KONSEP PROSES KEPERAWATAN

KONSEP PROSES KEPERAWATAN

Oleh: Apriyani Puji Hastuti, S.Kep Ns

 

Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan, hal ini disebut sebagai suatu pendekatan untuk memecahkan masalah (problem solving) yang memerlukan ilmu, teknik, dan ketrampilan interpersonel yang bertujun untuk memenuhi kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat. Proses keperawatan terdiri atas lima tahap yang berurutan dan saling berhubungan yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Lyer et al. 1996). Tahap- tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi intelektual problem solving dalam mendefinisikan suatu asuhan keperawatan.

  1. Sejarah

Proses keperawatan merupakan lima tahap yang konsisten sesuai perkembangan profesi keprawatan. Tahap tersebut pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955). Pada tahun 1967, Yura dan Walsh menjabarkan menjadi  tahap yaitu pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pada tahun yang sama, edisi pertama proses keperawatan dipublikasikan dalam empat tahap yang meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pada pertengahan tahun 1970 an, Bloch (1974)Roy (1975) Mudinger dan Jauron (1975) serta Aspinall (1976_ menambahkan tahap diagnosis pada proses keperawatan sehingga menjadi lima tahap yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi. saat ini proses keperawtan dianggap sebagai dasar dalam praktek keperawatan. Pada tahun 1973, American Nursing Association (ANA) meggunakan proses keperawatan sebagai pedoman dalam pengembangan standart praktek keperawatan yang digunakan sebagai suatu kerangka konsep kurikulum pendidikan keperawatan. Di Indonesia, definisi dan tahap—tahap proses keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan definisi dan standart legal praktek keerawatan dan juga kritera dalam program sertifikasi. Kurikulum pendidikan keperawatan pada setiap jenjang pendidikan (D3, S1, s2, maupun s3) saat ini telah menggunakan proses keperawatan sebagai kerangka kerjanya.

 

  1. Definisi

Definisi proses keperawatan secara umum dapat dibedakan menjadi:

  1. Tujuan

Tujuan proses keperawatan secara umum adalah untuk menyusun kerangka konsep berdasarkan keadaan indidividu (klien), keluarga dan masyarakat agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Yura dan Walsh (1983) menyatakan proses keperawatan adalah suatu tahapan desain tindakan yang ditujuakan untuk memenuhi tujuan keperawatan yang meliputi mempertahankan keadaan kesehatan klien yang optimal, apabila keadaanya berubah menjadi suatu kuantitas dan kualitas asuhan keperawatan terhadap kondisinya guna kembali ke keadaan yang abnormal. Jika kesehatan yang optimal tidak dapat tercapai, proses keperawatan harus dapat memfasilitasi kualitas kehidupan  yang maksimal berdasarkan keadaanya untuk mencapai derajat kehidupan yang lebih tinggi selama hidupnya (Lyer, 1996)

  1. Organisasi

Seperti yang tejabarkan sebelumnya, proses keperawatan dikelompokkan menjadi lima tahap yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi dan evaluasi. kelima tahap tersebut sebagai organisasi yang mengelola proses keperawatan secara sistematik dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.

  1. Properti

Proses keperawatan mempunyai 6 karakteristik yaitu tujuan, sistematis, dinamik, interaktif, fleksibel dan teoritis.

 

  1. Tujuan Proses Keperawatan

Proses keperawatan mempunyai tujuan yang jelas melaui suatu tahapan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan keperawatan kepada klien.

  1. Sistematis

Proses keperawatan menggunakan suatu pendekatan yang terorganisasi untuk mencapai tujuan. Hal ini untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan menghindari masalah yang bertentangan dengan tujuan instansi pelayanan kesehatan.

  1. Dinamik

Proses keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan klien dilaksanakan secara berkesinambungan. Proses tersebut ditujukan pada suatu perubahan respon klien yang diidentifikasi melalui hubungan antara perawat dengan klien.

  1. Interaktif

Dasar hubungannya adalah hubungan timbal balik antar perawat perawat, klien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.

  1. Fleksibel

Proses keperawatan dapat dilihat dua konteks yaitu (1) dapat diadopsi pada praktek keperawatan dalam situasi apapun dengan spesialisasi yang berhubungan dengan klien, keluraga atau masyarakat (kelompok) dan (2) tahapannya dapat digunakan secara berurutandan dengan persetujuan keduabelah phak (perawat dan klien)

  1. Teoritis

Setiap langkah proses keperawatan selalu didasarkan pada ilmu yang luas khususnya ilmu dan model keperawatan yang berlandaskan pada filosofi keperawatan bahwa asuhan keperawatan kepada klien harus menekankan pada 3 aspek (1) humanistik): asuhan keperawatan memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia dan bahkan sebagai perawat (2) holistik: asuhan keperawatan harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh (bio-psiko-sosio-spiritual) dan (3) care: asuhan keperawatan harus berlandaskan pada standart praktek keperawatan dan kode etik keperawatan.

 

  1. Dampak

Penerapan proses keperawatan mempunyai impliasi atau dampak terhadap:

  1. Profesi

Secara profesional, proses keperawatanmenyajikan suatu lingkup praktek keperawatan. Praktek keperawatan mencakup standart praktek keperawatan. Standat tersebut diadopsi dan diterbitkan oleh American Nursing Association (ANA) pada tahun 1973. Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan standart keperawatan tanpa melihat dimana ia bekerja dan apa spesialisasinya. Di Indonesia pelaksanaan standart praktek keperawatamm juga telah diatur dalam perarturan pemerintah melalui Undang- Undang Kesehatan di Indonesia (Depkes, 1992) dan akan PERMENKES no 647 tahun 2000 tentang Praktek Keperawatan Profesional di Indonesia.  

  1. Klien

Penggunaan proses keperawatan sangat bermanfaat bagi klien, keluarga dan masyarakat karena mendorong mereka untuk berpartisipasi secara aktif dengan melibatkan mereka ke dalam tahapannya. Klien menyediakan sumber untuk pengkajian, validasi diagnosis keperawatan dan menyediakan umpan balik untuk evaluasi. perencanaan keperawatan yang telah tersusun dengan baik akan memungkinkan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secaa kontinu, aman dan menciptakan lingkungan yang terapeutik. Keadaan tersebut akan membantu mempercepat kesembuhan klien dan memungkinkan klien untuk beradaptasi dengan lingkungan yang ada.

  1. Perawat

Proses keperawatan akan meningkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesional. Peningkatan hubungan antara perawat dengan klien dapat dilakukan melalui penerapan proses keperawatan. Proses keperawatan memungkinkan suatu pengembangan kreativitas dalam menjelaskan masalah klien. Hal ini akan mencegah kejenuhan perawat dalam melakukan pekerjaan yang bersifat rutinitas serta mencegah perawat untuk melakukan pendekatan yang berorientasi tergadap tugaas (task-oriented approach)

TEORI- TEORI YANG MENDASARI PROSES KEPERAWATAN

  1. Teori Sistem

Teori sistem merupakan suatu kerngka kerja yangberhubungan dengan keseluruhan aspek sosial manusia, struktur, masalah- masalah organisasi serta perubahan hubungan internal dan lingkungan di sekitarnya. Sistem tersebut terdiri atas tujuan, proses dan isi. Tujuan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan sehingga tujuan dapat memberikan arah pada sistem. Proses berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai. Isi terdiri atas bagian yang membentuk suatu sistem.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Teori Kebutuhan Manusia

Teri ini memandang bahwa manusaia sebagai bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam motivasinya untuk memenuhi kebutuhan dasar (fisiologis, keamanan, kasih saying, harga diri dan aktualisasi diri). Setiap kebutuhan merupakan suatu “tegangan internal” sebagai akibat dari perubahan setiap komponen system. Teganngan tersebut dimanifestasikan dalam perilaku untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan sampai terpenuhinya tingkat kepuasan klien.

Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan suatu bagian dimana penerapan proses keperawatan selalu difokuskan pada kebutuhan individu yang unik dan sebagai bagain integral dari keluarga dan masyarakat. Keseimbangan antar kebutuhan tersebut menjadi tanggungjawab dari setiap orang. Misalnya tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah memenuhi kebutuhan dasar anak tersebut. Demikian juga tanggung jawab perawat yaitu memberikan dukungan, memfasilitasi dan mengkomunikasikan kepada klien, baik yang sehat maupun sakit, untuk membantu memenuhi kebutuhan dasarnya. Peran tersebut dapat dilaksanakan secara optimal melalui pendekatan proses keperawatan.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

  1. Teori persepsi

Terjadinya perubahan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu. Setiap manusia selalu berubah kebutuhan dan kepuasannya berdasarkan perubahan yang sangat unik. Akibatnya, setiap perubahan yang terjadi persepsinya akan selalu berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Perbedaan tersebut membawa konsekuensi masalah keperawatan. Sebagaimana diketahui persepsi sangat berhubungan dengan system neurologis dan persepsi yang tidak selalu tergantung dari belajar dan pengalaman. Day mengatakan bahwa persepsi dapat dipelajari dari variable lingkungan fisiologis proses dan interaksi serta kejadian- kejadian pada perilaku.

Terjadinya interaksi antara orang dengan lingkungnannya dilaksanakan oleh reseptor energy sensitive. Karakteristik stimulasi harus ditransformasikan dalam suatu transmisi ke tingkat yang lebih tinggi pada system saraf pusat sebelum interaksi dan dalam pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan respon adaptif.

Untuk memahami arti persepsi, seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan situasi yang mempunyai makna bai kita. Makna merupakan kerangka penjabaran dari persepsi, ingatan dan tindakan. Oleh karena itu persepsi memegang peranan penting dalam kehidupan secara umum dimana kita dapat mengumpulkan data dari ini tentang diri sendiri, kebutuhan manusia serta lingkungan di sekitar kita.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Teori informasi dan komunikasi

Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengidentifikasi masalah klien. Apakah klien dalam keadaan sehat atau sakit. Proses keperawatan sebagai salah satu pendekatan utama dalam pemberian asuhan keperawatan pada dasarnya merupakan suatu proses pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah. Setelah penerapan proses keperawatan, perawat dituntut mempunyai pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar dalam mengartikan data yang diperoleh seta menjalin komunikasi yang efektif. Pengetahuan tersebut meliputi kemampuan perawat tentang cara memperoleh data atau fakta, menyeleksi dan memproses informasi dan memutuskan suatu asuhan keperawatan berdasarkan data yang diperoleh. Tahapan tersebut adalah menentukan prioritas masalah, mencari alternative intervensi serta memilih dan melaksanakan hasil alternative yang telah ditentukan, proses keperawatan merupakan sutau siklus karena memerlukan suatu modifikasi pengkajian ulang perencanaan ulang, memperbarui intervensi dan mengevaluasi ulang. Oleh karena itu setiap langkah dalam proses keperawatan diperlukan data yang akurat. Hal ini akan dapat tercapai jika perawat mampu menjalin komunikasi yang baik.

 

 
   

 

 

 

 

 

 

  1. Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah

Setiap tindakan yang dilakukan secara rasional oleh seseorang selalu melibatkan keputusan atau pilihan. Setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut seseorang untuk dapat menerima hal yang baru, perbedaan dan aspek- aspek yang lebih kompleks dari lingkungan yang sudah ada. Oleh sebab itu, setiap kesenjangan adalah suatu masalah dan masalah tersebut memerlukan jawaban serta solusi yang tepat.

Tujuan penerapan proses keperawatan dalam meberikan asuhan keperawatan kepada klien adalah untuk menyelesaikan masalah. Proses keperawatan juga dapat dipergunakan untuk menyusun suatu intervensi yang bertujuan megubah situasi yang lebih kondusif dalam membantu mempercepat menyelesaikan masalah klien yang sangat kompleks. Melalu ipendekatan proses keperawatan masalah- masalah dapat diidentifikasi secara tepat dan pengambilan keputusannya dapat dilaksanakan dengan akurat.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERBANDINGAN ANTARA PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN PROSES KEPERAWATAN

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

PROSES KEPERAWATAN

Pengumpulan data

Pengkajian:

-          Pengumpulan data

-          Interpretasi

Identifikasi masalah

Diagnosis keperawatan

Perencanaan:

-          Penentuan tujuan

-          Identifikasi solusi

Perencanaan :

-          Penentuan tujuan

-          Rencana tindakan

Implementasi

Implementasi

Evaluasi dan revisi proses

Evaluasi dan modifikasi

 

 

 

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

PENGEMBANGAN TENAGA KEPERAWATAN

PENGEMBANGAN KETENAGAAN KEPERAWATAN

 

  1. Konsep pengembangan staf

Pada umumnya program pengembangan staf ditujukan untuk meningkatkan kompetensi pekerja.

Komponen yang mempengaruhi:

  1. Interest

Adalah factor dimana dengan jalan menarik perhatian individu untuk melihat suatu obyek

  1. Education need

Adalah kebutuhan yang dapat dilihat dan diukur dengan jalan membandingkan kompetensi pekerjaan seseorang dengan kompetensi tertentu yang diharapkan dalam pekerjaan

  1. Informasi learning

Adalah perubahan perilaku baik kogniif maupun psikomotor sebagai respon dari stimulais yang dilakukan oleh guru.

  1. Tujuan
    1. Mengurangi “turn over” dengan meningkatnya rasa profesionalisme
    2. Mengingkatkan produktivitas prganisasi
    3. Menstimulasi aspirasi tingkat tinggi pada pekerja bawahan
    4. Menggerakkan pekerjaan teknikal kea rah praktek professional.

 

  1. PRINSIP DAN PROGRAM
    1. Tanggung  jawab pendidikan berkelanjutan atau professional development terletak pada staf/pekerja sendiri
    2. Pendidikan dan pelatihan à kombinasi antara teori dengan pengalaman à situasi belajar mandiri à informasi dan ketrampilan
    3. Pendidikan dan latihan adalah proses internal, personal dan emosional à metode dan teknik harus mengikutsertakan individu secara pribadi.
    4. Pendidikan akan membuat perubahan perilaku à sulit dicapai à terencana dan berkesinambungan
    5. Proses pembelajaran oorang dewasa à tidak boleh menggunakan metode otoriter à keikutsertaan staf diutamakan
    6. Materi pengajaran lebih suka aplikasi à metode problem base learning lebih cocok
    7. Hal yang paling disukai adalah reward à hal- hal yang positif à langsung diberikan
    8. Kecenderungan situasi belajar yang terintegrasi
    9. Situasi nyata à case study yang sesuai dengan pekerjaan
    10. Support organisasi à perubahan perilaku dan menyiapkan situasi kerja setelah pelatihan
    11. Belajar à fenomena yang aktif à penugasan dengan petunjuk yang terarah à efektif
    12. Peserta heterogen à berbagai metode belajar dan menggunakan media yang memberikan kepuuasan kepada peserta didik.

KUNCI UTAMA yang merupakan kondisi dasar dari “adult learning” (Dolplin 1983) adalah

  1. Motivasi
  2. Minat
  3. Transfer, menerima dan mengingat kembali
  4. Penampilan dan umpan balik

 

  1. AKTIFITAS PENGEMBANGAN STAF

Aktivitas meliputi semua training dan program pendidikan à meningkatkan penampilan kerja dan pengetahuan, ketrampilan

Aktifitas tersebut antara lain:

  1. Induction training

Adalah indoktrinasi singkat yang terstandart à 2- 3 hari untuk menjelaskan tujuan program, perarturan organisasi

  1. Orientasi

Adalah training individu yang ditujukan pada staf yang baru masuk

  1. Inservice training

Termasuk instruksi tentang pekerjaan yang harus dilakukan untuk penampilan kerja petugas

  1. Continuing education à sekolah, pelatihan
  2. CARA MENDISAIN
    1. Pengkajian
      1. Menentukan populasi untuk siapa program dilakukan
      2. Mempelajari karakteristik calon peserta didik
      3. Mempelajari kecenderungan perubahan- perubahan lingkungan
      4. Menanyakan pada calon peserta à wawancara langsung apa yang mereka perlukan à survey dari sampel populasi
      5. Input narasumber
  3. Perencanaan
    1. Menentukan tujuan
    2. Menjelaskan secara obyektif cara untuk mencapai tujuan
    3. Membuat strategi pengajran yang berhubungan dengan tujuan
    4. Merencanakan kriteria evaluasi
  4. Implementasi
    1. Mempelajari rencana yang telah dibuat
    2. Menyiapkan struktur untuk pelaksanaan rencana
    3. Memberikan pengajaran sesuai dengan rencana
    4. Meemberikan feedback dan penilaian dalam pembelajaran
  5. Evaluasi
    1. Menyusun informasi tentang penampilan kerja
    2. Mengukur hasil dibandingkan dengan tujuan dan kompetensi yang diharapkan
    3. Memberikan feedback untuk pengkajian kebutuhan selanjutnya

