosis & waktu pada lembar observasi

–       Jelaskan tujuan dari tindakan

–       Pintu, jendela ditutup k/p pakai sampiran

–       Atur posisi klien sesuai dengan lokasi suntikan yang akan dilakukan

–       Tentukan lokasi suntikan dengan tepat pasang pengalas

–       Lakukan desinfeksi pada lokasi suntikan dengan kapas alkohol dengan cara memutar

–       Ambil spuit yang berisikan obat, pegang spuit dengan lubang jarum menghadap ke atas

–       Suntikkan obat dengan posisi 15 derajat

–       Lakukan test untuk mengetaui apakah jarum mengenai pembuluh darah, dengan cara menarik penghisap spuit, jika tidak ada darah, masukkanlah obat secara perlahan, jika terdapat darah tarik jarum sedikit keatas lalu kesamping

–       Bila sudah selesai tarikkah jarum dengan cepat

–       Spuit dan jarum bekas dipakai direndam dalam larutan desinfektan yang tersedia

–       Alat-alat dibereskan

–       Bantu klien menggunakan pakaian bawah, merapikan klien, pintu, jendela, sampiran dibuka

–       Amati keadaan klien, tanyakan hal yang dirasakan setelah suntikan diberikan

–       Catat: tanggal, jam, obat, dosis, cara pemberian, petugas yang memberi serta reaksi klien terhadap pemberian obat

–       Alat-alat dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.

4.     Akhiri kegiatan

5.     Cuci tangan

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan payudara didalam catatan keperawatan.

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

 

                          

 

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN OBAT SUPPOSITORIA REKTAL

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan alat

–       Mangkuk obat

–       Obat yang dimasukkan sesuai etiket

–       Sarung tangan bersih

–       Tissue

–       Buku catatan pengobatan klien

–       Pelumas

PEMBERIAN OBAT SUPPOSITORIA REKTAL

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien/keluarga.

D.    Tahap Kerja

–       Baca daftar obat klien yang menyatakan nama obat, dosis dan waktu pemberian

–       Ambil obat dari tempatnya,cek labelnya sesuaikan dengan gelang nama klien

–       Mencuci tangan

–       Pakai sarung tangan bersih

–       Posisikan klien miring ( sim) senyaman mungkin dengan kaki yang ada diatas dalam kondisi fleksi

–       Keluarkan obat dari bungkusnya

–       Lumasi bagian ujung obat dengan pelumas

–       Lumasi jari telunjuk perawat yang memakai sarung tangan

–       Masukan obat suppositoria dengan meminta klien untuk ambil nafas panjang dan keluarkan nafas melalui mulut

–       Masukan obat suppositoria secara pelahan lebih kurang 10 cm

–       Keluarkan jari dan tekan bokong klien secara bersamaan beberapa detik

–       Lepas sarung tangan dan buang ke tempat sampah medis

–       Anjurkan klien tetap pada posisi miring minimal 5 menit dan hindari mengejan

–       Perawat mencuci tangan

–       Amati keadaan klien, tanyakan hal yang dirasakan klien

–       Catat: tanggal, jam, obat, dosis, cara pemberian, petugas yang memberi serta reaksi klien terhadap pemberian obat

–       Alat-alat dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.

4.     Akhiri kegiatan

5.     Cuci tangan

F.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan payudara didalam catatan keperawatan.

TOTAL NILAI

KETERANGAN:

  • = Tidak dilakukan sama sekali
  • = Dilakukan tetapi tidak sempurna
  • = Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

 

 

PANDUAN KETRAMPILAN

 

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN INJEKSI SUB CUTAN (SC)

 

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan alat

–       Bak instrumen injeksi

–       Spuit disposibel ukuran sesuai keperluan

–       Desinfektan/kapas alkohol

–       Jarum injeksi untuk keperluan oplos obat

–       Kasa steril

–       Obat yang dimasukkan sesuai etiket

–       Aquadest/aquabides

–       Buku catatan pengobatan klien

–       Perlak + pengalas kain

–       Bengkok

PEMBERIAN INJEKSI SUB CUTAN (SC)

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien/keluarga.

C.    Tahap Kerja

–       Baca daftar obat klien yang menyatakan nama obat, dosis dan waktu pemberian

–       Ambil obat dari tempatnya,cek labelnya

–       Hitung dosis yang akan dipakai secara tepat

–       Mencuci tangan

–       Buka ampul/vial, jika vial buka penutupnya kemudian karet didesinfeksi dengan kapas alkohol. Jika ampul jentikkan ampul untuk menurunkan obat yang terjepit leher ampul didesinfeksi dengan kapas alkohol kemudian dipatahkan dngan menggunakan kapas alkohol / kassa

–       Ambil spuit dan jarum dari tempatnya dengan korentang

–       Jarum dipasang pada spuit /cek bila posisi jarumsudah benar pas dan tidak tersumbat

–       Bila obat dari vial maka spuit dimasuki udara lalu dimasukkan kedalam vial

–       Isap obat sesuai dengan kebutuhan

–       Buka jarum dan ganti yang baru (jika obat vial) lalu letakkan di dalam bak injeksi yang telah disediakan

–       Kembalikan sisa obat pada tempatnya tulis tanggal membuka vial/ampul/oplosing obat tersebut

–       Buanglah ampul kosong/vial dan kotoran lain kedalam bengkok yang tersedia

–       Perawat mencuci tangan

–       Bawalah obat yang disiapkan dalam spuit dan masukkan kedalam bak injeksi kedekat klien, serta kapas alkohol dan daftar observasinya/ daftar suntikan obat

–       Sebelum obat diberikan identifikasi klien, cek kembali intruksi pemberian obat, nama obat, dosis & waktu pada lembar observasi

–       Jelaskan tujuan dari tindakan

–       Pintu, jendela ditutup k/p pakai sampiran

–       Atur posisi klien sesuai dengan lokasi suntikan yang akan dilakukan

–       Tentukan lokasi suntikan dengan tepat pasang pengalas

–       Lakukan desinfeksi pada lokasi suntikan dengan kapas alkohol dengan cara memutar

–       Ambil spuit yang berisikan obat, pegang spuit dengan lubang jarum menghadap ke atas

–       Suntikkan obat dengan posisi 45 derajat

–       Lakukan test untuk mengetaui apakah jarum mengenai pembuluh darah, dengan cara menarik penghisap spuit, jika tidak ada darah, masukkanlah obat secara perlahan, jika terdapat darah tarik jarum sedikit keatas lalu kesamping

–       Bila sudah selesai tarikkah jarum dengan cepat

–       Spuit dan jarum bekas dipakai direndam dalam larutan desinfektan yang tersedia

–       Alat-alat dibereskan

–       Bantu klien menggunakan pakaian bawah, merapikan klien, pintu, jendela, sampiran dibuka

–       Amati keadaan klien, tanyakan hal yang dirasakan setelah suntikan diberikan

–       Catat: tanggal, jam, obat, dosis, cara pemberian, petugas yang memberi serta reaksi klien terhadap pemberian obat

–       Alat-alat dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya

–       Perawat mencuci tangan

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.

4.     Akhiri kegiatan

5.     Cuci tangan

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan.

KETERANGAN:

  • = Tidak dilakukan sama sekali
  • = Dilakukan tetapi tidak sempurna
  • = Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

PANDUAN KETRAMPILAN

 

JENIS KETRAMPILAN  : PEMBERIAN INJEKSI INTRA MUSCULER (IM)

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan alat

–       Bak instrumen injeksi

–       Spuit disposibel ukuran sesuai keperluan

–       Desinfektan/kapas alkohol

–       Jarum injeksi untuk keperluan oplos obat

–       Kasa steril

–       Obat yang dimasukkan sesuai etiket

–       Aquadest/aquabides

–       Buku catatan pengobatan klien

–       Perlak + pengalas kain

–       Bengkok

PEMBERIAN INJEKSI INTRA MUSCULER (IM)

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien/keluarga.

C.    Tahap Kerja

–       Baca daftar obat klien yang menyatakan nama obat, dosis & waktu pemberian

–       Ambil obat dari tempatnya, cek labelnya

–       Hitung dosis yg akan dipakai scr tepat

–       Mencuci tangan

–       Buka ampul/vial, jika vial buka penutupnya kemudian karet didesinfeksi dengan kapas alkohol. Jika ampul jentikkan ampul untuk menurunkan obat yang terjepit, leher ampul didesinfeksi dengan kapas alkohol kemudian dipatahkan dengan menggunakan kapas alkohol atau kassa

–       Ambil spuit dan jarum dari tempatnya dengan korentang

–       Jarum dipasang pd spuit/cek bila posisi jarum sdh benar/pas & tidak tersumbat

–       Bila obat dari vial maka spuit dimasuki udara lalu dimasukkan dalam vial

–       Isap obat sesuai dengan kebutuhan

–       Buka jarum dan ganti yang baru (jika obat vial) lalu letakkan di dalam bak injeksi yang telah disediakan

–       Kembalikan sisa obat pada tempatnya, tulis tangggal membuka vial /ampul/oplosing obat tersebut

–       Buanglah ampul kosong/vial & kotoran lain kedalam bengkok yg tersedia

–       Perawat mencuci tangan

–       Bawalah obat yang disiapkan dalam spuit dan masukkan kedalam bak injeksi kedekat klien, serta kapas alkohol dan daftar observasinya/ daftar suntikan obat

–       Sebelum obat diberikan, identifikasi klien, cek kembali intruksi pemberian obat, nama obat, dosis & waktu pada lembar observasi

–       Jelaskan tujuan dari tindakan

–       Pintu, jendela ditutup k/p pakai sampiran

–       Atur posisi klien sesuai dengan lokasi suntikan yang akan dilakukan

–       Tentukan lokasi suntikan dengan tepat pasang pengalas

–       Lakukan desinfeksi pada lokasi suntikan dengan kapas alkohol dgn cara memutar

–       Ambil spuit yang berisikan obat, pegang spuit dengan lubang jarum menghadap ke atas

–       Suntikkan obat dengan posisi 90 derajat

–       Lakukan test untuk mengetaui apakah jarum mengenai pembuluh darah, dengan cara menarik penghisap spuit, jika tidak ada darah, masukkanlah obat secara perlahan, jika terdapat darah tarik jarum sedikit keatas lalu kesamping lalu diaspirasi lagi

–       Bila sudah selesai tarikkah jarum dengan cepat

–       Spuit dan jarum bekas dipakai direndam dalam larutan desinfektan clorin 0,5% yang tersedia

–       Bantu klien menggunakan pakaian bawah merapihkan klien

–       Amati keadaan klien, tanyakan hal yang dirasakan setelah suntikan diberikan

–       Catat: tanggal, jam, obat, dosis, cara pemberian, petugas yang memberi serta reaksi klien terhadap pemberian obat

–       Alat-alat dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya. Pintu, jendela, sampiran dibuka

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.

4.     Akhiri kegiatan

5.     Cuci tangan

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan.

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

 

PANDUAN KETRAMPILAN

 

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN INJEKSI INTRA VENA (IV)

 

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan alat

–       Bak instrumen injeksi

–       Spuit disposibel uk. sesuai keperluan

–       Desinfektan/kapas alkohol

–       Jarum injeksi utk keprluan oplos obat

–       Kassa steril

–       Torniquet

–       Obat yg dimasukkan sesuai dgn etiket

–       Aquadest/aquabides

–       Buku catatan pengobatan klien

–       Perlak + pengalas kain

–       Bengkok

PEMBERIAN INJEKSI INTRA VENA (IV)

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien/keluarga.

C.    Tahap Kerja

–       Baca daftar obat klien yang menyatakan nama obat, dosis & waktu pemberian

–       Ambil obat dr tempatnya, cek labelnya

–       Hitung dosis yg akan dipakai scara tepat

–       Mencuci tangan

–       Buka ampul/vial, jika vial buka penutupnya kemudian karet didesinfeksi dgn kapas alkohol. Jika ampul jentikkan ampul untuk menurunkan obat yang terjepit, leher ampul didesinfeksi dgan kapas alkohol kemudian dipatahkan dgn menggunakan kapas alkohol / kassa

–       Ambil spuit dan jarum dari tempatnya dengan korentang

–       Jarum dipasang pda spuit/cek bila posisi jarum sdh benar pas & tidak tersumbat

–       Bila obat dari vial maka spuit dimasuki udara lalu dimasukkan dalam vial

–       Isap obat sesuai dengan kebutuhan

–       Buka jarum dan ganti yang baru (jika obat vial) lalu letakkan di dalam bak injeksi yang telah disediakan

–       Kembalikan sisa obat pada tempatnya, tulis tangggal membuka vial /ampul/oplosing obat tersebut

–       Buanglah ampul kosong/vial & kotoran lain kedalam bengkok yang tersedia

–       Perawat mencuci tangan

–       Bawalah obat yang disiapkan dalam spuit dan masukkan kedalam bak injeksi kedekat klien, serta kapas alkohol dan daftar observasinya/daftar suntikan obat

–       Sebelum obat diberikan identifikasi klien, cek kembali intruksi pemberian obat, nama obat, dosis & waktu pada lembar observasi

–       Jelaskan tujuan dari tindakan

–       Atur posisi klien sesuai dengan lokasi suntikan yang akan dilakukan

–       Tentukan lokasi suntikan dengan tepat pasang pengalas

–       Lakukan pembendungan dibagian atas daerah yg akandisuntik/pasang steuwing

–       Lakukan desinfeksi pada lokasi suntikan dgn kapas alkohol dengan cara memutar

–       Ambil spuit yang berisikan obat

–       Jarum ditusukkan kedalam pembuluh darah vena dengan sudut 45 derajat

–       Lakukan test untuk mengetahui apakah jarum sudah masuk pembuluh darah vena, dengan cara menarik penghisap spuit, bila berhasil darah akan masuk kedalam spuit mengalir sendiri. Bila tdk ada darah keluar, berarti tidak berhasil.

–       Bila berhasil, karet pembendung segera dibuka, obat dimasukkan perlahan-lahan sampai habis.

–       Bila sudah selesai tariklah jarum dengan cepat, bekas tusukan ditahan dengan kapas alkohol.

–       Spuit dan jarum bekas dipakai direndam dalam larutan desinfektan yang tersedia

–       Alat-alat dibereskan

–       Amati keadaan klien, tanyakan hal yang dirasakan setelah suntikan diberikan

–       Catat: tanggal, jam, obat, dosis, cara pemberian, petugas yang memberi serta reaksi klien terhadap pemberian obat

–       Alat-alat dibersihkan dan dikembalikan pada tempatnya. Pintu, jendela, sampiran dibuka

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.

4.     Akhiri kegiatan

5.     Cuci tangan

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan.

