PETUNJUK ANTISIPASI (ANTICIPATORY GUIDANCE) DAN TOILET TRAINING PADA ANAK

Image

Oleh: Ns. Apriyani Puji Hastuti, S.Kep

 

TUJUAN BELAJAR:

  1. Menjelaskan pengertian dan maksud dari petunjuk antisipasi
  2. Menjelaskan petunjuk antisipasi pada masa infant sesuai dengan tahapan tumbuh kembang
  3. Menjelaskan petunjuk antisipasi pada masa prasekolah awal (balita) sesuai tahapan tumbuh kembang
  4. Menjelaskan petunjuk antisipasi pada masa prasekolah sesuai dengan tahapan tumbuh kembang

PENDAHULUAN

Kehadiran anak bagi orang tua merupakan suatu tantangan sehubungan dengan masalah dependensi/ketergantungan, disiplin, meningkatkan mobilitas dan keamanan bagi anak. Rang tua sering keliru dalam memberlakukan anak karena ketidaktahuan mereka akan cara membimbing dan mengasuh yang benar. Apabila hal ini terus berlanjut, maka pertumbuhan anak dapat terhambat.

Saat ini terjadi pergeseran peran orang tua, misalnya kedua orang tua lebih banyak beraktifitas di luar rumah dan tingginya mobilitas di masyarakat. Untuk itu diperlukan keseimbangan bagi model peran tradisional dalam pendidikan anak. Orang tua pada masa sekarang memerlukan tenaga professional untuk memberikan bimbingan guna merawat dan memelihara anak.

Sebagai bagian dari tenaga professional perawatan kesehatan, perawat mempunyai peran yang cukup penting dalam membantu memberikan bimbingan dan pengarahan pada orang tua, sehingga setiap fase dari kehidupan anak yang kemungkinan mengalami trauma, seperti latihan buang air besar/kecil (toilet training) dan ketakutan yang abstrak pada usia prasekolah dapat dibimbing secara bijaksana.

PENGERTIAN

Anticipatory guidance merupakan petunjuk-petunjuk yang perlu diketahui terlebih dahulu agar orang tua dapat mengarahkan dan membimbing anaknya secara bijaksana, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.

Memberitahukan/upaya bimbingan kepada orang tua tentang tahapan perkembangan sehingga orang tua sadar akan apa yang terjadi dan dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan usia anak

 

 

ANTICIPATORY GUIDANCE TIAP TAHAPAN USIA

  1. 1.  Anticipatory guidance pada masa bayi (0-12 bulan)
    1. Usia 6 (enam) bulan pertama
  • Memahami adanya proses penyesuaian antara orang tua dengan bayinya, terutama pada ibu yang membutuhkan bimbingan/asuhan pada masa setelah melahirkan
  • Membantu orang tua untuk memahami bayinya sebagai individu yang mempunyai kebutuhan dan untuk memahami bagaimana bayi mengekspresikan apa yang diinginkan melalui tangisan
  • Menentramkan orang tua bahwa bayinya tidak akan menjadi manja dengan adanya perhatian yang penuh selama 4-6 bulan pertama
  • Menganjurkan orang tua untuk membuat jadwal kebutuhan bayi dan orang tuanya
  • Membantu orang tua untuk memahami kebutuhan bayi terhadap stimulasi lingkungan
  • Menyokong kesenangan orang tua dalam melihat petumbuhan dan perkembangan  bayinya, yaitu dengan bersahabat dan mengamati respon social anak misalnya dengan tertawa/tersenyum
  • Menyipkan orang tua untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dan kesehatan bagi bayi misalnya imunisasi
  • Menyiapkan orang tua untuk mengenalkan dan memberikan makanan padat

 