 

 

 

 

 

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

 

Definisi

Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumberdaya manusia, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia (Notoatmojo, 1998)

Pendidikan (formal) adalah suatu proses pengembangan kea rah yang diinginkan oleh organisasi yang bersangkutan

Pelatihan dibidang keperawatan merupakan salah satu kegiatan pengembangan staf yang bertujuan untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia (perawat) (Gillies, 1996)

Pelatihan adalah pendidikan untuk memperoleh kemahiran atau kecakapan yang menurut kamus besar bahasa Indonesia bertujuan untuk membiasakan diri agar mampu melakukan sesuatu. Untuk mencari prestasi yang baik diperlukan latihan yang terus menerus dan secara continue

Pelatihan adalah merupakan bagian dari suatu proses pendidikan yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan khusus seseorang atau kelompok orang

Pelatihan adalah proses membantu pegawai- pegawai untuk memperoleh efektifitas dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan fikiran dan tindakan kecakapan, pengetahuan dan sikap

Perbedaan pendidikan dan pelatihan

No

Uraian

Pendidikan

Pelatihan

1

Pengembangan kemampuan

Menyeluruh (overall)

Mengkhususkan (spesifik)

2

Area kemampuan

Kognitif, afektif, psikomotor

Psikomotor

3

Jangka waktu pelaksanaan

Panjang

Pendek

4

Materi yang diberikan

Lebih umum

Lebih khusus

5

Penekanan penggunaan metode belajar mengajar

Konvensional

Inkonvensional

6

Penghargaan akhir proses

Gelar (degree)

Sertifikat (non degree)

 

EFEK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

  1. Individu à meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan
  2. Organisasi à investasi

PENTINGNYA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BAGI INDIVIDU

 

  1. Mengembangkan pemimpin untuk memperoleh efektifitas pekerjaan perseorangan yang lebih besar
  2. Hubungan antar manusia dalam organisasi yang lebih baik
  3. Meningkatnya kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya

 

PENTINGNYA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BAGI ORGANISASI

  1. Penyesuaian kemampuan dalam jabatan
  2. Meningkatkan produktivitas kerja bagi karyawan
  3. Efektifitas dan efisiensi kerja

 

KOMPONEN- KOMPONEN PELATIHAN

  1. Tujuan dan sasaran pelatihan harus dapat diukur
  2. Pelatih (traineers) harus memiliki kualifikasi yang memadai
  3. Materi pelatihan harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai
  4. Metode pelatihan harus sesuai dengan tingkat kemampuan peserta pelatihan
  5. Peserta pelatihan harus memenuhi harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan

 

TUJUAN PELATIHAN

  1. Meningkatkan penghayatan jiwa dan ideology
  2. Meningkatkan produktivitas kerja
  3. Meningkatkan kualitas kerja
  4. Meningkatkan ketetapan perencanaan sumber daya manusia
  5. Meningkatkan sikap moral dan semangat kerja
  6. Meningkatkan rangsangan agar pegawai mampu berprestasi secara maksimal
  7. Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja
  8. Menghindarkan keusangan (obsolescence)
  9. Meningkatkan perkembangan pegawai

 

FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN

  1. Perbedaan individu pegawai
  2. Hubungan dengan analisa pekerjaan
  3. Motivasi
  4. Partisipasi aktif
  5. Seleksi peserta pelatihan
  6. Metode pelatihan

 

KESIMPULAN:

Program pengembangan ketenagaan harus ditunjang oleh tim akreditasi sehingga semua perencanaan tujuan, perarturan ketenagaan serta penampilan kerja staf perlu dipantau dan dikendalikan sesuai perarturan akreditasi rumah sakit.

MANAJEMEN WAKTU DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

MANAJEMEN WAKTU

DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

Oleh: Ns. Apriyani Puji Hastuti, S.Kep

 

 

 

Latar Belakang

Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan. Keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan organisasi, tergantung kepada seluruh komponen yang terlibat didalamnya, yang berinteraksi secara timbal balik untuk mencapai tujuan organisasi. 

 

Dalam suatu rumah sakit, keberhasilan organisasi ini mencapai tujuan salah satunya ditentukan oleh pelayanan keperawatan. Dengan pelayanan keperawatan yang terorganisir dengan baik maka diharapkan dapat memberikan pelayanan keperawatan yang prima yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan..

 

Dewasa ini, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dibidang keperawatan, maka tuntutan profesionalisme semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan beban kerja staf keperawatan yang semakin tinggi sementara waktu kerja sangat terbatas. Sehubungan dengan hal tersebut maka pengelolaan waktu dalam pelayanan keperawatan khususnya di rumah sakit adalah penting sekali

 

Tujuan Manajemen Waktu dalam Pelayanan Keperawatan

Efektifitas pelayanan keperawatan sangat ditentukan oleh kemampuan seorang manajer dalam melakukan pengelolaan yang tepat tentang penggunaan waktu kerja. Adapun tujuan manajemen waktu dalam pelayanan keperawatan adalah melakukan perencanaan dan pengorganisasian waktu secara efektif yang memungkinkan terselenggaranya asuhan keperawatan langsung kepada klien (meliputi : pengkajian, keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi asuhan), pendokumentasian, konsultasi dan kolaborasi, proses transasksi, transportasi, administrasi, pelayanan departemen lain, dan lain-lain.

 

Prinsip Dasar Manajemen Waktu

Untuk dapat mengelola waktu dengan tepat, maka diperlukan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar manajemen waktu agar lebih berhasil dan berdaya guna. Berikut ini prinsip dasar manajemen waktu yang penting diperhatikan :

  1. Sediakan waktu untuk perencanaan dan menetapkan prioritas
  2. Selesaikan tugas berprioritas tinggi sesegera mungkin dan tuntaskan tugas sebelum mulai tugas yang lain.
  3. Prioritaskan kembali tugas yang tersisa berdasarkan informasi baru yang terkait.

 

Tiga kategori prioritas waktu

  1. Jangan dikerjakan
  2. Kerjakan Nanti
  3. Kerjakan Sekarang

 

Tabel 1 Kategori Prioritas Waktu

 

NO

Kategori Prioritas Waktu

Kategori

Karakteristik

1.

Jangan Dikerjakan

  • Masalah dapat hilang tanpa diatasi
  • Sudah kedaluarsa
  • Dapat dikerjakan oleh orang lain

2.

Dikerjakan Nanti

  • Tidak disertai jatuh tempo
  • Dapat ditunda
  • Dapat diperlambat

 

Alasan penundaan tugas :

ü  Tidak ingin memulai

ü  Tidak tahu dari mana memulai

ü  Tidak tahu dari mana memulai meskipun ingin memulai

3.

Dikerjakan Sekarang

  • Kebutuhan unit operasional harian
  • Kegiatan-kegiatan yang telah ditunda, misal :

ü  Kebutuhan staf

ü  Kebutuhan peralatan

ü  rapat

 

 

B.   Faktor Penghambat Manajemen Waktu Efektif
  1. Prokrastinasi (Menunda pekerjaan)
  • Menulis laporan (sulit) > < membuka e-mail / data komputer (mudah)
    • Deadline membuat frustasi dan menghambat penyelesaian tugas > < Deadline menolong menyusun rencana dan prioritas daftar yang akan dikerjakan.
    • Bekerja baik dibawah tekanan waktu > < banyak waktu diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

 

  1. 2.    Perfeksionis
  • Ditumbuhkan sejak dini (sejak sekolah)
  • Dapat mengarah ke prokrastinasi, oleh karena : takut salah dan cenderung mengerjakan tugas secara berulang-ulang
  • Dapat dicegah dengan menyusun standar kerja

 

  1. Tidak Mampu membuat prioritas
  • Tidak bisa ‘memboboti’ / menilai pekerjaan : lama, urgensi (segera atau nanti) dan berat – ringannya pekerjaan.
  • Tidak bisa menyusun berbagai pekerjaan secara sistematis
  • Dapat diminimalisir dengan cara menetapkan kategori pekerjaan yaitu berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya.