 

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

PANDUAN KETRAMPILAN

JENIS KETRAMPILAN              : MEMASANG INFUS

 

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan Alat

–       Cairan infus sesuai program medis

–       Selang infus (infus set)

–       Surflow (abocath)

–       Kapas alkohol 70%

–       Kassa steril dalam tromol

–       Bethadin 10% & kapas lidi steril

–       Korentang steril dalam tempat

–       Tourniquet

–       Sarung tangan bersih

–       Standart infus

–       Bengkok

MEMASANG INFUS

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan keperawatan dan catatan medis klien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Memberitahu pasien tentang prosedur yang akan dilaksanakan

3.     Memasang tabir sekeliling tempat tidur

C.    Tahap Kerja

·         Perawat mencuci tangan

·         Membuka infus set, kemudian klem dipindahkan ke bagian atas slang infus (ruang drip ditutup)

·         Menghubungkan infus set dan cairan infus dengan tetap menjaga sterilitas tempat dan penusukan pada botol cairan infus

·         Menggantung cairan infus pada standart infus (dengan ketinggian kurang lebih 1 m dari kepala pasien)

·         Mengisi ruang drip dengan cairan infus dengan cara menekan perlahan-lahan ruang drip hingga terisi setengah bagian

·         Mengisi selang infus dgn membuka klem dan memastikan bahwa tidak ada udara lagi dalam selang, kemudian menutup kembali klem

·         Memilih dan menyiapkan tempat vena punksi (dimulai dari vena bag. distal)

·         Mendilatasi vena yang akan dipunksi dengan cara: Memasang tourniquet kurang lebih 15-20 diatas tempat vena polesi ; jika cara tersbt. tidak berhasil, lakukan masage pada   vena yang akan punksi atau anjurkan pasien untuk melakukan gerakan kontraksi relaksasi otot tempat vena punksi

·         Memakai sarung tangan

·         Membersihkan kulit tempat vena punksi dengan cairan antiseptik (alkohol), kemudian larutan anti-infectif (bethadin) dengan gerakan melingkar dari pusat (dalam) keluar, kemudian tunggu hingga kering

·         Memasukkan kateter (surflow/abocat) dengan cara : menusukkan jarum kateter pada tempat vena punksi dengan sudut insersi antara 15-30 derajat; jika tampak darah pada lumen kateter, tarik jarum & masukkan/ dorong kateter kurang lebih 2,5 cm

·         Melepaskan torniquet

·         Menghubungkan kateter dan selang infus

·         Memfiksasi kateter (surflow/abocath) dengan plester

·         Mendesinfeksi tempat vena punksi dengan antiseptik (bethadin) kemudian menutup dengan steril

·         Melepas sarung tangan

·         Mengatur aliran infus (sesuai program medis)

·         Memberi label (tanggal dan jam pemasangan) pada tempat vena punksi (diatas kassa)

·         Merapikan klien

·         Membereskan alat

·         Perawat mencuci tangan

·         Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan.

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

PANDUAN KETRAMPILAN

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN OBAT ORAL

 

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan Alat

–       Baki berisi obat – obatan / kereta dorong obat (bergantung pada sarana yang ada)

–          Kartu atau buku rencana pengobatan

–          Mangkuk sekali pakai untuk tempat obat

–          Pemotong obat (jika diperlukan)

–          Martil dan lumpang penggerus (jika diperlukan)

–       Gelas pengukur (jika diperlukan)

–       Gelas dan air minum

–       Sedotan

–       Sendok

–       Pipet

–       Spuit sesuai ukuran mulut anak – anak

PEMBERIAN OBAT ORAL

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan medis klien dan daftar makanan/diet pasien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Memberitahu pasien   tentang hal yang akan dilakukan

3.     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin dengan posisi kepala lebih tinggi

C.    Tahap Kerja

–       Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral (kemampuan menelan, mual atau muntah, adanya program NPO / tahan makan dan minum, akan dilakukan penghisapan lambung, tidak terdapat bunyi usus)

–       Periksa kembali order pengobatan (nama klien, nama dan dosis obat, waktu dan cara pemberian), periksa tanggal kedaluwarsa obat. Jika ada keraguan pada order pengobatan, laporkan pada perawat berwenang atau dokter sesuai dengan kebijakan masing – masing institusi

–       Ambil obat sesuai keperluan (baca order pengobatan dan ambil obat di almari, rak, atau lemari es sesuai yang diperlukan)

–       Siapkan obat – obatan yang akan diberikan. Siapkan jumlah obat yang sesuai dengan dosis yang diperlukan tanpa mengontaminasi obat (gunakan teknik aseptik untuk menjaga kebersihan obat)

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%                                                          Pembimbing

 

(_________________________)

PANDUAN KETRAMPILAN

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN OBAT SECARA SUB LINGUAL

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan Alat

–       Baki berisi obat – obatan / kereta dorong obat (bergantung pada sarana yang ada)

–          Kartu atau buku rencana pengobatan

–          Mangkuk sekali pakai untuk tempat obat

–          Pemotong obat (jika diperlukan)

–          Martil dan lumpang penggerus (jika diperlukan)

PEMBERIAN OBAT SECARA SUB LINGUAL

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan medis klien dan daftar makanan/diet pasien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Memberitahu pasien   tentang hal yang akan dilakukan

3.     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin dengan posisi kepala lebih tinggi

 

C.    Tahap Kerja

–       Secara umum sama dengan pemberian obat per oral, yang perlu diperhatikan klien perlu diberi penjelasan untuk meletakkan obat di bawah lidah, obat tidak boleh ditelan, dan biarkan berada di bawah lidah sampai habis diabsorbsi seluruhnya

D.    Tahap Terminasi

1.     Evaluasi perasaan klien

2.     Simpulkan hasil kegiatan

3.     Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

 

 

 

 

 

 

 

JENIS KETRAMPILAN              : PEMBERIAN OBAT SECARA TOPIKAL

ASPEK YANG DINILAI NILAI
0 1 2
Persiapan Alat

–       Obat topikal sesuai yang dipesankan (krim, lotion, aerosol, bubuk, spray)

–       Buku obat

–       Kasa kecil steril (sesuai kebutuhan)

–       Sarung tangan sekali pakai / steril (jika perlu)

–       Lidi kapas atau sudip lidah

–       Baskom dengan air hangat, waslap, handuk, dan sabun basah

–       Kasa balutan, penutup plastik, dan plester (sesuai kebutuhan)

PEMBERIAN OBAT SECARA TOPIKAL

A.    Tahap Pre Interaksi

1.     Baca catatan medis klien dan daftar makanan/diet pasien

2.     Siapkan alat –alat dan privacy ruangan

3.     Cuci tangan

B.    Tahap Orientasi

1.     Berikan salam, panggil klien dengan namanya.

2.     Memberitahu pasien   tentang hal yang akan dilakukan

3.     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin dengan posisi kepala lebih tinggi

 

C.    Tahap Kerja

–       Cek order dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja, dan tempat pemberian obat

Memastikan bahwa obat tersebut akan diberikan dengan aman dan akurat

–       Cuci tangan

Mengurangi transmisi mikroorganisme

–       Atur peralatan di samping tempat tidur klien

Agens topikal biasanya tidak disiapkan di ruang obat

–       Tutup gorden atau pintu ruangan

Memberikan privasi pada klien

–       Identifikasi klien secara tepat

–       Memastikan bahwa klien yang benar menerima obat yang tepat

–       Posisikan klien dengan tepat dan nyaman, pastikan hanya membuka area yang akan diberikan obat

–       Memberikan kemudahan pada saat pengobatan dan menjaga privasi

–       Inspeksi kondisi kulit. Cuci area yang sakit, lepaskan semua debris dan kerak pada kulit (gunakan sabun basah ringan)

–       Menentukan perubahan kondisi kulit setelah terapi, dan pelepasan debris, meningkatkan penetrasi obat topikal pada kulit sehingga menghilangkan semua mikroorganisme

–       Keringkan atau biarkan area mengering

–       Kelembapan yang berlebihan dapat mempengaruhi daya kerja agens topikal

–       Jika kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agens topikal saat kulit masih basah

–       Mempertahankan kelembapan pada lapisan kulit

–       Gunakan sarung tangan jika terdapat indikasi

–       Sarung tangan steril digunakan bila obat diberikan pada lesi kulit terbuka dan tidak terinfeksi. Sarung tangan sekali pakai mencegah kontaminasi silang infeksi atau tertularnya lesi

–       Oleskan agens topikal:

a.     Krim, salep dan lotion yang mengandung minyak

–       Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh obat di obat telapak tangan kemudian lunakkan dengan menggosokkan obat secara lembut diantara kedua tangan

–       Pelunakan mempermudah kita menggosokkan obat pada kulit

–       Usapkan merata diatas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang searah pertumbuhan bulu

–       Memastikan penyebaran obat yang merata. Mencegah iritasi folikel rambut

–       Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian obat

–       Salep sering mengandung minyak

a.    Losion yang mengandung suspensi

–       Kocok wadah dengan kuat

–       Agar suspensi dapat tercampur dengan lunak

–       Oleskan sejumlah kecil lotion pada kasa balutan atau bantalan kecil dan oleskan pada kulit serta tekan secara merata searah pertumbuhan bulu

–       Metode ini memberikan lapisan bubuk pelindung pada kulit setelah suspensi mengering. Mencegahiritasi folikel rambut

–       Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa dingin dan kering

–       Air akan menguap untuk meninggalkan lapisan tipis bubuk

c.     Bubuk

–       Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh

–       Meminimalkan pengembangan dan pengerasan bubuk

–       Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit, seperti diantara ibu jari atau bagian bawah lengan

–       Memperlihatkan dengan baik permukaan kulit untuk pemberian obat

–       Bubuhkan secara tipis pada area yang bersangkutan

–       Lapisan tipis bubuk lebih mudah diserap dan mengurangi friksi dengan meningkatkan area kelembapan evaporasi

a.     Spray aerosol

–       Kocok wadah dengan keras

–       Mencampurkan isi agar distribusi spray halus

–       Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray menjauh area (biasanya 15 – 30 cm)

–       Jarak yang tepat memastikan bahwa semprotan halus menerpa permukaan kulit. Jika wadah dipegang terlalu dekat, distribusi semprotan akan sempit dan berair

–       Jika leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien untuk memalingkan wajah dari arah spray

–       Mencegah inhalasi spray

–       Semprotkan obat dengan merata pada bagian yang sakit (pada beberapa kasus, penyemprotan ditetapkan waktunya selama beberapa detik)

–       Keseluruhan area yang sakit pada kulit harus dilapisi dengan spray tipis

–       Tutup area kulit dengan balutan bila ada instruksi dokter

–       Dapat membantu mencegah obat terlepas dari kulit

–       Bantu klien pada posisi yang nyaman, kenakan kembali pakaian dan tutup dengan linen tempat tidut sesuai keinginan

–       Rapikan kembali peralatan yang masih dipakai, buang peralatan yang sudah tidak digunakan pada tempat yang sesuai

–       Cuci tangan

D.    Tahap Terminasi

–       Evaluasi perasaan klien

–       Simpulkan hasil kegiatan

–       Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

E.    Dokumentasi

Catat hasil perawatan didalam catatan keperawatan

KETERANGAN:

0= Tidak dilakukan sama sekali

1= Dilakukan tetapi tidak sempurna

2= Dilakukan dengan sempurna

Nilai Batas Lulus                      = 75%

Pembimbing

(_________________________)

Modul Perkuliahan Kode Etik Keperawatan

KODE ETIK KEPERAWATAN

oleh Ns. Apriyani Puji Hastuti

disampaikan pada perkuliahan mahasiswa tingkat I semester 2 Prodi Keperawatan Poltekkes Soepraoen Malang

Modul Kode Etik Keperawatan
Pokok Bahasan : Kode Etik Keperawatan
Capaian Pembelajaran :
1. Pengertian kode etik keperawatan
2. Makna dan kegunaan kode etik keperawatan
3. Kedudukan kode etik dalam system keperawatan (pendidikan, penelitian dan pelayanan keperawatan, organisasi keperawatan)
4. Kode etik keperawatan Indonesia
5. Kode etik ICN
6. Kode etik ANA

MATERI PEMBELAJARAN
Prinsip dalam etika keperawatan merupakan pijakan bagi setiap perawat yang tidak dapat terlepas dari kode etik keperawatan, baik itu kode etik keperawatan yang berlaku di Indonesia maupun internasional. Dalam menjalankan fungsinya sebagai salah satu tenaga kesehatan, perawat harus tahu tentang kode etik keperawatan terlebih lagi perawat merupakan suastu profesi yang salah satu cirinya adalah memiliki kode etik
1. PENGERTIAN KODE ETIK KEPERAWATAN
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan professional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi professional. Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Etik atau ethics berasal dari bahasa Yunani yang disebut ethos artinya kebiasaan, perilaku, karakter. Etik juga bisa bermakna suatu ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk secara moral.

2. MAKNA DAN KEGUNAAN KODE ETIK KEPERAWATAN
Manfaat kode etik keperawatan yang berlaku saat ini berfungsi sebagai landasan bagi status profesional dengan cara sebagai berikut :
1. Kode etik perawat menunjukkan kepada masyarakat bahwa perawat diharuskan memahami dan menerima kepercayaan dan tanggungjawab yang diberikan kepada perawat oleh masyarakat
2. Meenjadi pedoman bagi perawat untuk berperilaku dan menjalin hubungan keprofesian sebagai landasan dalam penerapan praktek etikal
3. Kode etik perawat menetapkan hubungan-hubungan profesional yang harus dipatuhi yaitu hubungan perawat dengan pasien / klien sebagai advokator, perawat dengan tenaga profesional kesehatan lain sebagai teman sejawat, dengan profesi keperawatan sebagai seorang kontributor dan dengan masyarakat sebagai perwakilan dari asuhan kesehatan
4. Kode etik perawat memberikan sarana pengaturan diri sebagai profesi.
3. KEDUDUKAN KODE ETIK DALAM SISTEM KEPERAWATAN
a. Kedudukan Keperawatan
1) Keperawatan adalah ilmu dan kiat sains terapan (applied science). Keperawatan bergerak di lapangan bukan di atas meja atau sekedar monitoring. Perannnya bersinggungan langsung dan berhubungan erat dengan pasien
2) Keperawatan adalah profesi yang berorientasi pada pelayanan helping health illness problem. Perawat membantu berbagai masalah yang diderita oleh pasien agar mendapatkan kesembuhan yang nyata.
3) Keperawatan mempunyai empat tingkat klien yaitu individu, keluarga, kelompok, dan komunitas
4) Pelayanan keperawatan mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan.
b. Wewenang Perawat dalam Pelayanan Kesehatan
1) Authority, wewenang untuk mempengaruhi proses asuhan melalui peran professional.
2) Akuntabilitas, wewenang dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan terhadap klien, diri sendiri, dan profesi. Perawat juga memiliki wewenang untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan asuhan.
3) Kolaborasi, wewenang untuk mengadakan hubungan kerja dan berbagai disiplin dalam mengakses masalah klien dan membantu klien menyelesaikannya.
4) Perawat juga memiliki wewenang untuk mengambil keputusan yang mandiri terhadap hal- hal tertentu yang diatur denga tegas menurut perarturan undang- undang dan organisasi profesi.
5) Para perawat memiliki wewenang untuk membela maupun memberikan dukungan (advocacy) terhadap klien.
6) Perawat juga memiliki wewenang fasilitasi yaitu mendesimalkan profesi dengan organisasi dan sistem keluarga dalam asuhan.
7) Perawat juga memiliki wewenang mendahulukan kepentingan kesehatan dari asyarakat yang bersifat humanis yaitu dengan pendekatan holistic dan dilaksanakan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berpegang pada standart pelayanan asuhan keperawatan, dan menggunakan kode etik keperawatan.
c. Kedudukan Perawat Sebagai Profesi
Profesi adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan badan ilmu sebagai dasar untuk pengembangan teori yang sistematis guna menghadapi banyak tantangan baru, memelukan pelatihan dan pendidikan yang cukup lama, serta memiliki kode etik dengan focus utama adalah pada pelayanan

4. PRINSIP KODE ETIK KEPERAWATAN
Prinsip-prinsip umum yang dirumuskan dalam suatu profesi akan berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan perbedaan adat, kebiasaan, kebudayaan, dan peranan tenaga ahli profesi yang didefinisikan dalam suatu negar tidak sama.
Adapun yang menjadi tujuan pokok dari rumusan etika yang dituangkan dalam kode etik (Code of conduct) profesi adalah:
a. Standar-standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab terhadap klien, institusi, dan masyarakat pada umumnya
b. Standar-standar etika membantu tenaga ahli profesi dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat kalau mereka menghadapi dilema-dilema etika dalam pekerjaan
c. Standar-standar etika membiarkan profesi menjaga reputasi atau nama dan fungsi-fungsi profesi dalam masyarakat melawan kelakuan-kelakuan yang jahat dari anggota-anggota tertentu
d. Standar-standar etika mencerminkan / membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas, dengan demikian standar-standar etika menjamin bahwa para anggota profesi akan menaati kitab UU etika (kode etik) profesi dalam pelayanannya
e. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi
f. Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya
Sesuai tujuan tersebut diatas, perawat diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan etika profesi secara terus menerus agar dapat menampung keinginan dan masalah baru dan mampu menurunkan etika profesi keperawatan kepada perawat-perawat muda. Disamping maksud tersebut, penting dalam meletakkan landasan filsafat keperawatan agar setiap perawat dapat memahami dan menyenangi profesinya.