  1. Usia 6 (enam) bulan kedua
  • Menyiapkan orang tua akan danya ketakutan bayi terhadap orang yang belum dikenal (stranger anxiety)
  • Menganjurkan orang tua untuk mengizinkan anaknya dekat dengan ayah dan ibunya serta menghindarkan perpisahan yang terlalu lama dengan anak tersebut
  • Membimbing orang tua untuk mengetahui disiplin sehubungan dengan semakin meningkatnya  mobilitas (pergerakan si bayi)
  • Menganjurkan untuk mengguanakan suara yang negative dan kontak mata daripada hukuman badan sebagai suatu disiplin. Apabila tidak berhasil, gunakan 1 pukulan pada kaki atau tangannya
  • Menganjurkan orang tua untuk memberikan lebih banyak perhatian ketika bayinya berkelakuan baik dari pada ketika ia menangis
  • Mengajrkan mengenai pencegahan kecelakaan karena ketrampilan motorik dan rasa ingin tahu bayi meningkat
  • Menganjurkan orang tua untuk meninggalkan bayinya beberapa saat dengan pengganti ibu yang menyusui
  • Mendiskusikan mengenai kesiapan untuk penyapihan
  • Menggali perasaan ornag tua sehubungan dengan pola tidur bayinya

 

 

 

 

  1. 2.  Anticipatory guidance pada masa toddler (1-3 tahun)
    1. Toilet training
  • Merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia toddler
  • Latihan untuk bekemih dan defekasi adalah tugas anak usia toddler
  • Pada tahap usia toddler , kemampuan sfingter uretra untuk mengontrol rasa ingin beerkemih dan sfingter ani untuk mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang
  • Wong (2000) mengemukakan bahwa biasanya sejalan dengan anak mampu berjalan, kedua sfingter tersebut semakin mampu mengontrol rasa ingin berkemih dan defekasi
  • Sensasi untuki defekasi lebih besar dirasakan oleh anak, dan kemampuan untuk mengkomunikasikannya lebih dahulu dicapai oleh anak, sedangkan kemampuan untuk mengontrol berkemih biasanya baru akan tercapai sampai usia 4-5 tahun
  • Toilet training pada anak merupakan usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalm melakukan buang air kecil dan buang air besar.
  • Tolet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak: 18 bulan-2 tahun.
  • Keberhasilan toilet training tergantung pada: Persiapan fisik, Persiapan psikologis, Persiapan intelektual
  • Toilet training sebagai sex education
  • Dalam proses toilet training diharapkan terjadi pengaturan impuls atau rangsangan dan instink anak dalam melakukan buang air besar atau buang air kecil.
  • Defekasi  merupakan suatu alat pemuasan untuk melepaskan ketegangan    toilet training      usaha penundaan pemuasan
  • Suksesnya toilet training tergantung kesiapan yng ada pada diri anak & keluarga, seperti kesiapan fisik, dimana kemampuan anak secara fisik sudah kuat dan mampu
  • Indikator anak kesiapan fisik: anak mampu duduk atau berdiri
  • Indikator kesiapan psikologis: adanya rasa nyman sehingga anak mampu mengotrol dan konsentrasi dalam merangsang BAK dan BAB
  • Indiklator kesiapan intelektual: anak paham arti BAK atau BAB     memudahkan pengontrolan     anak dapat mengetahui kapan saatnya harus BAB & BAK      anak memiliki kemandirian dalam mengontrol BAB & BAK
  • Pelaksanaan toilet training sejak dini       melatih respon terhadap kemampuan ubtuk BAK/BAB

 

Cara toilet training pada anak:

Teknik lisan

  • Cara:pemberian instruksi pada anak dengan kata-kata sebelum & setelah BAK/BAB
  • Teknik ini mempunyai nilai yang cukup besar dalam memberikan rangsangan untuk BAK/BAB            mengapa???

                   persiapan psikologis anak semakin matang     mampu dengan baik BAB/BAK

Teknik modelling

  • Cara: meniru untuk buang air besar atau memberikan contoh
  • Dampak jelek cara ini apabila contoh yang diberikan salah       kebiasaan yang salah pada anak