 

Disamping faktor penghambat, manajemen waktu efektif juga dapat berhubungan dengan ‘penyitaan’ waktu yang dapat menghambat produktifitas kerja. ‘Penyita’ waktu dapat terjadi secara internal maupun eksternal sebagai berikut :

  1. 1.    Penyita Waktu secara Internal
  • Sifat suka menunda pekerjaan
  • Perencanaan kurang baik
  • Gagal menetapkan tujuan dan sasaran
  • Tidak mampu mendelegasikan
  • Tidak mampu mengatakan tidak
  • Terlalu banyak ‘krisis’
  • Terburu-buru
  • Ragu-ragu / tidak pasti
  • Kebijakan pintu terbuka

 

  1. 2.    Penyita Waktu Secara Eksternal
  • Telepon
  • Sosialisasi
  • Rapat-rapat
  • Kurang informasi
  • Komunikasi terbatas
  • Kurang umpan balik
  • Kurang adekuat penjelasan kebijakan / prosedur
  • Bawahan tidak kompeten
  • Sistem penyimpanan informasi jelek
  • Kertas kerja dan membaca

 

C.   Teknik Mengelola Waktu

1.      Komitmen pribadi untuk perbaikan

  1. Memutuskan apa yang tidak perlu dikerjakan
  2. Belajar mengatakan tidak
  3. Mencatat bagaimana waktu digunakan
  4. Merencanakan penggunaan waktu
  5. Menghindari pemicu penggunaan waktu yang tidak efektif
  6. Kenali waktu utama dari diri sendiri
  7. Buat program blok waktu
  8. Mengatur ruang kerja
  9. Buat catatan untuk diri sendiri : “Patut dibaca” atau “Tidak Perlu”
    1. Menghambat gangguan waktu kerja (misal : tamu tiba-tiba) dengan mengoptimalkan waktu utama.
    2. Mengatur pertemuan :
  • Mulai tepat waktu
  • Berakhir tepat waktu
  • Buat agenda dan bagikan
  • Kehadiran hanya yang diperlukan
  • Kumpulkan informasi sebelum pertemuan
  • Tepati agenda dan hindari interupsi
  •  Batasi jumlah waktu untuk agenda tertentu
  • Atur lingkungan
  • Hal-hal yang membutuhkan komunikasi satu arah, di ketik dan dibagikan
  • Hasil rapat dibagikan tidak terlalu lama sesudah rapat.
  1. Mengatur orang dengan pendelegasian yang tepat
  2. Menghindari penyita waktu

 

D.   ‘Tips’ Manajemen Waktu Efektif
  1. Buat ‘log’ waktu (harian, mingguan, bulanan)
  2. Berfokus pada ‘segera mulai’ sambil memperhitungkan tujuan yang akan dicapai
    1. Antisipasi hal-hal yang tidak terencana
    2. Mengorganisasikan pekerjaan tulis menulis :
  • Yang perlu dipasang atau dibuang
  • Kebijakan / peraturan mudah terlihat
  • Setiap lembar kerja hanya ditangani sekali
  1. Gunakan sumber-sumber dengan bijaksana
  • IPTEK dapat meningkatkan komunikasi
  • Manual, standar prosedur tidak dimasukkan dalam komputer
  • Informasi rutin dimasukkan kedalam buku atau komputer
  • Gunakan waktu yang ada hanya untuk tatap muka
  1. Menganggap positif dan memperhatikan kebutuhan personal
  • Untuk rileks, luangkan waktu untuk jalan-jalan
  • Untuk ‘space’ di antara pekerjaan
  1. Belajar mengatakan ‘tidak’
  • Tidak merasa bersalah jika menolak pekerjaan ekstra
    • Berprinsip menambah pekerjaan jika pekerjaan yang ada bisa dikurangi
    • Pilih pertemuan yang harus dihadiri (misal : pengambilan keputusan, atau kepentingan yang lebih luas)
  1. Lakukan pertemuan efektif
  • Buat agenda dan patuhi agenda
  • Tepat waktu untuk mulai dan akhir
  • Tidak ada atau hindari interupsi
  1. Mulai dan Akhiri waktu kerja secara tepat waktu
  • Prioritaskan tugas setiap hari
  • Tidak terlalu ‘perfek’ dalam menyelesaikan tugas
  • Tidak membuang-buang waktu sehingga membawa pekerjaan ke rumah

 

E.    Penutup

Profesionalisme kerja dapat dimulai dengan cara bagaimana mengelola waktu secara efektif. Seorang manajer yang efektif adalah seorang manajer yang tahu dan mampu bagaimana merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan secara tepat sehingga dapat mencapai hasil kerja yang memuaskan baik bagi pelaku maupun pengguna jasa. Dalam bidang pelayanan keperawatan, oleh karena beban kerja perawat yang tinggi dan jumlah waktu yang terbatas, maka pengelolaan waktu yang efektif sangat diperlukan agar dapat meningkatkan kualitas kerja perawatan yang pada akhirnya dapat memberikan kepuasan bagi klien dan perawat sendiri.

 

 

 

 

 

Latihan : 1                             Mendiagnosa Anda dan Waktu Anda

No

Pertanyaan

Sering

Kadang2

Jarang

1.

Apakah saudara menangani satu kertas kerja untuk satu waktu ?

 

 

 

2.

Apakah saudara memulai dan mengakhiri kegiatan tepat waktu ?

 

 

 

3.

Apakah orang lain tahu waktu terbaik menemui saudara?

 

 

 

4.

Apakah saudara mengerjakan sesuatu setiap hari yang mengarahkan saudara pada tujuan jangka panjang saudara ?

 

 

 

5.

Jika saudara menghadapi interupsi pekerjaan, dapatkah saudara kembali ke pekerjaan semula tanpa kehilangan momentum ?

 

 

 

6.

Apakah saudara menanggapi penelpon yang panjang dengan efektif ?

 

 

 

7.

Apakah saudara berfokus pada pencegahan masalah dari pada menyelesaikan masalah ?

 

 

 

8.

Apakah saudara mencapai deadline dengan waktu yang masih tersisa ?

 

 

 

9.

Apakah saudara tepat waktu untuk bekerja, untuk pertemuan dan untuk kegiatan lain ?

 

 

 

10.

Apakah saudara mendelegasikan tugas dengan baik ?

 

 

 

11.

Apakah saudara menulis daftar kegiatan harian setiap hari ?

 

 

 

12.

Apakah saudara menyelesaikan semua kegiatan yang terdaftar ?

 

 

 

13.

Apakah saudara memperbaruhi tujuan pribadi dan tujuan profesional secara tertulis ?

 

 

 

14.

Apakah meja saudara bersih dan terorganisir ?

 

 

 

15.

Dapatkah saudara menemukan hal-hal yang diperlukan dalam file saudara dengan mudah ?

 

 

 

 

Diagnosalah diri saudara, ‘seberapa efektifkah saya’ dengan cara :

Jawaban sering x 4

Jawaban kadang-kadang x 2

Jawaban jarang x 0

Nilai : ³ 49                 : Terorganisir dan mampu mengendalikan waktu

Nilai : < 49 – 24        : Orientasi waktu (monokronik), satu pekerjaan satu waktu

Nilai : £ 24                 : Frustrasi dan disorganisasi

Latihan 2                   Susunlah ‘Log’  Waktu Harian Saudara (Daily Log)

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 3                               Susunlah ‘log’ waktu kerja harian saudara

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 4                               Susunlah ‘Log’ Waktu Kerja Mingguan Saudara

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 5                               Susunlah ‘Log’ Waktu Kerja Bulanan Saudara

Urutan Kegiatan

Waktu

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi Keperawatan

Pendokumentasian dilakukan setelah pelaksanaan setiap tahap proses keperawatan keluarga dilakukan dan disesuaikan urutan waktu.Adapun manfaat dari pendokumentasian diantaranya sebagai alat komunikasi antar anggota tim kesehatan lainnya, sebagai dokumen resmi dalam sistem pelayanan kesehatan, sebagai alat pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien(Effendi, 1995).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendokumentasian menurut Potter dan Perry dalam Nur salam(2001), memberikan panduan sebagai petunjuk cara pendokumentasian dengan benar yaitu :

1.    Jangan menghapus dengan tipe -x atau mencoret tulisan yang salah. Cara yang benar adalah dengan membuat satu garis pada tulisan yang salah, tulis kata “salah” lalu diparaf kemudian tulis catatan yang benar.