5. KODE ETIK KEPERAWATAN DI INDONESIA
Berikut merupakan petikan keputusan Munas VI PPNI Nomor: 09/MUNAS VI/ PPNI/ 2000. Sebagai profesi yang turut menguahakan tercapainya kesejahteraan fisik, material dan mental spiritual untuk makkhluk insani dalam wilayah Republik Indonesia, maka kehidupan profesi keperawatan di Indonesia selalu bersumber kepada asalnya, yaitu kebutuhan masyarakat Indonesia akan pelayanan keperawatan.
Warga Negara di Indonesia menyadari bahwa kebutuhan akan keperawatan bersifat universal bagi klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat), sehingga pelayanan yang diberikan oleh perawat selalu berdasarkan kepada cita- cita yang luhur, niat yang murni untuk keselamatan dan kesejahteraan umat tanpa membedakan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama yang dianut serta kedudukan social.
Dalam melaksanakan tugas pelayanan keperawatan kepada klien, cakupan tanggung jawab perawat Indonesia adalah meningkatkan derajat kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, mengurangi dan menghilanga penderitaan serta memulihkan kesehatan dilaksanakan atas dasar pelayanan yang paripurna.
Dalam melaksanakan tugas professional yang berdaya guna dan berhasil guna, para perawat mampu dan ikhlas memberikan pelayanan yang bermutu dengan memelihara dan meningkatkan integritas pribadi yang luhur dengan ilmu dan ketrampilan yang memenuhi standart serta dengan kesadaran bahwa pelayanan yang diberikan merupakan bagian dari upaya kesehatan seecara menyeluruh.
Dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa, dalam melaksanakan tugas pengabdian untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan tanah air, PPNI menyadari bahwa perawat Indonesia yang berjiwa Pancasila dan berlandaskan UUD 1945 merasa terpanggil untuk menunaikan kewajiban dalam bidang keperawatan dengan penuh tanggung jawab, berpedoman kepada dasar seperti tertera dibawah ini:
a. Perawat dan Klien
1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien, dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama yang dianut serta kedudukan social.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari klien
3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan
4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
b. Perawat dan Praktek
1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang keperawatan melalui belajar terus menerus
2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran professional yang menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.
3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain
4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku professional
c. Perawat dan Masyarakat
1) Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.
d. Perawat dan Teman Sejawat
1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal.
e. Perawat dan Profesi
1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan
2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan
3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.

6. KODE ETIK KEPERAWATAN INTERNASIONAL
a. INTERNATIONAL COUNCIL OF NURSES (ICN)
Merupakan organisasi profesional wanita pertama didunia yang didirikan tanggal 1 Juli 1899 yang dimotori oleh Mrs. Bedford Fenwick. ICN merupakan federasi perhimpunan perawat nasional diseluruh dunia. ICN mengadakan kongres setiap 4 tahun sekali. Pusatnya di Geneva, switzerland. Dari seluruh organisasi keperawatan yang ada di dunia, organisasi ICN mempengaruhi hamper seluruh Negara di dunia artinya kode etik keperawatan yang dirumuskan oleh ICN diadopsi oleh kode etik keperawatan hamper seluruh Negara di dunia.
Tujuan pendirian ICN adalah memperkokoh silaturahmi para perawat diseluruh dunia, memberi kesempatan bertemu bagi perawat diseluruh dunia untuk membicarakan berbagai maslah tentang keperawatan, menjunjung tinggi peraturan dalam ICN agar dapat mencapai kemajuan dalam pelayanan, pendidikan keperawatan berdasarkan dan kode eik profesi keperawatan.
Kode etik keperawatan menurut ICN (1973) menegaskan bahwa keperawatan bersifat universal. Keperawatan menjunjung tinggi kehidupan, martabat dan hak asasi mnausia. Keperawatan tidak dibatasi oleh perbedaan kebangsaan, ras, warna kuliut, usia, jenis kelamin, aliran politik, agama, dan status sosial.

Uraian Kode etik diuraikan sebagai berikut:
1) Tanggung jawab utama perawat.
Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan tanggung jawab utam tersebut , perawat harus meyakini bahwa:
a. Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai tempat perawatan adalah sama
b. Pelaksanaan praktik keperawatan dititik beratkan pada penghargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
c. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan/atau keperawatan kepada individu,keluarga,kelompok ,dan masyarakat,perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.
2) Perawat, Individu, dan Anggota kelompok Masyarakat.
Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas , perawat perlu meningkatkan keadaan lingkungan kesehatan dengan menghargai nilai-nilai yang ada di masyarakat ,menghargai adat kebiasaan serta kepercayaan individu,keluarga,kelompok,, dan masyarakat yang menjadi pasien/kliennya. Perawat dapat memegang teguh rahasia pribadi (privasi ) dan hanya dapat memberikan keterangan bila diperlukan oleh pihak yang berkepentingan atau pengadilan.
3) Perawat dan Pelaksana Praktik keperawatan
Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standar praktik keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai dengan standar pendidikan keperawatan. Perawat dapat mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya secara aktif untuk menopang perannya dalam situasi tertentu. Perawat sebagai anggota profesi , setiap saat dapat mempertahankan sikap sesuai dengan standart profesi keperawatan.
4) Perawat dan Lingkungan Masyarakat
Perawat dapat memprakarsai pembaharuan , tanggap ,mempunyai inisiatif, dan dapat berperan serta secara aktif dalam menemukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

5) Perawat dan sejawat
Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman sekerja, baik tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain di luar keperawatan. Perawat dapat melindungi dan menjamin seseorang, bila dalam masa perawatannya merasa terancam.
6) Perawat dan Profesi keperawatan
Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan standar praktik keperawatan dan pendidikan keperawatan. Perawat dihaapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuan dalam menopang pelaksanaan perawatan secara profesional. Perawat sebagai anggota oraganisasi profesi, berpartisipasi adalam memelihara kestabilan sosial dan ekonomi sesuai dengan kondisi pelaksanaan praktik keperawatan.

b. AMERICAN NURSES ASSOCIATION (ANA)
ANA adalah organisasi profesi perawat di Amerika Serikat. Didirikan pada akhir tahun 1800 yang anggotanya terdiri dari organisasi perawat dari negara-negara bagian. ANA berperan dlm menetapkan standar praktek keperawatan, melakukan penelitian untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan serta menampilkan profil keperawatan profesional dengan pemberlakukan legislasi keperawatan.
Kode etik keperawatan menurut ANA adalah sebagai berikut:
1. Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan – pertimbangan status sosial atau ekonomi, atribut personal, atau corak masalah kesehatannya.
2. Perawat melindungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang bersifat rahasia
3. Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh praktik seseorang yang tidak berkompeten , tidak etis atau ilegal.
4. Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatn yang dijalankan masing-masing individu.
5. Perawat memelihara kompetensi keperawatan.
6. Perawat melaksanakan pertimbangan yang beralasan dan menggunakan kompetensi dan kualifikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima tanggung jawab dan melimpahkan kegiatan keperawatan ke[ada orang lain.
7. Perawat turut serta beraktifitas dalam membantu pengembangan pengetahuan profesi.
8. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan standar keperawatan.
9. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi kerja yang mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas.
10. Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.
11. Perawat bekerja sama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat lainnya dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kesehatan publik.

c. CANADIAN NURSES ASSOCIATION (CNA)
CNA adalah asosiasi perawat nasional di Kanada. Mempunyai tujuan yang sama dengan ANA yaitu membuat standar praktek keperawatan, mengusahakan peningkatan standar praktek keperawatan, mendukung peningkatan profesionalisasi keperawatan dan meningkatkan kesejahteraan perawat. CNA juga berperan aktif meningkatkan mutu pendidikan keperawatan, pemberian izin bagi praktek keperawatan mandiri.

d. NATIONAL LEAGUE FOR NURSING (NLN)
NLN adalah suatu organisasi terbuka untuk semua orang yang berkaitan dengan keperawatan meliputi perawat, non perawat seperti asisten perawat (pekarya) dan agencies. Didirikan pada tahun 1952. Bertujuan untuk membantu pengembangan dan peningkatan mutu pelayanan keperawatan dan pendidikan keperawatan.

e. BRITISH NURSES ASSOCIATION (BNA)
BNA adalah asosiasi perawat nasional di Inggris. Didirikan pada tahun 1887 oleh Mrs. Fernwick. Bertujuan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan seluruh perawat di inggris dan berusaha memperoleh pengakuan terhadap profesi keperawatan.

7. ORGANISASI PROFESI KEPERAWATAN DI INDONESIA
Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka seagai individu.
CIRI-CIRI ORGANISASI PROFESI
Menurut Prof. DR. Azrul Azwar, MPH (1998), ada 3 ciri organisasi sebagai berikut :
1. Umumnya untuk satu profesi hanya terdapat satu organisasi profesi yang para anggotanya berasal dari satu profesi, dalam arti telah menyelesaikan pendidikan dengan dasar ilmu yang sama
2. Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik dan kompetensi profesi serta memperjuangkan otonomi profesi
3. Kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta meurmuskan standar pelayanan profesi, standar pendidikan dan pelatihan profesi serta menetapkan kebijakan profesi
PERAN ORGANISASI PROFESI
1. Pembina, pengembang dan pengawas terhadap mutu pendidikan keperawatan
2. Pembina, pengembang dan pengawas terhadap pelayanan keperawatan
3. Pembina serta pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan
4. Pembina, pengembang dan pengawas kehidupan profesi

FUNGSI ORGANISASI PROFESI
1. Bidang pendidikan keperawatan
a. Menetapkan standar pendidikan keperawatan
b. Mengembangkan pendidikan keperawatan berjenjang lanjut
2. Bidang pelayanan keperawatan
a. Menetapkan standar profesi keperawatan
b. Memberikan izin praktik
c. Memberikan regsitrasi tenaga keperawatan
d. Menyusun dan memberlakukan kode etik keperawatan
3. Bidang IPTEK
a. Merencanakan, melaksanakan dan mengawasai riset keperawatan
b. Merencanakan, melaksanakan dan mengawasi perkembangan IPTEK dalam keperawatan
4. Bidang kehidupan profesi
a. Membina, mengawasi organisasi profesi
b. Membina kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, profesi lain dan antar anggota
c. Membina kerjasama dengan organisasi profei sejenis dengan negara lain
d. Membina, mengupayakan dan mengawasi kesejahteraan anggota
MANFAAT ORGANISASI PROFESI
Menurut Breckon (1989) manfat organisasi profesi mencakup 4 hal yaitu :
a. Mengembangkan dan memajukan profesi
b. Menertibkan dan memperluas ruang gerak profesi
c. Menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi
d. Memberikan kesempatan pada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi

8. ETIKA DALAM KEPERAWATAN
a. Tanggung jawab Keperawatan
Tanggung jawab menunjukkan kewajiban. Ini mengarah kepada kewajiban yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara professional. Manajer dan para staf harus memahami dengan jelas tentang fungsi tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing perawat serta hasil yang ingin dicapai dan bagaimana mengukur kualitas kinerja stafnya. Perawat yang professional akan bertanggung jawab atas semua bentuk tindakan klinis keperawatan atau kebidanan yang dilakukan dalam lingkup tugasnya.
Tanggung jawab diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kinerja yang ditampilkan guna memperoleh hasil pelayanan keperawatan yang berkualitas tinggi. Yang perlu diperhatikan dari pelaksanaan tanggung jawab adalah memahami secara jelas tentang uraian tugas dan spesifikasinya serta dapat dicapai berdasarkan standar yang berlaku atau yang disepakati. Hal ini berarti perawat mempunyai tanggung jawab yang dilandasi oleh komitmen, dimana mereka harus bekerja sesuai fungsi tugas yang dibebankan kepadanya tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kese¬hatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan tanggung jawab utama tersebut, perawat harus meyakini bahwa:
1. Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai ternpat
2. Pelaksanaan praktik keperawatan dititik beratkan pada peng¬hargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjun¬jung tinggi hak asasi manusia
3. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan atau kepera¬watan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.
4. Nilai-nilai Keperawatan
Pada tahun 1985, “The American Association Colleges of Nursing” melaksanakan suatu proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi nilai-nilai keperawatan. Perkumpulan ini mengidentifikasikan nilai-nilai keperawatan, yaitu:
a. Aesthetics (keindahan)
Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas dan kepedulian.
b. Altruism (mengutamakan orang lain)
Kesediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan atau kebidanan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati serta ketekunan.
c. Equality (kesetaraan)
Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan dengan sikap asertif, kejujuran, harga diri dan toleransi

d. Freedom (Kebebasan)
Memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk percaya diri, harapan, disiplin serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri.
e. Human dignity (Martabat manusia)
Berhubungan dengan penghargaan yang lekat terhadap martabat manusia sebagai individu termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan, pertimbangan dan penghargaan penuh terhadap kepercayaan.
f. Justice (Keadilan)
Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal termasuk objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.
g. Truth (Kebenaran)
Menerima kenyataan dan realita, termasuk akontabilitas, kejujuran, keunikan dan reflektifitas yang rasional.