Indikasi Kesiapan Orang Tua Untuk “Toilet Training”

  • Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih/defekasi
  • Ada keinginan untuk meluangkan waktu yang diperlukan untuk latihan berkemih atau defekasi
  • Tidak mengalami konflik atau stres kluarga yang berarti

Kesiapan anak :

  1. 1.    Fisik
    1. Usia 18 – 24 bulan, Pengontrolan saraf volunter spinkter ani dan uretra
    2. Mampu untuk tetap kering (menahan BAK) selama 2 jam.
    3. Perkembangan ketrampilan motorik kasar : duduk, jongkok, berjalan.
    4. Perkembangan ketrampilan motorik halus : mampu membuka celana dan berpakaian.
    5. 2.    Psikologis
      1. Mengenai adanya dorongan untuk miksi dan defikasi.
      2. Kemampuan berkomunikasi : verbal dan non verbal mengindikasikan dorongan untuk miksi atau defikasi.
      3. Kemampuan kognitif : meniru dengan tepat tingkah laku dan mengikuti pengarahan.
      4. Mengekspresikan keinginan untuk menyenangkan orang tua.
      5. Mampu duduk atau jongkok diatas toilet 5 – 10 menit tanpa cerewet atau turun.
      6. Mengikuti tingkat kesiapan anak.
      7. Keinginan untuk meluangkan waktu : perlu kesabaran dan pengertian.
      8. Tidak ada stress keluarga atau perubahan seperti : perceraian, pindah rumah, mendapat adik baru atau akan berlibur.
      9. Memberi pujian jika anak berhasil.

 

  1. 3.    Kesiapan mental
    1. Mengenal rasa yang datang
    2. Komunikasi secara verbal dan nonverbal
    3. Ketrampilan kognitif untuk mengikuti perintah atau mengikuti orang lain

 

  1. Persaingan dengan saudara kandung (sibling rivalry)

Keluarga mendapat bayi baru : dapat menimbulkan krisis bagi toddler. Toddler tidak membenci atau marah pada bayi, tetapi karena :

  1. Perubahan merasa ada saingan.
  2. Perhatian ibu terbagi.
  3. Kebiasaan rutin menjadi berubah menyebabkan anak bertingkahlaku invantil
    Perlu persiapan toddler untuk menerima kehadiran saudara kandungnya mulai  sejak bayi dalam kandungan.

 

  1. Petunjuk bimbingan usia toddler

1)     Petunjuk bimbingan usia 12-18 bulan

  • Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi adanya perubahan tingkah laku dari toddler, terutama negativistic dan ritualisme. Negativistic adalah perilaku yang bertentangan dengan kebiasaaan.
  • Mengkaji kebiasaan makan sekarang dan menganjurkan penyapihan dari botol secara bertahap, serta meningkatkan pemasukan makanan padat.
  • Menyediakan makanan kecil/selingan diantara 2 waktu makan dengan rasa yang disukai, serta adanya jadwal waktu makan yang rutin.
  • Mengkaji pola tidur malam, terutama kebiasaan minum malam memakai botol yang merupakan penyebab utama gigi berlubang dan perilaku menunda yang memperlambat jam tidur.
  • Menyiapakan orang tua untuk mencegah bahaya yang potensial terjadi di rumah, seperti kecelakaan kendaraan bermotor dan bahaya/kecelakaan jatuh. Berikan saran yang sesuai untuk pengamanan di rumah.
  • Mendiskusikan kebutuhan akan adanya ketentuan-ketentuan atau aturan yang disertai dengan disiplin yang lembut dan cara-cara yang mengatasi negativistic dan tempertantrum, serta menekankan pada keuntungan yang positif dari disiplin yang tepat atau sesuai.
  • Mendiskusikan mainan baru yang dapat mengembangkan motorik halus, motorik kasar, bahasa, pengetahuan dan keterampilan social.