2.    Jangan menulis komentar yang bersifat mengkritik klien ataupun tenaga kesehatan lain. Tulislah hanya uraian obyektif perilaku klien dan tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

3.    Koreksi kesalahan sesegera mungkin.

4.    Catat hanya fakta catatan harus akurat dan realible.

5.    Jangan biarkan pada catatan akhir perawat kosong.

6.    Semua catatan harus dapat dibaca, ditulis dengan tinta dan menggunakan bahasa yang lugas.

7.    Catat hanya untuk diri sendiri karena perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas informasi yang ditulisnya.

8.    Hindari penulisan yang bersifat umum. Tulisan harus lengkap, singkat, padat dan obyektif.

9.    Mulailah mencatat dokumentasi dengan waktu dan diakhiri dengan tanda tangan.

Dengan demikian dokumentasi keperawatan harus bersifat obyektif, akurat dan
menggambarkan keadaan klien serta apa yang terjadi pada diri klien. Sehingga
apabila diperlukan, dokumentasi ini dapat menunjukkan bahwa perawat telah
mencatat dengan benar dan tidak bertentangan dengan kebijakan atau peraturan
institusi pemberi pelayanan kesehatan

Dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian atau aktivitas yang otentik dengan mempertahankan catatan-catatan yang tertulis. Manfaat dokumentasi menurut Allen (1998) antara lain:

  • Sebagai wahana komunikasi antar tim keperawatan dan dengan tim kesehatan lain
  • Sebagai bagian yang permanen dari rekaman medik.
  • Sebagian dokumen yang legal dan dapat diterima di pengadilan.

Tueng (1996) menambahkan, dengan:

  • Untuk menghindari pemutarbalikan fakta.
  • Untuk mencegah kehilangan informasi.
  • Agar dapat dipelajari perawat lain.

Prinsip-prinsip dokumentasi menurut AIlen (1998), yaitu:

  • Tersedia format untuk dokumentasi.
  • Dokumentasi dilakukan oleh orang yang melakukan tindakan atau mengobservasi langsung.
  • Dokumentasi dibuat segera setelah melakukan tindakan.
  • Catatan dibuat kronologis.
  • Penulisan singkatan dilakukan secara umum.
  • Mencantumkan tanggal, waktu tanda tangan, dan inisial penulis.
  • Dokumentasi akurat, benar, komplit jelas, dapat dibaca dan ditulis dengan tinta.
  • Tidak dibenarkan menghapus tulisan pada catatan menggunakan tip-ex. penghapus tinta atau bahan lainnya.

Sistem pencatatan keperawatan dapat mempergunakan bermacam­-macam tipe format (Allen, 1998):

  • Lembar pengkajian

Lembar pengkajian dengan jelas menggambarkan data-data yang perlu dikurnpulkan, perawat tinggal mengisi data sesuai dengan yang tercantum dalam lembar pengkajian

  • Catatan perawat berbentuk narasi

Deskripsi informasi klien dalam bentuk naratif.

  • Catatan bentuk SOAP

Pancatatan    SOAP    digunakan dengan catatan  medik  yang berorientasi pada masalah klien (Problem Oriented Medical Record) yang menggambarkan kemajuan klien yang terus menerus ke arah resolusi masalah. Pencatatan SOAP terdiri dari empat bagian, yaitu data subyektif, data obyektif, analisis data dan rencana. Data subyektif ditulis dalam tanda kutip tentang keluhan klien yang dicatat yaitu data yang dapat dilihat,didengar dan dirasa oleh perawat; analisis dilakukan megintepretasikan data subyektif dan obyektif, kemajuan kearah diagnosa keperawatan yang dicatat. Planning dilakukan dengan mencatat rencana untuk mengatasi masalah yang dianalisa.

  • Catatan Fokus

Perawat mencatat masalah berfokus pada masalah yang spesifik yang terdiri dari komponen diagnosa keperawatan, data subyektif dan obyektif yang mendukung, tindakan keperawatan, respon klien terhadap intervensi keperawatan dan penyuluhan.

  • Grafik dan Flow sheet

Catatan flow sheet dan grafik menggambarkan data berulang klien yang harus senantiasa dipantau oleh perawat, seperti nadi, tekanan darah, obat-obatan, masukan dan pengeluaran.Pelayanan keperawatan/kebidanan merupakan pelayanan profesional dari pelayanan kesehatan yang tersedia selama 24 jam secara berkelanjutan selama masa perawatan pasien. Dengan demikian, pelayanan keperawatan dan kebidanan memegang peranan penting dalam upaya menjaga dan meningkatkan kualitas
pelayanan di rumah sakit dan puskesmas. Dokumentasi keperawatan dan kebidanan tidak hanya merupakan dokumen sah tapi juga instrumen untuk melindungi para pasien, perawat dan bidan secara sah; oleh karena itu, perawat/bidan diharapkan dapat bekerja sesuai dengan standar profesional. 

PENGERTIAN

Dokumen adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum“. Sedangkan pendokumentasian adalah pekerjaan mencatat atau merekam peristiwa dan objek maupun aktifitas pemberian jasa (pelayanan) yang dianggap berharga dan penting (Tungpalan ,1983).

Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan dan kebidanan adalah bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat dan bidan setelah memberi asuhan kepada pasien.Dokumentasi merupakan suatu informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien, kegiatan asuhan keperawatan/kebidanan serta respons pasien terhadap asuhan yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi keperawatan/ kebidanan mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasien yang menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama asuhan dilaksanakan.Disamping itu catatan juga dapat sebagai wahana komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk dipertanggungjawabkan. Dokumentasi asuhan keperawatan/kebidanan merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan/kebidanan yang dilaksanakan sesuai standar.

Dengan demikian pemahaman dan ketrampilan dalam menerapkan standar dengan baik merupakan suatu hal yang mutlak bagi setiap tenaga keperawatan/kebidanan agar mampu membuat dokumentasi keperawatan/kebidanan secara baik dan benar.

PENDOKUMENTASIAN

 Catatan pasien merupakan suatu dokumen yang legal, dari status sehat sakit pasien pada saat lampau, sekarang, dalam bentuk tulisan, yang menggambarkan asuhan keperawatan/kebidanan yang diberikan. Umumnya catatan pasien berisi imformasi yang mengidentifikasi masalah, diagnosa keperawatan dan medik, respons pasen terhadap asuhan kerawatan/kebidanan yang diberikan dan respons terhadap pengobatan serta berisi beberapa rencana untuk intervensi lebih lanjutan.Keberadaan dokumentasi baik berbentuk catatan maupun laporan akan sangat membantu komunikasi antara sesama perawat/ bidan maupun disiplin ilmu lain dalam rencana pengobatan.

KOMPONEN MODEL DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Kegiatan konsep pendokumentasian meliputi :

1. Komunikasi

Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang, dan yang akan dikerjakan oleh perawat.

2. Dokumentasi proses keperawatan

Pencatatan proses keperawatan merupakan metode yang tepat umtuk pengambilan keputusan yang sistematis, problem solving, dan riset lebih lanjut. Dokumentasi proses keperawatan mencakup pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, dan tindakan. Perawat kemudian Mengobservasi dan mengevaluasi respon klien terhadap tindakan yang diberikan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada tenaga kesehatan lainnya.

3. Standar dokumentasi

Perawat memerlukan sesuatu keterampilan untuk memenuhi standar dokumentasi. Standar dokumentasi adalah suatu pernyataan tentang kualitas dan kwantitas dokumentasi yang dipertimbangkan secara adekuat dalam suatu situasi tertentu. Standar dokumentasi berguna untuk memperkuat pola pencatatan dan sebagai petunjuk atau pedoman praktik pendokumentasian dalam memberikan tindakan keperawatan.

TUJUAN UTAMA DOKUMENTASI

Tujuan utama dari pendokumentasian adalah :

  1. Mengidentifikasi status kesehatan klien dalam rangka mencatat kebutuhan klien,merencanakan, melaksanakan tindakan keperawatan, dan mengevaluasi tindakan.
  2. Dokumentasi untuk penelitian, keuangan, hukum dan etika.