JENIS TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab (Responsibility) perawat dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Responsibility to God (tanggung jawab utama terhadap Tuhannya)
2. Responsibility to Client and Society (tanggung jawab terhadap klien dan masyarakat)
3. Tanggung Jawab Perawat terhadap Tugas
4. Responsibility to Colleague and Supervisor (tanggung jawab terhadap rekan sejawat dan atasan)
5. Tanggung Jawab Perawat terhadap Profesi
6. Tanggung Jawab Perawat terhadap Negara
7. Tanggung jawab perawat terhadap Tuhannya saat merawat klien
Dalam sudut pandang etika Normatif, tanggung jawab perawat yang paling utama adalah tanggung jawab di hadapan Tuhannya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran dan hati akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Tuhan.
8. Tanggung Jawab Perawat terhadap Klien
Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, atau komunitas, perawat sangat memerlukan etika keperawatan yang merupakan filsafat yang mengarahkan tanggung jawab moral yang mendasar terhadap pelaksanaan praktik keperawatan, dimana inti dari falsafah tersebut adalah hak dan martabat manusia.
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, diperlukan peraturan tentang hubungan antara perawat dengan masyarakat, yaitu sebagai berikut :
a. Perawat, dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan terhadap keperawatan individu, keluarga, dan masyarakat.
b. Perawat, dalam melaksanakan pengabdian dibidang keperawatan, memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adapt istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga, dan masyarakat.
c. Perawat, dalam melaksanakan kewajibannya terhadap individu, keluarga, dan masyarakat, senantiasa diladasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan tradisi luhur keperawatan.
d. Perawat menjalin hubungan kerjasama dengan individu, keluarga, dan masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya kesehatan, serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat
9. Tanggung Jawab Perawat terhadap Tugas
a. Perawat memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
b. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas yang diprcayakan kepadanya, kecuali jika diperlukan oleh pihak yang berwenang sesuai denagan ketentuan hokum yang berlaku.
c. Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang dimilikinya untuk tujuan yang bertentangan dengan norma-norma kemanusian.
d. Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya, senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama yang dianut, dan kedudukan sosial.
e. Perawat mengutamakan perlindungan dan keselamatan pasien atau klien dalam melaksaakan tugas keerawatannya, serta matang dalam mempertimbangkan kemempuan jika menerima atau mengalih-tugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya dengan kaperawatan.
10. Tanggung Jawab Perawat terhadap Sejawat
Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain adalah sebagai berikut :
a. Perawat memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
b. Perawat menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya kepada sesame perawat, serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
11. Tanggung Jawab Perawat terhadap Profesi
a. Perawat berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara sendiri-sendiri dan bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan keperawatan.
b. Perawat menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan menunjukan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur.
c. Perawat berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelayanan keperawatan, serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan.
d. Perawat secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.
12. Tanggung Jawab Perawat terhadap Negara
a. Perawat melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
b. Perawat berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat.
TANGGUNG GUGAT (ACCOUNTABILITY)
Tanggung Gugat dapat diartikan sebagai bentuk partisipasi perawat dalam membuat suatu keputusan dan belajar dengan keputusan itu konsekuensi-konsekunsinya. Perawat hendaknya memiliki tanggung gugat artinya bila ada pihak yang menggugat ia menyatakan siap dan berani menghadapinya. Terutama yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan profesinya. Perawat harus mampu untuk menjelaskan kegiatan atau tindakan yang dilakukannya. Hal ini bisa dijelaskan dengan mengajukan tiga pertanyaan berikut :
1. Kepada siap tanggung gugat itu ditujukan?
Sebagai tenaga perawat kesehatan prawat memiliki tanggung gugat terhadap klien, sedangkan sebagai pekerja atau karyawan perawat memilki tanggung jawab terhadap direktur, sebagai profesional perawat memilki tanggung gugat terhadap ikatan profesi dan sebagai anggota team kesehatan perawat memiliki tanggung gugat terhadap ketua tim biasanya dokter sebagai contoh perawat memberikan injeksi terhadap klien.
Injeksi ditentukan berdasarkan advis dan kolaborasi dengan dokter, perawat membuat daftar biaya dari tindakan dan pengobatan yang diberikan yang harus dibayarkan ke pihak rumah sakit. Dalam contoh tersebut perawat memiliki tanggung gugat terhadap klien, dokter, RS dan profesinya.
2. Apa saja dari perawat yang dikenakan tanggung gugat?
Perawat memilki tanggung gugat dari seluruh kegitan professional yang dilakukannya mulai dari mengganti laken, pemberian obat sampai persiapan pulang. Hal ini bisa diobservasi atau diukur kinerjanya.
3. Dengan kriteria apa saja tangung gugat perawat diukur baik buruknya?
Ikatan perawat, PPNI atau Asosiasi perawat atau Asosiasi Rumah sakit telah menyusun standar yang memiliki krirteria-kriteria tertentu dengan cara membandingkan apa-apa yang dikerjakan perawat dengan standar yang tercantum.baik itu dalam input, proses atau outputnya. Misalnya apakah perawat mencuci tangan sesuai standar melalui 5 tahap yaitu. Mencuci kuku, telapak tangan, punggung tangan, pakai sabun di air mengalir selama 3 kali dsb.

HUBUNGAN ETIKA DENGAN PRAKTEK KEPERAWATAN
Aplikasi dalam praktek klinis bagi perawat diperlukan untuk menempatkan etika, nilai-nilai dan perilaku kesehatan pada posisinya. Perawat bisa menjadi sangat frustrasi bila membimbing atau memberikan konsultasi kepada pasien yang mempunyai nilai-nilai dan perilaku kesehatan yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pasien kurang memperhatikan status kesehatannya. Pertama-tama yang dilakukan oleh perawat adalah berusaha membantu pasien untuk mengidentifikasi etika dan nilai-nilai dasar kehidupannya sendiri.
Perawat memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang berkualitas berdasarkan standar perilaku etika yang etis dalam praktek asuhan keperawatan. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat mencoba dan mencontoh perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah etika. Dalam hal ini, perawat seringkali menggunakan dua pendekatan yaitu :
1. Pendekatan berdasarkan Prinsip
Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam etika untuk menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika antara lain :
a. Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas otonomi setiap orang
b. Menghindarkan berbuat suatu kesalahan
c. Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala konsekuensinya
d. Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi.
2. Pendekatan berdasarkan Auhan Keperawatan.
Ketidakpuasan yang timbul dalam pendekatan berdasarkan prinsip dalam etika mengarahkan banyak perawat untuk memandang “care” atau asuhan sebagai fondasi dan kewajiban. Hubungan perawat dengan pasien merupakan pusat pendekatan berdasarkan asuhan, dimana memberikan langsung perhatian khusus kepada pasien, sebagaimana dilakukan sepanjang kehidupannya sebagai perawat. Perspektif asuhan memberikan arah dengan cara bagaimana perawat dapat membagi waktu untuk dapat duduk bersama dengan pasien, merupakan suatu kewajaran yang dapat membahagiakan bila diterapkan berdasarkan etika.
Karakteristik perspektif dari asuhan menurut Taylor (1993) meliputi :
1. Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan
2. Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau pasien sebagai manusia
3. Mau mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain sebagai dasar yang mengarah pada tanggung jawab profesional
4. Mengingat kembali arti tanggung jawab moral yang meliputi kebajikan seperti: kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasih sayang, dan menerima kenyataan.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa etika dalam praktek keperawatan sangat berhubungan penting sebagai dasar atau landsasan yang mengatur bagaimana cara perawat melakukan asuhan keperawatan berdasarakan etika keperawatan agar dapat melakukan sesuai konsep dan teori keperawatan.

PELANGGARAN TERHADAP KODE ETIK PERAWAT
1. Malpraktek yang meliputi ethical malpraktek dan juridical malpraktek
Malpraktek hokum (juridical malpraktek) dibagi dalam 3 hal sesuai dengan bidang hokum yang dilanggar yaitu:
a. Kriminal malpraktek
Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act merupakan tindakan tercela)
Dilakukan dengan sikap batin yang salah yang berupa kesengajaan misalnya euthanasia, membuka rahasia jabatan, membuat surat keterangan palsu, melakukan aborsi tanpa indikasi medis, kecerobohan atau kelalaian yang mengakibatkan pasien cedera.
b. Civil malpraktek
Tipe malpraktek dimana tenaga kesehatan karena penangannya dapat mengakibatkan pasien meninggal atau terluka tetapi dalam waktu yang sama tidak melakukan hokum pidana.
Misalnya tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan; melakukan menurut kesepakatan namun terlambat melakukannya; melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna; melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak harus dilakukan.
c. Administrative malpraktek
Melanggar hukum administrasif apabila orang tersebut telah melanggar hukum administrative.
Beberapa situasi yang berpotensi menimbulkan tindakan kelalaian dalam keperawatan diantaranya yaitu:
1. Kesalahan dalam pemberian obat
2. Mengabaikan keluhan pasien
3. Kesalahan mengidentifikasi masalah pasien
4. Kelalaian di ruang operasi
5. Timbulnya kasus decubitus selama dalam perawatan
6. Kelalaian terhadap keamanan dan keselamatan pasien

KESIMPULAN
1. Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan, yaitu menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat.
2. Kode etik keperawatan Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia, melalui Munas PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989. Kode etik tersebut terdiri atas limat bab dan 16 pasal.
3. Secara umum tujuan etika keperawatan yaitu menciptakan dan mempertahankan kepercayaan antara perawat dan lien, perawat dan perawat juga antara perawat dan masyarakat.
4. Menyampaikan perhatian dan rasa hormat kepada klien, bila perawat terpaksa menunda pelayanan maka perawat bersedia memberikan penjelasan dengan ramah terhadap kliennya. Menunjukan kepada klien sikap menghargai, berbicara kepada klien yang berorientasi terhadap perasaan klien.
5. Tanggung jawab seorang perawat adalah suatu tindakan yang dilakukan seorang perawat yang dapat dipertanggung jawabkan. Tanggung jawab itu langsung atau tidak langsung. Tanggung jawab bersifat langsung apabila si pelaku sendiri bertanggung jawab atas perbuatannya. Biasanya akan terjadi demikian tapi kadang-kadang orang bertanggung jawab secara tidak langsung. Sedangkan tanggung gugat adalah dapat menjawab segala hal yang berhubungan dengan tindakan seseorang. Agar dapat bertanggung gugat perawat harus bertindak berdasarkan kode etik profesinya.
6. Perawat hendaknya memiliki tanggung gugat artinya bila ada pihak yang menggugat ia menyatakan siap dan berani menghadapinya. Terutama yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan profesinya. Perawat harus mampu untuk menjelaskan kegiatan atau tindakan yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin. 2000. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: Rineka Cipta

Ismani, Nila. 2001. Etik Keperawatan. Jakarta: Widya Medika

Putri, Trikaloka H. dan Achmad Fanani. 2011. Etika Profesi Keperawatan. Yogyakarta: Citra pustaka.

PPNI. 2000. Kode Etik Keperawatan Lambang Panji PPNI dan Ikrar Keperawatan. Jakarta: Pengurus Pusat PPNI.

Potter, Patricia A. (2005). Fundamental of Nursing: Concepts, Proses adn Practice 1st Edition. Jakarta: EGC.

http://addy1571.files.wordpress.com/2008/12/tanggung-jawab-dan-tanggung-gugat-perawat-dalam-sudut-pandan.pdf

http://radencoddooth.blogspot.com/2011/05/kode-etik-keperawatan.html

KONSEP PROSES KEPERAWATAN

KONSEP PROSES KEPERAWATAN

Oleh: Apriyani Puji Hastuti, S.Kep Ns

 

Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan, hal ini disebut sebagai suatu pendekatan untuk memecahkan masalah (problem solving) yang memerlukan ilmu, teknik, dan ketrampilan interpersonel yang bertujun untuk memenuhi kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat. Proses keperawatan terdiri atas lima tahap yang berurutan dan saling berhubungan yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Lyer et al. 1996). Tahap- tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi intelektual problem solving dalam mendefinisikan suatu asuhan keperawatan.

  1. Sejarah

Proses keperawatan merupakan lima tahap yang konsisten sesuai perkembangan profesi keprawatan. Tahap tersebut pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955). Pada tahun 1967, Yura dan Walsh menjabarkan menjadi  tahap yaitu pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pada tahun yang sama, edisi pertama proses keperawatan dipublikasikan dalam empat tahap yang meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pada pertengahan tahun 1970 an, Bloch (1974)Roy (1975) Mudinger dan Jauron (1975) serta Aspinall (1976_ menambahkan tahap diagnosis pada proses keperawatan sehingga menjadi lima tahap yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi. saat ini proses keperawtan dianggap sebagai dasar dalam praktek keperawatan. Pada tahun 1973, American Nursing Association (ANA) meggunakan proses keperawatan sebagai pedoman dalam pengembangan standart praktek keperawatan yang digunakan sebagai suatu kerangka konsep kurikulum pendidikan keperawatan. Di Indonesia, definisi dan tahap—tahap proses keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan definisi dan standart legal praktek keerawatan dan juga kritera dalam program sertifikasi. Kurikulum pendidikan keperawatan pada setiap jenjang pendidikan (D3, S1, s2, maupun s3) saat ini telah menggunakan proses keperawatan sebagai kerangka kerjanya.

 

  1. Definisi

Definisi proses keperawatan secara umum dapat dibedakan menjadi:

  1. Tujuan

Tujuan proses keperawatan secara umum adalah untuk menyusun kerangka konsep berdasarkan keadaan indidividu (klien), keluarga dan masyarakat agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Yura dan Walsh (1983) menyatakan proses keperawatan adalah suatu tahapan desain tindakan yang ditujuakan untuk memenuhi tujuan keperawatan yang meliputi mempertahankan keadaan kesehatan klien yang optimal, apabila keadaanya berubah menjadi suatu kuantitas dan kualitas asuhan keperawatan terhadap kondisinya guna kembali ke keadaan yang abnormal. Jika kesehatan yang optimal tidak dapat tercapai, proses keperawatan harus dapat memfasilitasi kualitas kehidupan  yang maksimal berdasarkan keadaanya untuk mencapai derajat kehidupan yang lebih tinggi selama hidupnya (Lyer, 1996)

  1. Organisasi

Seperti yang tejabarkan sebelumnya, proses keperawatan dikelompokkan menjadi lima tahap yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi. kelima tahap tersebut sebagai organisasi yang mengelola proses keperawatan secara sistematik dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.

  1. Properti

Proses keperawatan mempunyai 6 karakteristik yaitu tujuan, sistematis, dinamik, interaktif, fleksibel dan teoritis.

 

  1. Tujuan Proses Keperawatan

Proses keperawatan mempunyai tujuan yang jelas melaui suatu tahapan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan keperawatan kepada klien.

  1. Sistematis

Proses keperawatan menggunakan suatu pendekatan yang terorganisasi untuk mencapai tujuan. Hal ini untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan menghindari masalah yang bertentangan dengan tujuan instansi pelayanan kesehatan.

  1. Dinamik

Proses keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan klien dilaksanakan secara berkesinambungan. Proses tersebut ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dengan klien.

  1. Interaktif

Dasar hubungannya adalah hubungan timbal balik antar perawat perawat, klien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.

  1. Fleksibel

Proses keperawatan dapat dilihat dua konteks yaitu (1) dapat diadopsi pada praktek keperawatan dalam situasi apapun dengan spesialisasi yang berhubungan dengan klien, keluraga atau masyarakat (kelompok) dan (2) tahapannya dapat digunakan secara berurutandan dengan persetujuan keduabelah phak (perawat dan klien)

  1. Teoritis

Setiap langkah proses keperawatan selalu didasarkan pada ilmu yang luas khususnya ilmu dan model keperawatan yang berlandaskan pada filosofi keperawatan bahwa asuhan keperawatan kepada klien harus menekankan pada 3 aspek (1) humanistik): asuhan keperawatan memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia dan bahkan sebagai perawat (2) holistik: asuhan keperawatan harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh (bio-psiko-sosio-spiritual) dan (3) care: asuhan keperawatan harus berlandaskan pada standart praktek keperawatan dan kode etik keperawatan.

 

  1. Dampak

Penerapan proses keperawatan mempunyai impliasi atau dampak terhadap:

  1. Profesi

Secara profesional, proses keperawatanmenyajikan suatu lingkup praktek keperawatan. Praktek keperawatan mencakup standart praktek keperawatan. Standat tersebut diadopsi dan diterbitkan oleh American Nursing Association (ANA) pada tahun 1973. Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan standart keperawatan tanpa melihat dimana ia bekerja dan apa spesialisasinya. Di Indonesia pelaksanaan standart praktek keperawatamm juga telah diatur dalam perarturan pemerintah melalui Undang- Undang Kesehatan di Indonesia (Depkes, 1992) dan akan PERMENKES no 647 tahun 2000 tentang Praktek Keperawatan Profesional di Indonesia.  