 

2)     Petunjuk bimbingan usia 18-24 bulan

  • Menekankan pentingnya persahabatan sebaya dalam bermain.
  • Menggali kebutuhan untuk menyiapan kehadiran saudara kandung/adiknya dan menekankan tentang pentingnya persiapan anak terhadap kehadiran bayi baru.
  • Menekankan kebutuhan akan pengawasan terhadap gigi dan tipe kebersihan di rumah, serta kebiasaan makan yang merupakan factor penyebab gigi berlubang dan menyarankan pentingnya penambahan fluoride untuk memperkuat pertumbuhan tulang.
  • Mendiskusikan metode disiplin yang ada dan keaktifannya serta menggali perasaan orang tua mengenai negativistic anaknya dengan menekankan bahwa negativistic adalah aspek penting dari perkembangan self assertion (penonjolan/tntutan diri) dan independensi dan bukan merupakan tanda kemanjaan.
  • Mendiskusikan tanda-tanda kesiapan untuk toilet training dan menekankan pentingnya menunggu kesiapan fisik dan psikologi anak.
  • Mendiskusikan berkembangnya rasa takut, seperti yang timbul ketika ada kegelapan atau suara keras, dan kebiasaan seperti membawa selimut atau mengisap jari. Menekankan bahwa hal ini normal dan merupakan perilaku yang bersifat sementara.
  • Menyiapkan orang tua akan adanya tanda-tanda regresi ketika anak mengalami stress.
  • Mengkaji kemampuan anak untuk berpisah sesaat dengan mudah dari orang tuanya di bawah asuhan keluarga.
  • Memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mengekspresikan perasaan lelah, frustasi dan jengkel dalam merawat balita.
  • Menunjukkan harapan akan adanya perubahan pada anak di tahun mendatang seperti lingkup perhatian anak yang semakin luas dan berkurangnya negativistic serta adanya perhatian yang menyenangkan orang lain.

 

3)     Petunjuk bimbingan usia 24-36 bulan

  • Mendiskusikan pentingnya kebutuhan anak untuk meniru dan dilibatkan dalam kegiatan.
  • Mendiskusikan kegiatan yang dilakukan dalam toilet training terutama dengan harapan-harapan dan sikap yang realistis dalam menghadapi keadaan-keadaan, seperti mengompol dan buang air besar di celana.
  • Menekankan keunikan dari proses berpikir anak toddler, terutama melalui bahasa yang ia gunakan, pemahamannya terhadap waktu, dan ketidakmampuannya untuk melihat kejadian dari perspektif yang lain.
  • Menekankan disiplin dengan tetap terstruktur secara benar dan nyata, ajukan alas an yang rasional, serta hindari kebingungan dan salah pengertian.
  • Mendiskusikan adanya taman kanak-kanak atau pusat penitipan anak pada siang hari (play group).

 

  1. Anticipatory guidance pada masa preschool (3-5 tahun)

Pada masa ini petunjuk bimbingan tetap diperlukan walaupun kesulitannya jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya, pencegahan kecelakaan dipusatkan pada pengamatan lingkungan terdekat, dan kurang menekankan pada alas an-alasannya. Sekarang proteksi pagar, penutup stop kontak disertai dengan  penjelasan secara verbal dengan alas an yang tepat dan dapat dimengerti.

Masuk sekolah adalah bentuk perpisahan dari rumah baik bagi orang tua maupun anak. Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan dalam melakukan penyesuaian terhadap perubahan ini, terutama bagi Ibu yang tinggal di rumah/tidak bekerja. Ketika anak mulai masuk taman kanak-kanak, maka ibu mulai memerlukan kegiatan-kegiatan di luar keluarga, seperti keterlibatannya dalam masyarakat atau mengembangkan karier. Bimbingan terhadap orang tua pada masa ini dapat dilakukan pada anak umur 3, 4, 5 tahun.