MANFAAT DAN PENTINGNYA DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Dokumentasi keperawatan mempunyai makna yang penting bila dilihat dari berbagai aspek :

  1. Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi kepoerawatan, dimana perawat sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa, maka dokumentasi diperlukan sewaktu-waktu. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.
  2. Jaminan mutu (kualitas pelayanan). Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan mutu yankep.
  3. Komunikasi,  Dokumentasi keadaan klien merupakan alat perekam terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan.
  4. Keuangan,  Semua tindakan keperawatann yang belum, sedang, dan telah diberikan dicatat dengan lengkap dan dapat digumakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.
  5. Pendidikan,  Isi pendokumentasian menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.
  6. Penelitian,  Data yang terdapat di dalam dokumentasi keperawatan mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.
  7. Akreditasi,  Melalui dokumentasi keperawatan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi keperawatan dalam memberikan askep pada jklien. Dengan demikian dapat diambil kesimoulan tingkat keberhasilan pemeberian askep yang diberikan, guna pembinaan lebih lanjut.

METODE DOKUMETASI PENGKAJIAN

Dokumentasi pengkajian dirtujukan pada data klinik dimana perawat dapat mengumpulkan dan mengorganisisr dalam catatan kesehatan. Format pengkajian meliputi data dasar, flowsheet dan catatan perkembangan lainnyayang memungkinkan seagai alat komuniksi bagi tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lainnya.

Petunjuk penulisan pengkajian:

1.  Gunakan format yang sistematis untuk mencatat pengkajian yang meliputi :

  • Riwayat pasien masuk rumah sakit
  • Respon klien yang berhubungan dengan persepsi kesehatan klien
  • Riwayat pengobatan
  • Data pasien rujukan, pulang dan keuangan
  1. Gunakan format yang telah tersususn untuk pencatatan pengkajianPendekatan :

*        mayor body system

*        Sistem respirasi

*        Sistem kardiovaskular

*        Sistem persarafan

*        Sistem perkemihan

*        Sistem pencernaan

  1. Kelompokkan data-data berdasarkan model pendekatan yang digunakan (seperti tabel diatas)
  2. Tulis data objektif tanpa bias (tanpa mengartikan), menilai memasukkan pendapat pribadi.
  3. Sertakan pernyataan yang mendukung interpretasi data objektif.
  4. Jelaskan oervasi dan temuan secara sistematis, termasuk devinisi karakteristiknya
  5. Ikuti aturan atauran atau prosedur yang dipakai dan disepakati instansi
  6. Tuliskan ecara jelas dan singkat

PENDOKUMENTASIAN DIAGNOSA KEPERAWATAN.

Petunjuk untuk penulisan diagnosa keperawatan meliputi :

1.   Pemakaian PE dan PES : untuk format diagnosa aktual, kecuali ketika petugas yang berbeda mengambil tindakan segera (untuk contoh, tanda dan gejala pencatatan, sebelum dan sesudah diagnosa)

a.    Yakinkan masalah pengyeab utama dalam diagnosa sejalan dengan etiologi, contoh : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhuungan dengan mual dan muntah.

b.    Tulis pernyataan supaya permasalahan dan etiologi menunjukkan spesifik dan hasil yang berbeda

c.     Jika penyebab tidak dapat ditentukan menentukan problem dan dokumentasi yang tak dikenal etiologinya maka diagnosa keperawatan bisa dituliskan pernyataan komunikasi verbal untuk pasien yang tidak diketahui etiologinya

2. Catat diagnosa keperawatan potensial dalam sebuah problem/format etiologi

3. Pemakaian terminologi tetap dengan diagosa keperawatan karangan Nanda sehuungan dengan (diantara problem dan etiologi ) dan dibanding dengan (diantara etiologi, sign dan sympton) tergantung bahasa, jika masalah tidak selesai menurut nanda

4 .Merujuk pada daftar yang dapat diterima, bentuk diagnosa keperawatan untuk catatan standar dalam saku atau ringkasan

5. Mulai pernyataan diagnosa dengan menguabah redaksinya ke dalam keadaan diagnosa keperawatan

6. Pastikan data mayor dan penunjang data minor karakteristik pendefinisian diperoleh dokumentasi abgian pengkajian pasien untuk menegakkan diagnosa keperawatan

7. Pernyataan awal dalam perencanaan keperawatan didaftar masalah dan nama dokumentasi dalam catatan perawatan. Pemakaian masing-masing diagnosa keperawatan sebagai petunjuk untuk membuat catatan perkembangan.

8. Hubungkan pada tiap-tiapdiagnosa keperawatan bila merujuk dan memberikan laporan perubahan.

9. Setiap pergantian jaga perawat, gunakan dignosa keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, tindakan dan evaluasi.

10. Catat bahan perawatan adalah dasar untuk pertimbangan darilangkah-langkah proses keperawatan.

11. Pencatatan semua diagnosa keperawtaan harus merefleksikan dimensi dalam masalah yang berosientasi pada pencatatan perawat

12. Suatu agenda atau pencatatan mungkin memerlukan untuk membuat diuagnosa keperawatan dan sisitem pencatatan yang relevan

DOKUMENTASI RENCANA TINDAKAN

Rencana tindakan keperawatan mencakup tiga hal meliputi :
1. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan harus merupakan prioritas untuk merawat klien. Hal tersebut harus menyangkut langsung kearah situasi yang mengancam kehidupan klien.

2. Kriteria hasil

Setiap diagnosa keperawatan hartus mempunyai sedikitnya satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan tujuan yang diharapkan yang mencerminkan masalah klien

3.Rencana tindakan keperawatan

Tindakan keperawatan adalah memperoleh tanggung jawa mandiri, khususnya oleh perawat yang dikerjakan bersama dengan perintah medis berdasarkan maslaah klien dan antuan yang dterima klien adalah hasil yang diharapkan. Masing-masing masalah klien dan hasil yang diharapkan didapatkan paling sedikit dua rencana tindakan.

Petunjuk penulisan rencana tindakan yang efektif:

  1. Sebelum menuliskan rencana tindakan, kaji ulang semua data yang ada sumber data yang memuaskan meliputi :

*        Pengkajian sewaktu klien masuk rumah sakit

*        Diagnosa keperawatan sewaktu masuk rumah sakit

*        Keluahan utama klien ataualasan dalam berhuungan dengan pelayanan kesehatan

*        Laboratorium ritme

*        Latar belakang sosial budaya

*        Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik

*        Observasi dari tim kesehatan lain

2.  Daftar dan jenis masalah aktual resiko dan kemungkinan. Berikan prioritas utama  pada maslah aktual yang mengancam kesehatan,

3.   Untuk mempermudah dan bisa dimengerti dalam memuar rencana tindakan erikanlah ganbaran dan ilustrasi (contoh) bila mungkin diagnosa khususnya sangat membantu ketika teknologi canggih digunakan untuk perawtan klien atau ketika menggambarkan lokasi anatomi.

4.   Tuliskan dengan jelas khusus, terukur, kriteria hasil yang diharapkan untuk mentapakan masalah ersama dengan klien tentukan keterampilan kognitif, afektif dan psikomotor yang memerlukan perhatian.

5.   Selalu ditanda-tangani dan diberi tanggal rencana tindakan, hal ini perting karena seorang perawat profesionalakan bertanggung jawab dan ertanggung gugat untuk melaksanan rencana tindakan yang telah tertulis.

6.   Mulai rencana tindakan dengan menggunakan action verb

*        Catat tanda-tanda vital setiap pergantian dines

*        Timbang B setiap hari

*        Informasikan kepada klien alasan isolasi

7.   Alasan prinsip specivity untuk menuliskan diagnosa keperawatan.:

*        Bagaimana prosedur akan dilaksanakan Kapan dan berapa lama

*        Jelaskan secara singkat keperluan apa yang perlu dipenuhi, termasuk tahapan-tahapan tindakan.

8.   Tuliskan rasional dari rencana tindakan.

9.   Rencana tindakan harus selalu tertulis dan ditanda-tangani

10. Rencana tindakan harus dicatat seagai hal yang permanen

11. Klien dan keluarganaya jika memungkinkan diikutsertakan dalam perencanaan

12. Rencana tindakan harus sesuai dengan waktu yangditentukan dan diusahakan  untuk selalu diperbaharuai misalnya setiap pergantian dines, setiap hari, dan atau sewaktu-waktu diperlukan.