  1. Klien

Penggunaan proses keperawatan sangat bermanfaat bagi klien, keluarga dan masyarakat karena mendorong mereka untuk berpartisipasi secara aktif dengan melibatkan mereka ke dalam tahapannya. Klien menyediakan sumber untuk pengkajian, validasi diagnosis keperawatan dan menyediakan umpan balik untuk evaluasi. perencanaan keperawatan yang telah tersusun dengan baik akan memungkinkan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secaa kontinu, aman dan menciptakan lingkungan yang terapeutik. Keadaan tersebut akan membantu mempercepat kesembuhan klien dan memungkinkan klien untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ada.

  1. Perawat

Proses keperawatan akan meningkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesional. Peningkatan hubungan antara perawat dengan klien dapat dilakukan melalui penerapan proses keperawatan. Proses keperawatan memungkinkan suatu pengembangan kreativitas dalam menjelaskan masalah klien. Hal ini akan mencegah kejenuhan perawat dalam melakukan pekerjaan yang bersifat rutinitas serta mencegah perawat untuk melakukan pendekatan yang berorientasi tergadap tugaas (task-oriented approach)

TEORI- TEORI YANG MENDASARI PROSES KEPERAWATAN

  1. Teori Sistem

Teori sistem merupakan suatu kerngka kerja yangberhubungan dengan keseluruhan aspek sosial manusia, struktur, masalah- masalah organisasi serta perubahan hubungan internal dan lingkungan di sekitarnya. Sistem tersebut terdiri atas tujuan, proses dan isi. Tujuan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan sehingga tujuan dapat memberikan arah pada sistem. Proses berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai. Isi terdiri atas bagian yang membentuk suatu sistem.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Teori Kebutuhan Manusia

Teri ini memandang bahwa manusaia sebagai bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam motivasinya untuk memenuhi kebutuhan dasar (fisiologis, keamanan, kasih saying, harga diri dan aktualisasi diri). Setiap kebutuhan merupakan suatu “tegangan internal” sebagai akibat dari perubahan setiap komponen system. Teganngan tersebut dimanifestasikan dalam perilaku untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sampai terpenuhinya tingkat kepuasan klien.

Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan suatu bagian dimana penerapan proses keperawatan selalu difokuskan pada kebutuhan individu yang unik dan sebagai bagain integral dari keluarga dan masyarakat. Keseimbangan antar kebutuhan tersebut menjadi tanggungjawab dari setiap orang. Misalnya tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah memenuhi kebutuhan dasar anak tersebut. Demikian juga tanggung jawab perawat yaitu memberikan dukungan, memfasilitasi dan mengkomunikasikan kepada klien, baik yang sehat maupun sakit, untuk membantu memenuhi kebutuhan dasarnya. Peran tersebut dapat dilaksanakan secara optimal melalui pendekatan proses keperawatan.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

  1. Teori persepsi

Terjadinya perubahan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu. Setiap manusia selalu berubah kebutuhan dan kepuasannya berdasarkan perubahan yang sangat unik. Akibatnya, setiap perubahan yang terjadi persepsinya akan selalu berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Perbedaan tersebut membawa konsekuensi masalah keperawatan. Sebagaimana diketahui persepsi sangat berhubungan dengan system neurologis dan persepsi yang tidak selalu tergantung dari belajar dan pengalaman. Day mengatakan bahwa persepsi dapat dipelajari dari variable lingkungan fisiologis proses dan interaksi serta kejadian- kejadian pada perilaku.

Terjadinya interaksi antara orang dengan lingkungnannya dilaksanakan oleh reseptor energy sensitive. Karakteristik stimulasi harus ditransformasikan dalam suatu transmisi ke tingkat yang lebih tinggi pada system saraf pusat sebelum interaksi dan dalam pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan respon adaptif.

Untuk memahami arti persepsi, seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan situasi yang mempunyai makna bai kita. Makna merupakan kerangka penjabaran dari persepsi, ingatan dan tindakan. Oleh karena itu persepsi memegang peranan penting dalam kehidupan secara umum dimana kita dapat mengumpulkan data dari ini tentang diri sendiri, kebutuhan manusia serta lingkungan di sekitar kita.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Teori informasi dan komunikasi

Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengidentifikasi masalah klien. Apakah klien dalam keadaan sehat atau sakit. Proses keperawatan sebagai salah satu pendekatan utama dalam pemberian asuhan keperawatan pada dasarnya merupakan suatu proses pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah. Setelah penerapan proses keperawatan, perawat dituntut mempunyai pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar dalam mengartikan data yang diperoleh seta menjalin komunikasi yang efektif. Pengetahuan tersebut meliputi kemampuan perawat tentang cara memperoleh data atau fakta, menyeleksi dan memproses informasi dan memutuskan suatu asuhan keperawatan berdasarkan data yang diperoleh. Tahapan tersebut adalah menentukan prioritas masalah, mencari alternative intervensi serta memilih dan melaksanakan hasil alternative yang telah ditentukan, proses keperawatan merupakan sutau siklus karena memerlukan suatu modifikasi pengkajian ulang perencanaan ulang, memperbarui intervensi dan mengevaluasi ulang. Oleh karena itu setiap langkah dalam proses keperawatan diperlukan data yang akurat. Hal ini akan dapat tercapai jika perawat mampu menjalin komunikasi yang baik.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

  1. Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah

Setiap tindakan yang dilakukan secara rasional oleh seseorang selalu melibatkan keputusan atau pilihan. Setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut seseorang untuk dapat menerima hal yang baru, perbedaan dan aspek- aspek yang lebih kompleks dari lingkungan yang sudah ada. Oleh sebab itu, setiap kesenjangan adalah suatu masalah dan masalah tersebut memerlukan jawaban serta solusi yang tepat.

Tujuan penerapan proses keperawatan dalam meberikan asuhan keperawatan kepada klien adalah untuk menyelesaikan masalah. Proses keperawatan juga dapat dipergunakan untuk menyusun suatu intervensi yang bertujuan megubah situasi yang lebih kondusif dalam membantu mempercepat menyelesaikan masalah klien yang sangat kompleks. Melalu ipendekatan proses keperawatan masalah- masalah dapat diidentifikasi secara tepat dan pengambilan keputusannya dapat dilaksanakan dengan akurat.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERBANDINGAN ANTARA PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN PROSES KEPERAWATAN

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

PROSES KEPERAWATAN

Pengumpulan data

Pengkajian:

–          Pengumpulan data

–          Interpretasi

Identifikasi masalah

Diagnosis keperawatan

Perencanaan:

–          Penentuan tujuan

–          Identifikasi solusi

Perencanaan :

–          Penentuan tujuan

–          Rencana tindakan

Implementasi

Implementasi

Evaluasi dan revisi proses

Evaluasi dan modifikasi

 

 

 

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

PENGEMBANGAN TENAGA KEPERAWATAN

PENGEMBANGAN KETENAGAAN KEPERAWATAN

 

  1. Konsep pengembangan staf

Pada umumnya program pengembangan staf ditujukan untuk meningkatkan kompetensi pekerja.

Komponen yang mempengaruhi:

  1. Interest

Adalah factor dimana dengan jalan menarik perhatian individu untuk melihat suatu obyek

  1. Education need

Adalah kebutuhan yang dapat dilihat dan diukur dengan jalan membandingkan kompetensi pekerjaan seseorang dengan kompetensi tertentu yang diharapkan dalam pekerjaan

  1. Informasi learning

Adalah perubahan perilaku baik kogniif maupun psikomotor sebagai respon dari stimulais yang dilakukan oleh guru.

  1. Tujuan
    1. Mengurangi “turn over” dengan meningkatnya rasa profesionalisme
    2. Mengingkatkan produktivitas prganisasi
    3. Menstimulasi aspirasi tingkat tinggi pada pekerja bawahan
    4. Menggerakkan pekerjaan teknikal kea rah praktek professional.

 

  1. PRINSIP DAN PROGRAM
    1. Tanggung  jawab pendidikan berkelanjutan atau professional development terletak pada staf/pekerja sendiri
    2. Pendidikan dan pelatihan à kombinasi antara teori dengan pengalaman à situasi belajar mandiri à informasi dan ketrampilan
    3. Pendidikan dan latihan adalah proses internal, personal dan emosional à metode dan teknik harus mengikutsertakan individu secara pribadi.
    4. Pendidikan akan membuat perubahan perilaku à sulit dicapai à terencana dan berkesinambungan
    5. Proses pembelajaran oorang dewasa à tidak boleh menggunakan metode otoriter à keikutsertaan staf diutamakan
    6. Materi pengajaran lebih suka aplikasi à metode problem base learning lebih cocok
    7. Hal yang paling disukai adalah reward à hal- hal yang positif à langsung diberikan
    8. Kecenderungan situasi belajar yang terintegrasi
    9. Situasi nyata à case study yang sesuai dengan pekerjaan
    10. Support organisasi à perubahan perilaku dan menyiapkan situasi kerja setelah pelatihan
    11. Belajar à fenomena yang aktif à penugasan dengan petunjuk yang terarah à efektif
    12. Peserta heterogen à berbagai metode belajar dan menggunakan media yang memberikan kepuuasan kepada peserta didik.

KUNCI UTAMA yang merupakan kondisi dasar dari “adult learning” (Dolplin 1983) adalah

  1. Motivasi
  2. Minat
  3. Transfer, menerima dan mengingat kembali
  4. Penampilan dan umpan balik

 

  1. AKTIFITAS PENGEMBANGAN STAF

Aktivitas meliputi semua training dan program pendidikan à meningkatkan penampilan kerja dan pengetahuan, ketrampilan

Aktifitas tersebut antara lain:

  1. Induction training

Adalah indoktrinasi singkat yang terstandart à 2- 3 hari untuk menjelaskan tujuan program, perarturan organisasi

  1. Orientasi

Adalah training individu yang ditujukan pada staf yang baru masuk

  1. Inservice training

Termasuk instruksi tentang pekerjaan yang harus dilakukan untuk penampilan kerja petugas

  1. Continuing education à sekolah, pelatihan
  2. CARA MENDISAIN
    1. Pengkajian
      1. Menentukan populasi untuk siapa program dilakukan
      2. Mempelajari karakteristik calon peserta didik
      3. Mempelajari kecenderungan perubahan- perubahan lingkungan
      4. Menanyakan pada calon peserta à wawancara langsung apa yang mereka perlukan à survey dari sampel populasi
      5. Input narasumber
  3. Perencanaan
    1. Menentukan tujuan
    2. Menjelaskan secara obyektif cara untuk mencapai tujuan
    3. Membuat strategi pengajran yang berhubungan dengan tujuan
    4. Merencanakan kriteria evaluasi
  4. Implementasi
    1. Mempelajari rencana yang telah dibuat
    2. Menyiapkan struktur untuk pelaksanaan rencana
    3. Memberikan pengajaran sesuai dengan rencana
    4. Meemberikan feedback dan penilaian dalam pembelajaran
  5. Evaluasi
    1. Menyusun informasi tentang penampilan kerja
    2. Mengukur hasil dibandingkan dengan tujuan dan kompetensi yang diharapkan
    3. Memberikan feedback untuk pengkajian kebutuhan selanjutnya

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

 

Definisi

Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumberdaya manusia, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia (Notoatmojo, 1998)

Pendidikan (formal) adalah suatu proses pengembangan kea rah yang diinginkan oleh organisasi yang bersangkutan

Pelatihan dibidang keperawatan merupakan salah satu kegiatan pengembangan staf yang bertujuan untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia (perawat) (Gillies, 1996)

Pelatihan adalah pendidikan untuk memperoleh kemahiran atau kecakapan yang menurut kamus besar bahasa Indonesia bertujuan untuk membiasakan diri agar mampu melakukan sesuatu. Untuk mencari prestasi yang baik diperlukan latihan yang terus menerus dan secara continue

Pelatihan adalah merupakan bagian dari suatu proses pendidikan yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan khusus seseorang atau kelompok orang

Pelatihan adalah proses membantu pegawai- pegawai untuk memperoleh efektifitas dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan fikiran dan tindakan kecakapan, pengetahuan dan sikap

Perbedaan pendidikan dan pelatihan

No

Uraian

Pendidikan

Pelatihan

1

Pengembangan kemampuan

Menyeluruh (overall)

Mengkhususkan (spesifik)

2

Area kemampuan

Kognitif, afektif, psikomotor

Psikomotor

3

Jangka waktu pelaksanaan

Panjang

Pendek

4

Materi yang diberikan

Lebih umum

Lebih khusus

5

Penekanan penggunaan metode belajar mengajar

Konvensional

Inkonvensional

6

Penghargaan akhir proses

Gelar (degree)

Sertifikat (non degree)

 

EFEK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

  1. Individu à meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan
  2. Organisasi à investasi

PENTINGNYA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BAGI INDIVIDU

 

  1. Mengembangkan pemimpin untuk memperoleh efektifitas pekerjaan perseorangan yang lebih besar
  2. Hubungan antar manusia dalam organisasi yang lebih baik
  3. Meningkatnya kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya

 

PENTINGNYA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BAGI ORGANISASI

  1. Penyesuaian kemampuan dalam jabatan
  2. Meningkatkan produktivitas kerja bagi karyawan
  3. Efektifitas dan efisiensi kerja

 

KOMPONEN- KOMPONEN PELATIHAN

  1. Tujuan dan sasaran pelatihan harus dapat diukur
  2. Pelatih (traineers) harus memiliki kualifikasi yang memadai
  3. Materi pelatihan harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai
  4. Metode pelatihan harus sesuai dengan tingkat kemampuan peserta pelatihan
  5. Peserta pelatihan harus memenuhi harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan

 

TUJUAN PELATIHAN

  1. Meningkatkan penghayatan jiwa dan ideology
  2. Meningkatkan produktivitas kerja
  3. Meningkatkan kualitas kerja
  4. Meningkatkan ketetapan perencanaan sumber daya manusia
  5. Meningkatkan sikap moral dan semangat kerja
  6. Meningkatkan rangsangan agar pegawai mampu berprestasi secara maksimal
  7. Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja
  8. Menghindarkan keusangan (obsolescence)
  9. Meningkatkan perkembangan pegawai

 

FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN

  1. Perbedaan individu pegawai
  2. Hubungan dengan analisa pekerjaan
  3. Motivasi
  4. Partisipasi aktif
  5. Seleksi peserta pelatihan
  6. Metode pelatihan

 

KESIMPULAN:

Program pengembangan ketenagaan harus ditunjang oleh tim akreditasi sehingga semua perencanaan tujuan, perarturan ketenagaan serta penampilan kerja staf perlu dipantau dan dikendalikan sesuai perarturan akreditasi rumah sakit.

MANAJEMEN WAKTU DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

MANAJEMEN WAKTU

DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

Oleh: Ns. Apriyani Puji Hastuti, S.Kep

 

 

 

Latar Belakang

Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan. Keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan organisasi, tergantung kepada seluruh komponen yang terlibat didalamnya, yang berinteraksi secara timbal balik untuk mencapai tujuan organisasi. 

 

Dalam suatu rumah sakit, keberhasilan organisasi ini mencapai tujuan salah satunya ditentukan oleh pelayanan keperawatan. Dengan pelayanan keperawatan yang terorganisir dengan baik maka diharapkan dapat memberikan pelayanan keperawatan yang prima yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan..