 

  1. Usia 3 tahun
  • Menyiapkan orang tua untu meningkatkan minat anak terhadap hubungan yang luas
  • Menganjurkan orang tua untuk mendaftarkan anak ke taman kanak-kanak.
  • Menekankan pentignya batas-batas/tata cara/peraturan-peraturan.
  • Menyiapakan orang tua untu mengantisipasi tingkah laku yang berlebihan sehingga dapat menurunkan tension/ketegangan.
  • Menganjurkan ornga tua untuk menawarkan kepada anaknya alternative-alternatif pilihan ketika anak dalam keadaan bimbang.
  • Memberikan gambaran mengenai perubahan pada usia 3.5 tahun katika anak berkurang koordinasi motorik dan emosiaonalnya, merasa tidak aman serta menunjukkan emosi dan perkembangan tingkah laku yang ekstrim seperti gagap.
  • Menyiapkan orang tua untuk mengekspetasi tuntutan-tuntutan akan perhatian ekstra dari anak, yang merupakan refleksi dari emosi tidak aman dan ketakutan akan kehilangan cinta.
  • Mengingatkan kepada orang tua bahwa keseimbangan pada usia 3 tahun akan berubah ke tingkah laku agresif di luar batas pada usia 4 tahun.
  • Mengantisipasi selera makan yang menjadi tetap dengan pemilihan makanan yang lebih luas.

 

  1. Usia 4 tahun
  • Menyiapkan orang tua terhadap perilaku anak yang agresif, termasuk aktifitas motorik dan bahasa yang mengejutkan
  • Menyiapkan orang tua menghadapi perlawanan anak terhadap kekuasaan orang tua.
  • Kaji perasaan orang tua sehubungan dengan tingkah laku anak.
  • Menganjurkan beberapa macam istirahat dari pengasuh utama, seperti menempatkan anak pad ataman kanak-kanak selama setengah hari.
  • Menyiapkan orang tua untuk menghadapi meningkatnya rasa ingin tahu seksual pada anak.
  • Menekankan pentingnya batas-batas yang realistic dari tingkah laku.
  • Mendiskusikan disiplin
  • Menyiapkan orang tua untuk meningkatkan imajinasi di usia 4 tahun, dimana anak mengikuti kata hatinya dalam “ketinggian bicaranya” (bedakan dengan kebohongan) dan kemahiran anak dalam permainan yang membutuhkan imajinasi.
  • Menyarankan pelajaran berenang.
  • Menjelaskan perasaan-perasaan Oedipus dan reaksi-reaksinya. Anak laki-laki biasanya lebih dekat dengan ibunya dan anak perempuan dengan ayahnya. Oleh karena itu, anak perlu dibiasakan tidur terpisah dengan orang tuanya.
  • Menyiapkan orang tua untuk mengantisipasi mimpi buruk anak dan menganjurkan mereka agar tidak lupa untuk membangunkan anak dari mimpi yang menakutkan.

 

 

  1.  Usia 5 tahun
  • Memberikan pengertian bahwa usia 5 tahun merupakan periode yang relative lebih tenang dibandingkan masa sebelumnya
  • Menyiapkan dan membantu anak memasuki lingkungan sekolah.
  • Mengingatkan imunisasi yang lengkap sebelum masuk sekolah.

 

PENCEGAHAN TERHADAP KECELAKAAN PADA ANAK

Kecelakaan merupakan kejadian yang dapat menyebabkan kematian pada anak. Kepribadian adalah factor pendukung terjadinya kecelakaan.

Orang tua bertanggungjawab terhadap kebutuhan anak, menyadari karakteristik perilaku yang menimbulkan kecelakaan waspada terhadap factor-faktor lingkungan yang mengancam keamanan anak.

Factor-faktor Yang Menyebabkan Kecelakaan

Jenis kelamin biasanya lebih banyak pada laki-laki karena lebih aktif di rumah.
Usia pada kemampuan fisik dan kognitif,  semakin besar akan semakin tahu mana yang bahaya.

Lingkungan
Adanya penjaga atau pengasuh.