DOKUMENTASI INTERVENSI/ TINDAKAN KEPERAWATAN

            Perencanaan dan tindakan keperawatan adalah tahap dalam proses keperawatan berdasarkan masalah actual dari klien. Maksud dokumentasi adalah menemukan secara tepat sebagai gambaran intervensi keperawatan yang meliputi :

  1. Intervensi terapeutik

            Tindakan terapeutik adalah askep yang langsung sesuai keadaan klien. Rencana keperawatan yng lebih dari satu harus di kerjakan sungguh-sungguh sesuai prioritas masalah dalam diagnosa keperawatan

  1. Intervensi pemantapan/ observasi

            Proses ini membutuhkan ketajaman observasi perawat termasuk keterampilan mengevaluasi yang tepat. Progam yang lebih dari yang sangat menetukan kesehatan klien. Perawat harus lebih melihat perkembangan yang baik dan buruk dari klien seperti:

  • Mengobservasi tanda vital.
  • Diagnosa Keperawatan
  • Tindakan Keperawatan (Terapeutik)
  • Therapi Medicus
  • Ketidak efektifan bersihan jalan nafas
  • Cemas
  • Penurunan Cardiac out put
  • Mengatur posisi untuk pemberian Oksigen
  • Suction bila tidak ada kontra indikasi
  • Mengajarkan tehnik batuk
  • Mengambil sample blood gas arteri
  • Mengajarkan kegiatan untuk mengurangi stress
  • Mengatur lingkungan yang aman
  • Mengalihkan orientasi yang realitas
  • Atur posisi fowler/semi fowler
  • Mengurangi pergerakan
  • Mengatur lingkungan yang merangsang
  • Mengatur pemberian Oksigen
  • Pemberian obat ekspektoran
  • Memeriksa sputum
  • Mengukur blood gas arteri
  • Memberi obat transquilizer sedative
  • Mengurangi diet yang mengandung sodium
  • Infus cairan elektrolit sesuai BB
  • Memberikan obat untuk meningkatkan cardiac out put.

Dokumentasi intervensi Mengidentifikasi mengapa sesuatu terjadi terhadap klien, apa yang terjadi, kapan, bagaimana, dan siapa yang melakukan intervensi :

*        Why : Harus dijelaskan alasan tindakan harus dilaksanakan dan data yang ada dari hasil dokumentasi pengkajian dan diagnosa keperawatan

*        What : Ditulis secara jelas, ringkas dari pengobatan atau tindkan dalam bentuk action verb

*        When : Mengandung aspek yang penting dari dokumentasi intervensi. Pencatatan pada waktu pelaksaan intervensi sangat penting dalam hal pertanggung jawaban hukuj dan efektifitas tertentu

*        How : Tindakan dilaksanakan dalam penambahan pencatatn yang lebih detail. Misalnya, “ miringkanan atau kiri dengan bantuan perawat.” Menandakan suatu prinsip ilmiah dan rasional dari rencana tindakan. Metode ini akan bisa meningkatkan dalam upaya-upaya penggunaan prosedur keperawatan yng tepat.

*        Who : siapa yang melaksanakan intervensi harus selalu dituliskan pada dokumnetasi serta tanda tangan sebagai pertanggung jawaban

Intervensi yang memerlukan suatu dokumnetasi khusus
Ada dua dokumentasi yang memerlukan dokumnetasi khusus yaitu :
1. Prosedur invasive

Tindakan invasive merupakan bagian yang penting dari proses keperawatan, Karena memerlukan pengetahuan tentang IPTEK yang tinggi. Untuk itu pengetahuan lanjutan di perlukan dalam upaya meningkatkan tanggung jawab dalam pemberian intervensi. Misalnya perawat memberika tranfusi, kemoterapi, memasang kateter. Tindakan tersebut di atas kan membawa resiko yang tinggi pada klien terhadap komplikasi, yang tentunya perlu infomed consent sebelum tindakan di laksanakan.

  1. Intervensi mendidik klien

Perawat berperan penting dalam mengenal kebutuhan belajar klien dalam rencana mendidik klien dan memelihara laporan kegiatannya. Membutuhkan Pendidikan. Contoh rencana Pendidikan yang berlawan dengan pendikan yang dilaksanakan secara kebetulan sebagai berikut : Rencana pendidikan Pendidikan yang dilaksanakan secara kebetulan

  1. Kebutuhan belajar pasien termasuk seluk beluk belajar objektif dan strategi mengajar
  2. Kegiatan yang dilaksanakan sesuai jadwal
  3. Melaksanakan perawatan secar kontinyu mengenai kebersihan diri setelah kembali kerumah
  4. Meneberikan nasehat dan dorongan secara umum yang berkesinambungan
  5. Memberikan kesempatan selama pertemuan untuk mengenal car belajar
  6. Mengenal pelajaran yang kurang dan membutuhkan rencana belajar secara formal

DOKUMENTASI EVALUASI PERAWATAN

Pernyataan evaluasi perlu didokumentasikan dalam catatan kemajuan, direvisi dalam rencana perawatan atau dimasukkan dalam ringkasan khusus dan dalam pelaksanaan dan entu perencanaan. Pedoman untuk pendokumentasian evaluasi

  1. Sebelum kesimpulan evaluasi dengan data yang mendukung penilaian perawat. Contoh data pendukung (untuk klien dengan myocar infark) : tidak ada dispnea. Penilaian perawatannya : toleransi aktifitas meningkat.
  2. Mengikuti dokumentasi intervensi keperawatan dengan pernyataan evaluasi formatif yang menjelaskan respon cepat klien terhadap intervensi keperawatan atau prosedur. Contohnya mengantuk setelah minum obat
  3. Menggunakan pernyataan evaluasi sumatif ketika klien dipindahkan ke vasilitas lain atau dipulangkan
  4. Catatan evaluasi sumatif untuk setiap hasil yang diharapkan diidentifikasikan pada perencanaan keperawatan klien, bisa berjalan 500 kaki dan menaiki 12 tangga tanpa bantuan. Evaluasi sumatif : dapat berjalan 200 kaki tanpa alat bantu dan dapat naik turun 6 tangga tanpa bantuan.
  5. Menulis pernyataan evaluasi yang merefleksikan keadaan perkembangan klien terhadap tujuan, pemasukan yang sesuai dicatat sebagai berikut : kontrol sakit yang tidak efektif setelah medikasi, terus tanpa henti, penghilang rasa sakit dari medikasi berlangsung selama 30 menit.
  6. Melalui suatu penilaian atau modifikasi intervensi, mengawali dan mendokumentasikan respon perawat untuk mengubah kondisi klien. Contoh : kesehatan klien memburuk, : jam 09.00 mengeluh salit di pusat seperti ditikam.

hak

HANDOUT HAK

 

PENGERTIAN HAK

            Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas

HAK DARI SUDUT HUKUM

            Hak mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu untuk mengendalikan situasi, misalnya seseorang mempunyai hak untuk masuk restoran dan membeli makanan yang diinginkannya. Dalam hal ini jika ditinjau dari sudut hukum, orang yang bersangkutan mempunyai kewajiban tertentu yang menyertainya yaitu orang tersebut diharuskan atau diwajibkan untuk berperilaku sopan dan membayar makanan tersebut.

HAK DARI SUDUT PRIBADI

Hak dilihat dari sudut pribadi, yang telah disesuaikan dengan perkembangan etis antara lain mengatur kehidupan seseorang berdasarkan konsep benar atau salah, baik atau buruk yang ada di llingkungan tempat ia hidup dan tinggal dalam kurun waktu tertentu.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN KONSEP PRIBADI DARI HAK- HAK SESEORANG

  1. Hubungan sosial dengan keluarga, antar keluarga maupun dengan lingkungan
  2. Pendidikan dari orang tua
  3. Kebudayaan
  4. Informasi yang diperoleh

 

PERANAN HAK

  1. Hak dapat digunakan sebagai pengekspreian kekuasab dalam konflik antara seseorang dengan kelompok

Contoh: seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai hak untuk menginstruksikan pengobatan yang ia inginkan untuk kliennya. Disini terlihat bahwa dokter tersebut mengekspresikan kekuasaanya untuk menginstruksikan pengobatan kepada klien. Hal ini merupakan haknua selaku penanggung jawab medis.