 

Dewasa ini, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dibidang keperawatan, maka tuntutan profesionalisme semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan beban kerja staf keperawatan yang semakin tinggi sementara waktu kerja sangat terbatas. Sehubungan dengan hal tersebut maka pengelolaan waktu dalam pelayanan keperawatan khususnya di rumah sakit adalah penting sekali

 

Tujuan Manajemen Waktu dalam Pelayanan Keperawatan

Efektifitas pelayanan keperawatan sangat ditentukan oleh kemampuan seorang manajer dalam melakukan pengelolaan yang tepat tentang penggunaan waktu kerja. Adapun tujuan manajemen waktu dalam pelayanan keperawatan adalah melakukan perencanaan dan pengorganisasian waktu secara efektif yang memungkinkan terselenggaranya asuhan keperawatan langsung kepada klien (meliputi : pengkajian, keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi asuhan), pendokumentasian, konsultasi dan kolaborasi, proses transasksi, transportasi, administrasi, pelayanan departemen lain, dan lain-lain.

 

Prinsip Dasar Manajemen Waktu

Untuk dapat mengelola waktu dengan tepat, maka diperlukan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar manajemen waktu agar lebih berhasil dan berdaya guna. Berikut ini prinsip dasar manajemen waktu yang penting diperhatikan :

  1. Sediakan waktu untuk perencanaan dan menetapkan prioritas
  2. Selesaikan tugas berprioritas tinggi sesegera mungkin dan tuntaskan tugas sebelum mulai tugas yang lain.
  3. Prioritaskan kembali tugas yang tersisa berdasarkan informasi baru yang terkait.

 

Tiga kategori prioritas waktu

  1. Jangan dikerjakan
  2. Kerjakan Nanti
  3. Kerjakan Sekarang

 

Tabel 1 Kategori Prioritas Waktu

 

NO

Kategori Prioritas Waktu

Kategori

Karakteristik

1.

Jangan Dikerjakan

  • Masalah dapat hilang tanpa diatasi
  • Sudah kedaluarsa
  • Dapat dikerjakan oleh orang lain

2.

Dikerjakan Nanti

  • Tidak disertai jatuh tempo
  • Dapat ditunda
  • Dapat diperlambat

 

Alasan penundaan tugas :

ü  Tidak ingin memulai

ü  Tidak tahu dari mana memulai

ü  Tidak tahu dari mana memulai meskipun ingin memulai

3.

Dikerjakan Sekarang

  • Kebutuhan unit operasional harian
  • Kegiatan-kegiatan yang telah ditunda, misal :

ü  Kebutuhan staf

ü  Kebutuhan peralatan

ü  rapat

 

 

B.   Faktor Penghambat Manajemen Waktu Efektif
  1. Prokrastinasi (Menunda pekerjaan)
  • Menulis laporan (sulit) > < membuka e-mail / data komputer (mudah)
    • Deadline membuat frustasi dan menghambat penyelesaian tugas > < Deadline menolong menyusun rencana dan prioritas daftar yang akan dikerjakan.
    • Bekerja baik dibawah tekanan waktu > < banyak waktu diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

 

  1. 2.    Perfeksionis
  • Ditumbuhkan sejak dini (sejak sekolah)
  • Dapat mengarah ke prokrastinasi, oleh karena : takut salah dan cenderung mengerjakan tugas secara berulang-ulang
  • Dapat dicegah dengan menyusun standar kerja

 

  1. Tidak Mampu membuat prioritas
  • Tidak bisa ‘memboboti’ / menilai pekerjaan : lama, urgensi (segera atau nanti) dan berat – ringannya pekerjaan.
  • Tidak bisa menyusun berbagai pekerjaan secara sistematis
  • Dapat diminimalisir dengan cara menetapkan kategori pekerjaan yaitu berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya.

 

Disamping faktor penghambat, manajemen waktu efektif juga dapat berhubungan dengan ‘penyitaan’ waktu yang dapat menghambat produktifitas kerja. ‘Penyita’ waktu dapat terjadi secara internal maupun eksternal sebagai berikut :

  1. 1.    Penyita Waktu secara Internal
  • Sifat suka menunda pekerjaan
  • Perencanaan kurang baik
  • Gagal menetapkan tujuan dan sasaran
  • Tidak mampu mendelegasikan
  • Tidak mampu mengatakan tidak
  • Terlalu banyak ‘krisis’
  • Terburu-buru
  • Ragu-ragu / tidak pasti
  • Kebijakan pintu terbuka

 

  1. 2.    Penyita Waktu Secara Eksternal
  • Telepon
  • Sosialisasi
  • Rapat-rapat
  • Kurang informasi
  • Komunikasi terbatas
  • Kurang umpan balik
  • Kurang adekuat penjelasan kebijakan / prosedur
  • Bawahan tidak kompeten
  • Sistem penyimpanan informasi jelek
  • Kertas kerja dan membaca

 

C.   Teknik Mengelola Waktu

1.      Komitmen pribadi untuk perbaikan

  1. Memutuskan apa yang tidak perlu dikerjakan
  2. Belajar mengatakan tidak
  3. Mencatat bagaimana waktu digunakan
  4. Merencanakan penggunaan waktu
  5. Menghindari pemicu penggunaan waktu yang tidak efektif
  6. Kenali waktu utama dari diri sendiri
  7. Buat program blok waktu
  8. Mengatur ruang kerja
  9. Buat catatan untuk diri sendiri : “Patut dibaca” atau “Tidak Perlu”
    1. Menghambat gangguan waktu kerja (misal : tamu tiba-tiba) dengan mengoptimalkan waktu utama.
    2. Mengatur pertemuan :
  • Mulai tepat waktu
  • Berakhir tepat waktu
  • Buat agenda dan bagikan
  • Kehadiran hanya yang diperlukan
  • Kumpulkan informasi sebelum pertemuan
  • Tepati agenda dan hindari interupsi
  •  Batasi jumlah waktu untuk agenda tertentu
  • Atur lingkungan
  • Hal-hal yang membutuhkan komunikasi satu arah, di ketik dan dibagikan
  • Hasil rapat dibagikan tidak terlalu lama sesudah rapat.
  1. Mengatur orang dengan pendelegasian yang tepat
  2. Menghindari penyita waktu

 

D.   ‘Tips’ Manajemen Waktu Efektif
  1. Buat ‘log’ waktu (harian, mingguan, bulanan)
  2. Berfokus pada ‘segera mulai’ sambil memperhitungkan tujuan yang akan dicapai
    1. Antisipasi hal-hal yang tidak terencana
    2. Mengorganisasikan pekerjaan tulis menulis :
  • Yang perlu dipasang atau dibuang
  • Kebijakan / peraturan mudah terlihat
  • Setiap lembar kerja hanya ditangani sekali
  1. Gunakan sumber-sumber dengan bijaksana
  • IPTEK dapat meningkatkan komunikasi
  • Manual, standar prosedur tidak dimasukkan dalam komputer
  • Informasi rutin dimasukkan kedalam buku atau komputer
  • Gunakan waktu yang ada hanya untuk tatap muka
  1. Menganggap positif dan memperhatikan kebutuhan personal
  • Untuk rileks, luangkan waktu untuk jalan-jalan
  • Untuk ‘space’ di antara pekerjaan
  1. Belajar mengatakan ‘tidak’
  • Tidak merasa bersalah jika menolak pekerjaan ekstra
    • Berprinsip menambah pekerjaan jika pekerjaan yang ada bisa dikurangi
    • Pilih pertemuan yang harus dihadiri (misal : pengambilan keputusan, atau kepentingan yang lebih luas)
  1. Lakukan pertemuan efektif
  • Buat agenda dan patuhi agenda
  • Tepat waktu untuk mulai dan akhir
  • Tidak ada atau hindari interupsi
  1. Mulai dan Akhiri waktu kerja secara tepat waktu
  • Prioritaskan tugas setiap hari
  • Tidak terlalu ‘perfek’ dalam menyelesaikan tugas
  • Tidak membuang-buang waktu sehingga membawa pekerjaan ke rumah

 

E.    Penutup

Profesionalisme kerja dapat dimulai dengan cara bagaimana mengelola waktu secara efektif. Seorang manajer yang efektif adalah seorang manajer yang tahu dan mampu bagaimana merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan secara tepat sehingga dapat mencapai hasil kerja yang memuaskan baik bagi pelaku maupun pengguna jasa. Dalam bidang pelayanan keperawatan, oleh karena beban kerja perawat yang tinggi dan jumlah waktu yang terbatas, maka pengelolaan waktu yang efektif sangat diperlukan agar dapat meningkatkan kualitas kerja perawatan yang pada akhirnya dapat memberikan kepuasan bagi klien dan perawat sendiri.

 

 

 

 

 

Latihan : 1                             Mendiagnosa Anda dan Waktu Anda

No

Pertanyaan

Sering

Kadang2

Jarang

1.

Apakah saudara menangani satu kertas kerja untuk satu waktu ?

 

 

 

2.

Apakah saudara memulai dan mengakhiri kegiatan tepat waktu ?

 

 

 

3.

Apakah orang lain tahu waktu terbaik menemui saudara?

 

 

 

4.

Apakah saudara mengerjakan sesuatu setiap hari yang mengarahkan saudara pada tujuan jangka panjang saudara ?

 

 

 

5.

Jika saudara menghadapi interupsi pekerjaan, dapatkah saudara kembali ke pekerjaan semula tanpa kehilangan momentum ?

 

 

 

6.

Apakah saudara menanggapi penelpon yang panjang dengan efektif ?

 

 

 

7.

Apakah saudara berfokus pada pencegahan masalah dari pada menyelesaikan masalah ?

 

 

 

8.

Apakah saudara mencapai deadline dengan waktu yang masih tersisa ?

 

 

 

9.

Apakah saudara tepat waktu untuk bekerja, untuk pertemuan dan untuk kegiatan lain ?

 

 

 

10.

Apakah saudara mendelegasikan tugas dengan baik ?

 

 

 

11.

Apakah saudara menulis daftar kegiatan harian setiap hari ?

 

 

 

12.

Apakah saudara menyelesaikan semua kegiatan yang terdaftar ?

 

 

 

13.

Apakah saudara memperbaruhi tujuan pribadi dan tujuan profesional secara tertulis ?

 

 

 

14.

Apakah meja saudara bersih dan terorganisir ?

 

 

 

15.

Dapatkah saudara menemukan hal-hal yang diperlukan dalam file saudara dengan mudah ?

 

 

 

 

Diagnosalah diri saudara, ‘seberapa efektifkah saya’ dengan cara :

Jawaban sering x 4

Jawaban kadang-kadang x 2

Jawaban jarang x 0

Nilai : ³ 49                 : Terorganisir dan mampu mengendalikan waktu

Nilai : < 49 – 24        : Orientasi waktu (monokronik), satu pekerjaan satu waktu

Nilai : £ 24                 : Frustrasi dan disorganisasi

Latihan 2                   Susunlah ‘Log’  Waktu Harian Saudara (Daily Log)

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 3                               Susunlah ‘log’ waktu kerja harian saudara

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 4                               Susunlah ‘Log’ Waktu Kerja Mingguan Saudara

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 5                               Susunlah ‘Log’ Waktu Kerja Bulanan Saudara

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi Keperawatan

Pendokumentasian dilakukan setelah pelaksanaan setiap tahap proses keperawatan keluarga dilakukan dan disesuaikan urutan waktu.Adapun manfaat dari pendokumentasian diantaranya sebagai alat komunikasi antar anggota tim kesehatan lainnya, sebagai dokumen resmi dalam sistem pelayanan kesehatan, sebagai alat pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien(Effendi, 1995).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendokumentasian menurut Potter dan Perry dalam Nur salam(2001), memberikan panduan sebagai petunjuk cara pendokumentasian dengan benar yaitu :

1.    Jangan menghapus dengan tipe -x atau mencoret tulisan yang salah. Cara yang benar adalah dengan membuat satu garis pada tulisan yang salah, tulis kata “salah” lalu diparaf kemudian tulis catatan yang benar.

2.    Jangan menulis komentar yang bersifat mengkritik klien ataupun tenaga kesehatan lain. Tulislah hanya uraian obyektif perilaku klien dan tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

3.    Koreksi kesalahan sesegera mungkin.

4.    Catat hanya fakta catatan harus akurat dan realible.

5.    Jangan biarkan pada catatan akhir perawat kosong.

6.    Semua catatan harus dapat dibaca, ditulis dengan tinta dan menggunakan bahasa yang lugas.

7.    Catat hanya untuk diri sendiri karena perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas informasi yang ditulisnya.

8.    Hindari penulisan yang bersifat umum. Tulisan harus lengkap, singkat, padat dan obyektif.

9.    Mulailah mencatat dokumentasi dengan waktu dan diakhiri dengan tanda tangan.

Dengan demikian dokumentasi keperawatan harus bersifat obyektif, akurat dan
menggambarkan keadaan klien serta apa yang terjadi pada diri klien. Sehingga
apabila diperlukan, dokumentasi ini dapat menunjukkan bahwa perawat telah
mencatat dengan benar dan tidak bertentangan dengan kebijakan atau peraturan
institusi pemberi pelayanan kesehatan

Dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian atau aktivitas yang otentik dengan mempertahankan catatan-catatan yang tertulis. Manfaat dokumentasi menurut Allen (1998) antara lain:

  • Sebagai wahana komunikasi antar tim keperawatan dan dengan tim kesehatan lain
  • Sebagai bagian yang permanen dari rekaman medik.
  • Sebagian dokumen yang legal dan dapat diterima di pengadilan.

Tueng (1996) menambahkan, dengan:

  • Untuk menghindari pemutarbalikan fakta.
  • Untuk mencegah kehilangan informasi.
  • Agar dapat dipelajari perawat lain.

Prinsip-prinsip dokumentasi menurut AIlen (1998), yaitu:

  • Tersedia format untuk dokumentasi.
  • Dokumentasi dilakukan oleh orang yang melakukan tindakan atau mengobservasi langsung.
  • Dokumentasi dibuat segera setelah melakukan tindakan.
  • Catatan dibuat kronologis.
  • Penulisan singkatan dilakukan secara umum.
  • Mencantumkan tanggal, waktu tanda tangan, dan inisial penulis.
  • Dokumentasi akurat, benar, komplit jelas, dapat dibaca dan ditulis dengan tinta.
  • Tidak dibenarkan menghapus tulisan pada catatan menggunakan tip-ex. penghapus tinta atau bahan lainnya.

Sistem pencatatan keperawatan dapat mempergunakan bermacam­-macam tipe format (Allen, 1998):

  • Lembar pengkajian

Lembar pengkajian dengan jelas menggambarkan data-data yang perlu dikurnpulkan, perawat tinggal mengisi data sesuai dengan yang tercantum dalam lembar pengkajian

  • Catatan perawat berbentuk narasi

Deskripsi informasi klien dalam bentuk naratif.

  • Catatan bentuk SOAP

Pancatatan    SOAP    digunakan dengan catatan  medik  yang berorientasi pada masalah klien (Problem Oriented Medical Record) yang menggambarkan kemajuan klien yang terus menerus ke arah resolusi masalah. Pencatatan SOAP terdiri dari empat bagian, yaitu data subyektif, data obyektif, analisis data dan rencana. Data subyektif ditulis dalam tanda kutip tentang keluhan klien yang dicatat yaitu data yang dapat dilihat,didengar dan dirasa oleh perawat; analisis dilakukan megintepretasikan data subyektif dan obyektif, kemajuan kearah diagnosa keperawatan yang dicatat. Planning dilakukan dengan mencatat rencana untuk mengatasi masalah yang dianalisa.