Cara Pencegahan :

  1. Pemahaman tingkat perkembangan dan tingkahlaku anak.
  2. Kualitas asuhan meningkat.
  3. Lingkungan aman.

 

Bahaya umum yang harus diperhatikan ortu:

  1. Lantai rumah yang basah atau licin
  2. Rumah dengan tangga yang curam 7 tidak ada pegangan
  3. Alat makan dari bahan pecah belah
  4. Penyimpanan zat berbahaya yang terbuka & dapat dijangkau anak
  5. Adanya sumur yang terbuka
  6. Adanya parit di depan/samping rumah
  7. Rumah yang letaknya di pinggir jalan raya
  8. Kompor/alat memasak yang dijangkau anak
  9. Kabel listrik yang berantakan
  10. Stop kontak yang tidak tertutup

 

 

 

Upaya yang dapat dilakukan ortu di rumah:

  1. Benda tajam disimpan di tempat yang aman
  2. Benda kecil disimpan dalam laci yang tertutup
  3. Zat yang berbahaya disimpan dalam almari terkunci
  4. Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
  5. Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
  6. Apabila ada tangga, pasang pintu di bagian bawah atau atas tangga
  7. Sekring listrik harus tertutup
  8. Apabila ada parit, tutup dengan papan atau semen
  9. Bagi yang rumahnya di tepi jalan raya, sebaiknya da pintu pagar yang tertutup rapat
  10. Apabila ada sumur, tutup sehingga tidak bisa dibuka anak
  11. Bila bayi tidur, berikan p[engaman di pinggir tempat tidur

Pencegahan Terhadap Kecelakaan ;

1. Masa Bayi
Jenis kecelakaan : Aspirasi benda, jatuh, luka baker, keracunan, kurang O2.
Pencegahan
a. Aspirasi : bedak, kancing, permen (hati-hati).
b. Kurang O2 : plastic, sarung bantal.
c. Jatuh : tempat tidur ditutup, pengaman (restraint), tidak pakai kursi tinggi.
d. Luka bakar : cek air mandi sebelum dipakai.
e. Keracunan : simpan bahan toxic dilemari.

2. Masa Toddler
Jenis kecelakaan :
a. Jatuh/luka akibat mengendarai sepeda.
b. Tenggelam.
c. Keracunan atau terbakar.
d. Tertabrak karena lari mengejar bola/balon.
e. Aspirasi dan asfiksia.
Pencegahan :
a. Awasi jika dekat sumber air.
b. Ajarkan berenang.
c. Simpan korek api, hati-hati terhadap kompor masak dan strika.
d. Tempatkan bahan kimia/toxic di lemari.
e. Jangan biarkan anak main tanpa pengawasan.
f. Cek air mandi sebelum dipakai.
g. Tempatkan barang-barang berbahaya ditempat yang aman.
h. Jangan biarkan kabel listrik menggantung  mudah ditarik.
i. Hindari makan ikan yang ada tulang dan makan permen yang keras.
j. Awasi pada saat memanjat, lari, lompat karena sense of balance.

3. Pra Sekolah
Kecelakaan terjadi karena anak kurang menyadari potensial bahaya : obyek panas, benda tajam, akibat naik sepeda misalnya main di jalan, lari mengambil bola/layangan, menyeberang jalan.

Pencegahan ada 2 cara ;

1. Mengontrol lingkungan.

2. Mendidik anak terhadap keamanan dan potensial bahaya.

a. Jauhkan korek api dari jangkauan.

b. Mengamankan tempat-tempat yang secara potensial dapat membahayakan anak.

c. Mendidik anak :

  • · Cara menyeberang jalan.
  • · Arti rambu-rambu lalulintas
  • · Cara mengendarai  peran orang tua = perlu belajar mengontrolàsepeda yang aman  lingkungan.

4. Usia Sekolah

  1. Anak sudah berpikir sebelum bertindak.
  2. Aktif dalam kegiatan : mengendarai sepeda, mendaki gunung, berenang.
  3. Perawat mengajarkan keamanan:
  • Aturan lalu-lintas bagi pengendara sepeda.
  • Aturan yang aman dalam berenang
  • Mengawasi pada saat anak menggunakan alat berbahaya : gergaji, alat listrik.
  • Mengajarkan agar tidak menggunakan alat yang bisa meledak/terbakar.

 

  1. 5.  Remaja
    1. Penggunaan kendaraan bermotor bila jatuh dapat : fraktur, luka pada kepala.
    2. Kecelakaan karena olah raga.

Pencegahan:

a. Perlu petunjuk dalam penggunaan kendaraan bermotor sebelumnya ada negosiasi antara orang tua dengan remaja.

b. Menggunakan alat pengaman yang sesuai.

c. Melakukan latihan fisik yang sesuai sebelum melakukan olah raga.

 

 

Pengkajian masalah toilet training

 

Pengkajian fisik

  • Perhatikan kemampuan motorik kasar: berjalan, duduk meloncat
  • Perhatikan motorik halus: mampu melepas celana sendiri
  • Lancar tidaknya kemampuan BAB ditunjang keaiapan fisik
  • Yang perlu dikaji: pola buang air basar yang sudah teratur, sudah tidak ngompol setelah tidur dll

 

Pengkajian psikologis

  • Mengkaji gambaran psikologis pada anak ketika akan BAK/BAB (tidak rewel, tidak menangis, gembira, keinginan BAB/BAK secara mandiri, anak sabar dan sudah mau tinggal di toilet selama 5-10 menit tanpa rewel, keingintahuan kebiasaan toilet training pada orang dewasa, ekspresi untuk menyenangkan orang tuanya)

 

 

 

Pengkajian Intelektual

  • Meliputi kemampuan anak untuk mengerti BAK/BAB, kemampuan mengkomunikasikan BAB/BAK, anak menyadari timbulnya BAK/BAB, mempunyai kemampuan kognitif untuk meniru perilaku yang tepat seprti BAK/BAB pada tempatnya serta etika dalam BAK dan BAB
  • Hal yang perlu diperhatikan selama toilet training:
  1. Hindari pemakaian popok sekali pakai atau diaper dimana anak akan merasa aman
  2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang khas yang berhubungan dengan BAB
  3. Mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci muka saat bangun tidur, cuci tangan, cuci kaki dll
  4. Jangan marah jika anak gagal dalam melakukan toilet training

 

Dampak toilet training

  • Dampak paling umum dalam kegagalan toilet training seperti adanya perlakuan atau aturan yang ketat bagi orang tua kepada anaknyayang dapt mengganggu kepribadian anak atau cenderung bersifat retentif dimana anak cenderung bersikap keras kepala bahkan kikir. Hal ini dapat dilakukan orang tua apabila sering memarhi anak pada saat buang air besar atau kecil, atau melarang anak saat berpergian.
  • Bila orang tua santai dalam memberikan aturan dalm toilet training maka anak akan dapat mengalami kepribadian akspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka membuat gara-gara, emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

 

Pendidikan kesehatan untuk orang tua

  • Upaya pencegahan kecelakaan pada anak   orang tua harus diberikan bimbingan dan antisipasi             pendidikan kesehatan
  • Prinsip pendidikan kesehatan:

        Diberikan berdasrkan kebutuhan spesifik klien

        Pendidikan kesehatan yang diberikan harus bersifat menyeluruh       

        Hanya terjadi interaksi timbal balik antara perawat dan orang tua dan bukan hanya perawat sefihak yang aktif memberikan materi pendidikan kesehatan

        Pendidikan kesehatan diberikan dengan mempertimbangkan usia klien yang menerimanya

        Proses pendidikan kesdehatan harus memperhatikan prinsip belajar dan mengajar

        Perubahan perilaku pada orang tua menjadi tujuan utama pendidikan kesehatan yang diberikan

           

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s