  • Catatan Fokus

Perawat mencatat masalah berfokus pada masalah yang spesifik yang terdiri dari komponen diagnosa keperawatan, data subyektif dan obyektif yang mendukung, tindakan keperawatan, respon klien terhadap intervensi keperawatan dan penyuluhan.

  • Grafik dan Flow sheet

Catatan flow sheet dan grafik menggambarkan data berulang klien yang harus senantiasa dipantau oleh perawat, seperti nadi, tekanan darah, obat-obatan, masukan dan pengeluaran.Pelayanan keperawatan/kebidanan merupakan pelayanan profesional dari pelayanan kesehatan yang tersedia selama 24 jam secara berkelanjutan selama masa perawatan pasien. Dengan demikian, pelayanan keperawatan dan kebidanan memegang peranan penting dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas
pelayanan di rumah sakit dan puskesmas. Dokumentasi keperawatan dan kebidanan tidak hanya merupakan dokumen sah tapi juga instrumen untuk melindungi para pasien, perawat dan bidan secara sah; oleh karena itu, perawat/bidan diharapkan dapat bekerja sesuai dengan standar profesional. 

PENGERTIAN

Dokumen adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum“. Sedangkan pendokumentasian adalah pekerjaan mencatat atau merekam peristiwa dan objek maupun aktifitas pemberian jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting (Tungpalan ,1983).

Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan adalah bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat dan bidan setelah memberi asuhan kepada pasien.Dokumentasi merupakan suatu informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien, kegiatan asuhan keperawatan/kebidanan serta respons pasien terhadap asuhan yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi keperawatan/ kebidanan mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasien yang menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama asuhan dilaksanakan.Disamping itu catatan juga dapat sebagai wahana komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk dipertanggungjawabkan. Dokumentasi asuhan keperawatan/kebidanan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan/kebidanan yang dilaksanakan sesuai standar.

Dengan demikian pemahaman dan ketrampilan dalam menerapkan standar dengan baik merupakan suatu hal yang mutlak bagi setiap tenaga keperawatan/kebidanan agar mampu membuat dokumentasi keperawatan/kebidanan secara baik dan benar.

PENDOKUMENTASIAN

 Catatan pasien merupakan suatu dokumen yang legal, dari status sehat sakit pasien pada saat lampau, sekarang, dalam bentuk tulisan, yang menggambarkan asuhan keperawatan/kebidanan yang diberikan. Umumnya catatan pasien berisi imformasi yang mengidentifikasi masalah, diagnosa keperawatan dan medik, respons pasen terhadap asuhan kerawatan/kebidanan yang diberikan dan respons terhadap pengobatan serta berisi beberapa rencana untuk intervensi lebih lanjutan.Keberadaan dokumentasi baik berbentuk catatan maupun laporan akan sangat membantu komunikasi antara sesama perawat/ bidan maupun disiplin ilmu lain dalam rencana pengobatan.

KOMPONEN MODEL DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Kegiatan konsep pendokumentasian meliputi :

1. Komunikasi

Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang, dan yang akan dikerjakan oleh perawat.

2. Dokumentasi proses keperawatan

Pencatatan proses keperawatan merupakan metode yang tepat umtuk pengambilan keputusan yang sistematis, problem solving, dan riset lebih lanjut. Dokumentasi proses keperawatan mencakup pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, dan tindakan. Perawat kemudian Mengobservasi dan mengevaluasi respon klien terhadap tindakan yang diberikan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada tenaga kesehatan lainnya.

3. Standar dokumentasi

Perawat memerlukan sesuatu keterampilan untuk memenuhi standar dokumentasi. Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dan kwantitas dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuat dalam suatu situasi tertentu. Standar dokumentasi berguna untuk memperkuat pola pencatatan dan sebagai petunjuk atau pedoman praktik pendokumentasian dalam memberikan tindakan keperawatan.

TUJUAN UTAMA DOKUMENTASI

Tujuan utama dari pendokumentasian adalah :

  1. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien,merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan, dan mengevaluasi tindakan.
  2. Dokumentasi untuk penelitian, keuangan, hukum dan etika.

MANFAAT DAN PENTINGNYA DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Dokumentasi keperawatan mempunyai makna yang penting bila dilihat dari berbagai aspek :

  1. Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi kepoerawatan, dimana perawat sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa, maka dokumentasi diperlukan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.
  2. Jaminan mutu (kualitas pelayanan). Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu yankep.
  3. Komunikasi,  Dokumentasi keadaan klien merupakan alat perekam terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan.
  4. Keuangan,  Semua tindakan keperawatann yang belum, sedang, dan telah diberikan dicatat dengan lengkap dan dapat digumakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.
  5. Pendidikan,  Isi pendokumentasian menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.
  6. Penelitian,  Data yang terdapat di dalam dokumentasi keperawatan mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.
  7. Akreditasi,  Melalui dokumentasi keperawatan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi keperawatan dalam memberikan askep pada jklien. Dengan demikian dapat diambil kesimoulan tingkat keberhasilan pemeberian askep yang diberikan, guna pembinaan lebih lanjut.

METODE DOKUMETASI PENGKAJIAN

Dokumentasi pengkajian dirtujukan pada data klinik dimana perawat dapat mengumpulkan dan mengorganisisr dalam catatan kesehatan. Format pengkajian meliputi data dasar, flowsheet dan catatan perkembangan lainnyayang memungkinkan seagai alat komuniksi bagi tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya.

Petunjuk penulisan pengkajian:

1.  Gunakan format yang sistematis untuk mencatat pengkajian yang meliputi :

  • Riwayat pasien masuk rumah sakit
  • Respon klien yang berhubungan dengan persepsi kesehatan klien
  • Riwayat pengobatan
  • Data pasien rujukan, pulang dan keuangan
  1. Gunakan format yang telah tersususn untuk pencatatan pengkajianPendekatan :

*        mayor body system

*        Sistem respirasi

*        Sistem kardiovaskular

*        Sistem persarafan

*        Sistem perkemihan

*        Sistem pencernaan

  1. Kelompokkan data-data berdasarkan model pendekatan yang digunakan (seperti tabel diatas)
  2. Tulis data objektif tanpa bias (tanpa mengartikan), menilai memasukkan pendapat pribadi.
  3. Sertakan pernyataan yang mendukung interpretasi data objektif.
  4. Jelaskan oervasi dan temuan secara sistematis, termasuk devinisi karakteristiknya
  5. Ikuti aturan atauran atau prosedur yang dipakai dan disepakati instansi
  6. Tuliskan ecara jelas dan singkat

PENDOKUMENTASIAN DIAGNOSA KEPERAWATAN.

Petunjuk untuk penulisan diagnosa keperawatan meliputi :

1.   Pemakaian PE dan PES : untuk format diagnosa aktual, kecuali ketika petugas yang berbeda mengambil tindakan segera (untuk contoh, tanda dan gejala pencatatan, sebelum dan sesudah diagnosa)

a.    Yakinkan masalah pengyeab utama dalam diagnosa sejalan dengan etiologi, contoh : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhuungan dengan mual dan muntah.

b.    Tulis pernyataan supaya permasalahan dan etiologi menunjukkan spesifik dan hasil yang berbeda

c.     Jika penyebab tidak dapat ditentukan menentukan problem dan dokumentasi yang tak dikenal etiologinya maka diagnosa keperawatan bisa dituliskan pernyataan komunikasi verbal untuk pasien yang tidak diketahui etiologinya

2. Catat diagnosa keperawatan potensial dalam sebuah problem/format etiologi

3. Pemakaian terminologi tetap dengan diagosa keperawatan karangan Nanda sehuungan dengan (diantara problem dan etiologi ) dan dibanding dengan (diantara etiologi, sign dan sympton) tergantung bahasa, jika masalah tidak selesai menurut nanda

4 .Merujuk pada daftar yang dapat diterima, bentuk diagnosa keperawatan untuk catatan standar dalam saku atau ringkasan

5. Mulai pernyataan diagnosa dengan menguabah redaksinya ke dalam keadaan diagnosa keperawatan

6. Pastikan data mayor dan penunjang data minor karakteristik pendefinisian diperoleh dokumentasi abgian pengkajian pasien untuk menegakkan diagnosa keperawatan

7. Pernyataan awal dalam perencanaan keperawatan didaftar masalah dan nama dokumentasi dalam catatan perawatan. Pemakaian masing-masing diagnosa keperawatan sebagai petunjuk untuk membuat catatan perkembangan.

8. Hubungkan pada tiap-tiapdiagnosa keperawatan bila merujuk dan memberikan laporan perubahan.

9. Setiap pergantian jaga perawat, gunakan dignosa keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, tindakan dan evaluasi.

10. Catat bahan perawatan adalah dasar untuk pertimbangan darilangkah-langkah proses keperawatan.

11. Pencatatan semua diagnosa keperawtaan harus merefleksikan dimensi dalam masalah yang berosientasi pada pencatatan perawat

12. Suatu agenda atau pencatatan mungkin memerlukan untuk membuat diuagnosa keperawatan dan sisitem pencatatan yang relevan

DOKUMENTASI RENCANA TINDAKAN

Rencana tindakan keperawatan mencakup tiga hal meliputi :
1. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan harus merupakan prioritas untuk merawat klien. Hal tersebut harus menyangkut langsung kearah situasi yang mengancam kehidupan klien.

2. Kriteria hasil

Setiap diagnosa keperawatan hartus mempunyai sedikitnya satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan tujuan yang diharapkan yang mencerminkan masalah klien

3.Rencana tindakan keperawatan

Tindakan keperawatan adalah memperoleh tanggung jawa mandiri, khususnya oleh perawat yang dikerjakan bersama dengan perintah medis berdasarkan maslaah klien dan antuan yang dterima klien adalah hasil yang diharapkan. Masing-masing masalah klien dan hasil yang diharapkan didapatkan paling sedikit dua rencana tindakan.

Petunjuk penulisan rencana tindakan yang efektif:

  1. Sebelum menuliskan rencana tindakan, kaji ulang semua data yang ada sumber data yang memuaskan meliputi :

*        Pengkajian sewaktu klien masuk rumah sakit

*        Diagnosa keperawatan sewaktu masuk rumah sakit

*        Keluahan utama klien ataualasan dalam berhuungan dengan pelayanan kesehatan

*        Laboratorium ritme

*        Latar belakang sosial budaya

*        Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik

*        Observasi dari tim kesehatan lain

2.  Daftar dan jenis masalah aktual resiko dan kemungkinan. Berikan prioritas utama  pada maslah aktual yang mengancam kesehatan,

3.   Untuk mempermudah dan bisa dimengerti dalam memuar rencana tindakan erikanlah ganbaran dan ilustrasi (contoh) bila mungkin diagnosa khususnya sangat membantu ketika teknologi canggih digunakan untuk perawtan klien atau ketika menggambarkan lokasi anatomi.

4.   Tuliskan dengan jelas khusus, terukur, kriteria hasil yang diharapkan untuk mentapakan masalah ersama dengan klien tentukan keterampilan kognitif, afektif dan psikomotor yang memerlukan perhatian.

5.   Selalu ditanda-tangani dan diberi tanggal rencana tindakan, hal ini perting karena seorang perawat profesionalakan bertanggung jawab dan ertanggung gugat untuk melaksanan rencana tindakan yang telah tertulis.

6.   Mulai rencana tindakan dengan menggunakan action verb

*        Catat tanda-tanda vital setiap pergantian dines

*        Timbang B setiap hari

*        Informasikan kepada klien alasan isolasi

7.   Alasan prinsip specivity untuk menuliskan diagnosa keperawatan.:

*        Bagaimana prosedur akan dilaksanakan Kapan dan berapa lama

*        Jelaskan secara singkat keperluan apa yang perlu dipenuhi, termasuk tahapan-tahapan tindakan.

8.   Tuliskan rasional dari rencana tindakan.

9.   Rencana tindakan harus selalu tertulis dan ditanda-tangani

10. Rencana tindakan harus dicatat seagai hal yang permanen

11. Klien dan keluarganaya jika memungkinkan diikutsertakan dalam perencanaan

12. Rencana tindakan harus sesuai dengan waktu yangditentukan dan diusahakan  untuk selalu diperbaharuai misalnya setiap pergantian dines, setiap hari, dan atau sewaktu-waktu diperlukan.

DOKUMENTASI INTERVENSI/ TINDAKAN KEPERAWATAN

            Perencanaan dan tindakan keperawatan adalah tahap dalam proses keperawatan berdasarkan masalah actual dari klien. Maksud dokumentasi adalah menemukan secara tepat sebagai gambaran intervensi keperawatan yang meliputi :

  1. Intervensi terapeutik

            Tindakan terapeutik adalah askep yang langsung sesuai keadaan klien. Rencana keperawatan yng lebih dari satu harus di kerjakan sungguh-sungguh sesuai prioritas masalah dalam diagnosa keperawatan

  1. Intervensi pemantapan/ observasi

            Proses ini membutuhkan ketajaman observasi perawat termasuk keterampilan mengevaluasi yang tepat. Progam yang lebih dari yang sangat menetukan kesehatan klien. Perawat harus lebih melihat perkembangan yang baik dan buruk dari klien seperti:

  • Mengobservasi tanda vital.
  • Diagnosa Keperawatan
  • Tindakan Keperawatan (Terapeutik)
  • Therapi Medicus
  • Ketidak efektifan bersihan jalan nafas
  • Cemas
  • Penurunan Cardiac out put
  • Mengatur posisi untuk pemberian Oksigen
  • Suction bila tidak ada kontra indikasi
  • Mengajarkan tehnik batuk
  • Mengambil sample blood gas arteri
  • Mengajarkan kegiatan untuk mengurangi stress
  • Mengatur lingkungan yang aman
  • Mengalihkan orientasi yang realitas
  • Atur posisi fowler/semi fowler
  • Mengurangi pergerakan
  • Mengatur lingkungan yang merangsang
  • Mengatur pemberian Oksigen
  • Pemberian obat ekspektoran
  • Memeriksa sputum
  • Mengukur blood gas arteri
  • Memberi obat transquilizer sedative
  • Mengurangi diet yang mengandung sodium
  • Infus cairan elektrolit sesuai BB
  • Memberikan obat untuk meningkatkan cardiac out put.

Dokumentasi intervensi Mengidentifikasi mengapa sesuatu terjadi terhadap klien, apa yang terjadi, kapan, bagaimana, dan siapa yang melakukan intervensi :

*        Why : Harus dijelaskan alasan tindakan harus dilaksanakan dan data yang ada dari hasil dokumentasi pengkajian dan diagnosa keperawatan

*        What : Ditulis secara jelas, ringkas dari pengobatan atau tindkan dalam bentuk action verb

*        When : Mengandung aspek yang penting dari dokumentasi intervensi. Pencatatan pada waktu pelaksaan intervensi sangat penting dalam hal pertanggung jawaban hukuj dan efektifitas tertentu

*        How : Tindakan dilaksanakan dalam penambahan pencatatn yang lebih detail. Misalnya, “ miringkanan atau kiri dengan bantuan perawat.” Menandakan suatu prinsip ilmiah dan rasional dari rencana tindakan. Metode ini akan bisa meningkatkan dalam upaya-upaya penggunaan prosedur keperawatan yng tepat.

*        Who : siapa yang melaksanakan intervensi harus selalu dituliskan pada dokumnetasi serta tanda tangan sebagai pertanggung jawaban

Intervensi yang memerlukan suatu dokumnetasi khusus
Ada dua dokumentasi yang memerlukan dokumnetasi khusus yaitu :
1. Prosedur invasive

Tindakan invasive merupakan bagian yang penting dari proses keperawatan, Karena memerlukan pengetahuan tentang IPTEK yang tinggi. Untuk itu pengetahuan lanjutan di perlukan dalam upaya meningkatkan tanggung jawab dalam pemberian intervensi. Misalnya perawat memberika tranfusi, kemoterapi, memasang kateter. Tindakan tersebut di atas kan membawa resiko yang tinggi pada klien terhadap komplikasi, yang tentunya perlu infomed consent sebelum tindakan di laksanakan.

  1. Intervensi mendidik klien

Perawat berperan penting dalam mengenal kebutuhan belajar klien dalam rencana mendidik klien dan memelihara laporan kegiatannya. Membutuhkan Pendidikan. Contoh rencana Pendidikan yang berlawan dengan pendikan yang dilaksanakan secara kebetulan sebagai berikut : Rencana pendidikan Pendidikan yang dilaksanakan secara kebetulan

  1. Kebutuhan belajar pasien termasuk seluk beluk belajar objektif dan strategi mengajar
  2. Kegiatan yang dilaksanakan sesuai jadwal
  3. Melaksanakan perawatan secar kontinyu mengenai kebersihan diri setelah kembali kerumah
  4. Meneberikan nasehat dan dorongan secara umum yang berkesinambungan
  5. Memberikan kesempatan selama pertemuan untuk mengenal car belajar
  6. Mengenal pelajaran yang kurang dan membutuhkan rencana belajar secara formal

DOKUMENTASI EVALUASI PERAWATAN

Pernyataan evaluasi perlu didokumentasikan dalam catatan kemajuan, direvisi dalam rencana perawatan atau dimasukkan dalam ringkasan khusus dan dalam pelaksanaan dan entu perencanaan. Pedoman untuk pendokumentasian evaluasi

  1. Sebelum kesimpulan evaluasi dengan data yang mendukung penilaian perawat. Contoh data pendukung (untuk klien dengan myocar infark) : tidak ada dispnea. Penilaian perawatannya : toleransi aktifitas meningkat.
  2. Mengikuti dokumentasi intervensi keperawatan dengan pernyataan evaluasi formatif yang menjelaskan respon cepat klien terhadap intervensi keperawatan atau prosedur. Contohnya mengantuk setelah minum obat
  3. Menggunakan pernyataan evaluasi sumatif ketika klien dipindahkan ke vasilitas lain atau dipulangkan
  4. Catatan evaluasi sumatif untuk setiap hasil yang diharapkan diidentifikasikan pada perencanaan keperawatan klien, bisa berjalan 500 kaki dan menaiki 12 tangga tanpa bantuan. Evaluasi sumatif : dapat berjalan 200 kaki tanpa alat bantu dan dapat naik turun 6 tangga tanpa bantuan.
  5. Menulis pernyataan evaluasi yang merefleksikan keadaan perkembangan klien terhadap tujuan, pemasukan yang sesuai dicatat sebagai berikut : kontrol sakit yang tidak efektif setelah medikasi, terus tanpa henti, penghilang rasa sakit dari medikasi berlangsung selama 30 menit.
  6. Melalui suatu penilaian atau modifikasi intervensi, mengawali dan mendokumentasikan respon perawat untuk mengubah kondisi klien. Contoh : kesehatan klien memburuk, : jam 09.00 mengeluh salit di pusat seperti ditikam.

hak

HANDOUT HAK

 

PENGERTIAN HAK

            Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas

HAK DARI SUDUT HUKUM

            Hak mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu untuk mengendalikan situasi, misalnya seseorang mempunyai hak untuk masuk restoran dan membeli makanan yang diinginkannya. Dalam hal ini jika ditinjau dari sudut hukum, orang yang bersangkutan mempunyai kewajiban tertentu yang menyertainya yaitu orang tersebut diharuskan atau diwajibkan untuk berperilaku sopan dan membayar makanan tersebut.

HAK DARI SUDUT PRIBADI

Hak dilihat dari sudut pribadi, yang telah disesuaikan dengan perkembangan etis antara lain mengatur kehidupan seseorang berdasarkan konsep benar atau salah, baik atau buruk yang ada di llingkungan tempat ia hidup dan tinggal dalam kurun waktu tertentu.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN KONSEP PRIBADI DARI HAK- HAK SESEORANG

  1. Hubungan sosial dengan keluarga, antar keluarga maupun dengan lingkungan
  2. Pendidikan dari orang tua
  3. Kebudayaan
  4. Informasi yang diperoleh

 

PERANAN HAK

  1. Hak dapat digunakan sebagai pengekspreian kekuasab dalam konflik antara seseorang dengan kelompok

Contoh: seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai hak untuk menginstruksikan pengobatan yang ia inginkan untuk kliennya. Disini terlihat bahwa dokter tersebut mengekspresikan kekuasaanya untuk menginstruksikan pengobatan kepada klien. Hal ini merupakan haknua selaku penanggung jawab medis.

  1. Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan

Contoh: seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatannya, mendapat kritikan kerena terlalu lama menghabiskan waktunya bersama klien. Perawat tersebut dapat mengatakan bahwa ia mempunyai hak untuk memberikan asuhan keperawatan yang terbaik untuk klien sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, perawat tersebut mempunyai hak melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien/ klien.

  1. Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan

Seseorang seringkali dapat menyelesaikan perselisihan dengan menuntut hak yang juga dapat diakui oleh orang lain.

Contoh: seorang perawat menyarankan kepada pasien agar tidak keluar ruangan selama hospitalisasi. Pada situasi tersebut, klien marah karena tidak setuju dengan saran perawat dan klien tersebut mengatakan pada perawat bahwa ia juga punya hak untuk keluar dari ruangan bilamana ia mau.

Dalam hal ini, perawat dapat menerima tindakan pasien sepanjang tidak merugikan kesehatan pasien. Bila tidak tercapai kesepakatan karena membatasi pasien, berarti ia mengingkari kebebasan pasien.

 

JENIS- JENIS HAK

Hak terdiri dari 3 jenis yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan dan legislatif

  1. Hak kebebasan

Hak mengenai kebebasan diekspresikan sebagai hak- hak orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya dalam batas- batas yang ditentukan. Misalnya seorang perawat wanita yang bekerja di suatu rumah sakit dapat memakai seragam yang diinginkan (haknya) asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas- batas. Dalam contoh tersebut terdapat dua hal penting yaitu sebagai berikut:

  1. Batas- batas kesopanan tersebut merupakan kebijakan rumah sakit
  2. Warna putih dan sopan merupakan norma yang diterapkan untuk perawat
  3. Hak kesejahteraan

Hak yang diberikan secara hukum untuk hal- hal yang merupakan standart keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu. Misalnya hak pasien untuk memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk untuk memperoleh air yang bersih, dll.

  1. Hak legislatif

Hak legislatif diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan. Misalnya seorang wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena- mena oleh suaminya. Hak legislatif mempunyai empat peranan di masyarakat yaitu membuat perarturan, mengubah perarturan, membatasi moral terhadap perarturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan perselisihan.

 

 

 

Hak- hak kelompok khusus

Kelompok khusus adalah:

  1. Individu dengan cacat fisik dan mental
  2. Individu yang akan meninggal
  3. Individu dengan retardasi mental, dengan IQ kurang dari normal (100), debil (74-99), imbisil (50-75) dan idiot (<50)
  4. Wanita hamil
  5. Individu lansia
  6. Anak- anak

 

HAK DAN KEWAJIBAN MENURUT UU RI

Hak- hak individu dengan cacat fisik dan mental

  1. Hak mendapat penghargaan dan martabat sebagai manusia sehingga dapat menikmati kehidupan sepenuhnya dan sebaik mungkin.
  2. Hak sebagai penduduk dan berpolitik sesuai kemauan dan kemampuannya
  3. Hak atas tindakan yang telah diterapkan agar mereka dapat percaya diri
  4. Hak memperoleh tindakan atau pengobatan medis, psikologis, fungsional (penggunaan alat bantu) seperti protesa, rehabilitasi, sosial, pendidikan, dsb, yang memungkinkan dikembangkannya kemampuan dan atau ketrampilan secara maksimal agar dapat mempercepat proses integrasi dan reintegrasi sosial
  5. Hak memperoleh kesejahteraan sosial dan ekonomi pada tingkat kehidupan yang layak (sesuai dengan kemampuannya untuk mendapatkan pekerjaan)
  6. Hak mendapatkan kebutuhan spesifik dan harus dipertimbangkan dalam semua tingkat perencanaan baik sosial atau ekonomi
  7. Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orag tua angkat dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial, kreatif atau rekreasi
  8. Hak mendapatkan perlindungan terhadap hal- hal yang menyangkut diskriminasi atau tindakan kejam dari pihak lain
  9. Mereka harus mampu menggunakan kesempatan dan memanfaatkan batuan hukum apabila bantuan tersebut diperlukan untuk pribadi atau mempertahankan hak- hak yang dimiliki
  10. Organisasi orang cacat dapat berkonsultasi kepada instansi atau lembaga terkakit mengenai hal- hal yang menyangkut hak- hak mereka
  11. Orang- orang dengan kecacatan, keluarga dan masyarakat harus diberikan informasi tentang hak- hak mereka

 

HAK- HAK INDIVIDU YANG AKAN MENINGGAL

  1. Hak diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup sampai ajal tiba
  2. Hak mempertahankan harapannya tidak peduli apapun perubahan yang terjadi
  3. Hak mendapatkan perawatan yang dapat mempertahankan harapannya apapun perubahan yang terjadi
  4. Hak mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian yang sedang dihadapinya.
  5. Hak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatannya
  6. Hak memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara berkesinambungan, walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyaman
  7. Hak untuk meninggal dalam kesendirian
  8. Hak untuk bebas dari rasa sakit
  9. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaanya secara jujur
  10. Hak untuk memperoleh bantuan dari perawat atau medis untuk keluarga yang ditinggalkan agar dapat menerima kematiannya
  11. Hak untuk meninggal dalam damai dan bermartabat
  12. Hak untuk tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang bertentangan dengan kepercayaan yang dianutnya
  13. Hak untuk mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang bersangkut meninggal
  14. Hak untuk memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya, apapun artinya bagi orang lain
  15. Hak untuk mendapatkan perawatan dari orang yang profesional, yang dapat mengerti kebutuhan dan kepuasan dalam menghadapi kematian.

 

HAK- HAK INDIVIDU DENGAN RETARDASI MENTAL

  1. Hak menunjukan tingkat maksimum dari kemampuannya yang sama dengan orang lain
  2. Hak memperoleh asuhan medis, fisioterapi, pendidikan, latihan, rehabilitasi serta bimbingan yang tepat yang sesuai dengan kemampuan dan potensial yang maksimal
  3. Hak memperoleh standart hidup yang layak dan keamanan dalam hal ekonomi dan berhak melakukan pekerjaan yang produktif sesuai dengan kemampuannya.
  4. Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orang tua angkat dan berpartisipasi dalam berbagai bentuk kehidupan dalam masyarakat secara layak, bila mungkin
  5. Hak atas penjagaan apabila diperlukan untuk melindungi diri dan kepentingannya
  6. Hak mendapatkan perlindungan atas tindakan kekerasan, apabila dituntut atas suatu pelanggaran, ia berhak mendapatkan pertimbangan hukum dan pengakuan penuh terhadap tanggung jawab mentalnya.
  7. Apabila mereka tidak mempunyai kemampuan karena keadaan cacatnya yang berat, mereka dapat dilatih untuk memahami hak mereka melalui prosedur yang berlaku yang didasarkan pada evaluasi seorang ahli.
  8. Hak memperoleh perawatan, bila diperlukan, dari orang yang berpengetahuan dan mengerti akan kebutuhannya serta dapat membantu dalam menghadapi kesulitan memperoleh pengakuan terhadap dirinya.

 

HAK- HAK WANITA HAMIL

  1. Wanita hamil berhak memperoleh informasi tentang obat yang diberikan kepadanya dan pelaksanaan prosedur oleh petugas kesehatan yang merawatnya, terutama yang berkaitan dengan efek- efek yang mungkin terjadi secara langsung maupun tidak langsung, resiko bahaya yang mungkin terjadi secara langsung maupun tidak langsung, resiko bahaya yang mungkin terjadi pada diri atau bayinya selama masa kehamilan, melahirkan dan laktasi.
  2. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang hal- hal yang menyangkut persiapan kelahiran dan cara- cara mengatasi ketidaknyamanan dan stress serta informasi sedini mungkin tentang kehamilan.
  3. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang obat- obatan yang diberikan kepadanya serta pengaruhnya secara langsung maupun tidak langsung terhadap bayi yang dikandungnya.
  4. Wanita hamil yang akan dioperasi cesar, sebaiknya diberi premedikasi sebelum operasi
  5. Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi pengaruh terhadap fisik, mental, maupun neurologis terhadap pertumbuhan bayinya.
  6. Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama obat dan nama pabriknya, bila diperlukan, sehingga dapat memberikab keterangan kepada petugas yang profesional bila terjadi reaksi terhadap obat tersebut.
  7. Waita hamil berhak untuk membuat keputusan tentang diterima atau ditolaknya suatu terapi yang dianjurkan setelah mengetahui kemungkinan resiko yang akan terjadi pada dirinya, tanpa tekanan dari pihak lain.
  8. Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama dan kualifikasi orang yang memberikan obat atau melakukan prosedur selama melahirkan
  9. Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi tentang keuntungan suatu prosedur bagi bayi dan dirinya sesuai indikasi medis
  10. Wanita hamil berhak untuk didampingi oleh orang yang merawatnya selama dalam stress persalinan
  11. Setelah melakukan konsultasi medis, wanita hamil berhak untuk memilih posisi melahirkan yang tidak menimbulkan stress bagi diri sendiri maupun dirinya
  12. Wanita hamil berhak untuk meminta agar perawatan bayinya dilakukan satu kamar dengannya, bila bayinya normal dan dapat memberi minum bayinya sesuai kebutuhan dan bukan menurut aturan rumah sakit.
  13. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang orang yang menolong persalinannya serta kualifikasi profesionalnya untuk kepentingan surat keterangan kelahiran
  14. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang kondisi diri sendiri dan bayinya yang dapat menimbulkan masalah atau penyakitnya di kemudian hari.
  15. Wanita hamil berhak atas dokumen lengkap tentang diri dan bayinya termasuk catatan perawat yang disimpan dalam kurun waktu tertentu.
  16. Wanita hamil berhak untuk menggunakan dokumen medis lengkap, termasuk catatan perawat dan bukti pembayaran selama dirawat di rumah sakit

 

HAK INDIVIDU LANSIA

  1. Hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai harga diri dan martabat
  2. Hak menikmati kehidupan pada masa tua, tanpa tekanan
  3. Hak mendapatkan perlindungan dari keluarga dan instansi yang berwenang
  4. Hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal
  5. Hak untuk tinggal di lingkungan kerja atau panti, bila ia menginginkannya
  6. Hak memperoleh pendidikan yang dibutuhkannya untuk menghabiskan sisa hidupnya, misalnya pendidikan agama dan sebagainya
  7. Hak berekreasi dan mengatur hobinya, bila diinginkan
  8. Hak untuk dihargai dan menghargai dirinya dan orang lain
  9. Hak menerima kasih sayang dari anak, keluarga dan masyarakat

 

HAK ANAK

            UU RI no 23 tahun 1992 tentang kesehatan, BAB V Upaya Kesehatan  pasal 7 ayat 1 dan 2 :

Ayat 1: kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak

Ayat 2: kesehatan anak dilakukan melakukan peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi, usia pra sekolah dan usia sekolah