  1. Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan

Contoh: seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatannya, mendapat kritikan kerena terlalu lama menghabiskan waktunya bersama klien. Perawat tersebut dapat mengatakan bahwa ia mempunyai hak untuk memberikan asuhan keperawatan yang terbaik untuk klien sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, perawat tersebut mempunyai hak melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien/ klien.

  1. Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan

Seseorang seringkali dapat menyelesaikan perselisihan dengan menuntut hak yang juga dapat diakui oleh orang lain.

Contoh: seorang perawat menyarankan kepada pasien agar tidak keluar ruangan selama hospitalisasi. Pada situasi tersebut, klien marah karena tidak setuju dengan saran perawat dan klien tersebut mengatakan pada perawat bahwa ia juga punya hak untuk keluar dari ruangan bilamana ia mau.

Dalam hal ini, perawat dapat menerima tindakan pasien sepanjang tidak merugikan kesehatan pasien. Bila tidak tercapai kesepakatan karena membatasi pasien, berarti ia mengingkari kebebasan pasien.

 

JENIS- JENIS HAK

Hak terdiri dari 3 jenis yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan dan legislatif

  1. Hak kebebasan

Hak mengenai kebebasan diekspresikan sebagai hak- hak orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya dalam batas- batas yang ditentukan. Misalnya seorang perawat wanita yang bekerja di suatu rumah sakit dapat memakai seragam yang diinginkan (haknya) asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas- batas. Dalam contoh tersebut terdapat dua hal penting yaitu sebagai berikut:

  1. Batas- batas kesopanan tersebut merupakan kebijakan rumah sakit
  2. Warna putih dan sopan merupakan norma yang diterapkan untuk perawat
  3. Hak kesejahteraan

Hak yang diberikan secara hukum untuk hal- hal yang merupakan standart keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu. Misalnya hak pasien untuk memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk untuk memperoleh air yang bersih, dll.

  1. Hak legislatif

Hak legislatif diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan. Misalnya seorang wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena- mena oleh suaminya. Hak legislatif mempunyai empat peranan di masyarakat yaitu membuat perarturan, mengubah perarturan, membatasi moral terhadap perarturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan perselisihan.

 

 

 

Hak- hak kelompok khusus

Kelompok khusus adalah:

  1. Individu dengan cacat fisik dan mental
  2. Individu yang akan meninggal
  3. Individu dengan retardasi mental, dengan IQ kurang dari normal (100), debil (74-99), imbisil (50-75) dan idiot (<50)
  4. Wanita hamil
  5. Individu lansia
  6. Anak- anak

 

HAK DAN KEWAJIBAN MENURUT UU RI

Hak- hak individu dengan cacat fisik dan mental

  1. Hak mendapat penghargaan dan martabat sebagai manusia sehingga dapat menikmati kehidupan sepenuhnya dan sebaik mungkin.
  2. Hak sebagai penduduk dan berpolitik sesuai kemauan dan kemampuannya
  3. Hak atas tindakan yang telah diterapkan agar mereka dapat percaya diri
  4. Hak memperoleh tindakan atau pengobatan medis, psikologis, fungsional (penggunaan alat bantu) seperti protesa, rehabilitasi, sosial, pendidikan, dsb, yang memungkinkan dikembangkannya kemampuan dan atau ketrampilan secara maksimal agar dapat mempercepat proses integrasi dan reintegrasi sosial
  5. Hak memperoleh kesejahteraan sosial dan ekonomi pada tingkat kehidupan yang layak (sesuai dengan kemampuannya untuk mendapatkan pekerjaan)
  6. Hak mendapatkan kebutuhan spesifik dan harus dipertimbangkan dalam semua tingkat perencanaan baik sosial atau ekonomi
  7. Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orag tua angkat dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial, kreatif atau rekreasi
  8. Hak mendapatkan perlindungan terhadap hal- hal yang menyangkut diskriminasi atau tindakan kejam dari pihak lain
  9. Mereka harus mampu menggunakan kesempatan dan memanfaatkan batuan hukum apabila bantuan tersebut diperlukan untuk pribadi atau mempertahankan hak- hak yang dimiliki
  10. Organisasi orang cacat dapat berkonsultasi kepada instansi atau lembaga terkakit mengenai hal- hal yang menyangkut hak- hak mereka
  11. Orang- orang dengan kecacatan, keluarga dan masyarakat harus diberikan informasi tentang hak- hak mereka

 

HAK- HAK INDIVIDU YANG AKAN MENINGGAL

  1. Hak diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup sampai ajal tiba
  2. Hak mempertahankan harapannya tidak peduli apapun perubahan yang terjadi
  3. Hak mendapatkan perawatan yang dapat mempertahankan harapannya apapun perubahan yang terjadi
  4. Hak mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian yang sedang dihadapinya.
  5. Hak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatannya
  6. Hak memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara berkesinambungan, walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyaman
  7. Hak untuk meninggal dalam kesendirian
  8. Hak untuk bebas dari rasa sakit
  9. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaanya secara jujur
  10. Hak untuk memperoleh bantuan dari perawat atau medis untuk keluarga yang ditinggalkan agar dapat menerima kematiannya
  11. Hak untuk meninggal dalam damai dan bermartabat
  12. Hak untuk tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang bertentangan dengan kepercayaan yang dianutnya
  13. Hak untuk mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang bersangkut meninggal
  14. Hak untuk memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya, apapun artinya bagi orang lain
  15. Hak untuk mendapatkan perawatan dari orang yang profesional, yang dapat mengerti kebutuhan dan kepuasan dalam menghadapi kematian.

 

HAK- HAK INDIVIDU DENGAN RETARDASI MENTAL

  1. Hak menunjukan tingkat maksimum dari kemampuannya yang sama dengan orang lain
  2. Hak memperoleh asuhan medis, fisioterapi, pendidikan, latihan, rehabilitasi serta bimbingan yang tepat yang sesuai dengan kemampuan dan potensial yang maksimal
  3. Hak memperoleh standart hidup yang layak dan keamanan dalam hal ekonomi dan berhak melakukan pekerjaan yang produktif sesuai dengan kemampuannya.
  4. Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orang tua angkat dan berpartisipasi dalam berbagai bentuk kehidupan dalam masyarakat secara layak, bila mungkin
  5. Hak atas penjagaan apabila diperlukan untuk melindungi diri dan kepentingannya
  6. Hak mendapatkan perlindungan atas tindakan kekerasan, apabila dituntut atas suatu pelanggaran, ia berhak mendapatkan pertimbangan hukum dan pengakuan penuh terhadap tanggung jawab mentalnya.
  7. Apabila mereka tidak mempunyai kemampuan karena keadaan cacatnya yang berat, mereka dapat dilatih untuk memahami hak mereka melalui prosedur yang berlaku yang didasarkan pada evaluasi seorang ahli.
  8. Hak memperoleh perawatan, bila diperlukan, dari orang yang berpengetahuan dan mengerti akan kebutuhannya serta dapat membantu dalam menghadapi kesulitan memperoleh pengakuan terhadap dirinya.

 

HAK- HAK WANITA HAMIL

  1. Wanita hamil berhak memperoleh informasi tentang obat yang diberikan kepadanya dan pelaksanaan prosedur oleh petugas kesehatan yang merawatnya, terutama yang berkaitan dengan efek- efek yang mungkin terjadi secara langsung maupun tidak langsung, resiko bahaya yang mungkin terjadi secara langsung maupun tidak langsung, resiko bahaya yang mungkin terjadi pada diri atau bayinya selama masa kehamilan, melahirkan dan laktasi.
  2. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang hal- hal yang menyangkut persiapan kelahiran dan cara- cara mengatasi ketidaknyamanan dan stress serta informasi sedini mungkin tentang kehamilan.
  3. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang obat- obatan yang diberikan kepadanya serta pengaruhnya secara langsung maupun tidak langsung terhadap bayi yang dikandungnya.
  4. Wanita hamil yang akan dioperasi cesar, sebaiknya diberi premedikasi sebelum operasi
  5. Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi pengaruh terhadap fisik, mental, maupun neurologis terhadap pertumbuhan bayinya.
  6. Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama obat dan nama pabriknya, bila diperlukan, sehingga dapat memberikab keterangan kepada petugas yang profesional bila terjadi reaksi terhadap obat tersebut.
  7. Waita hamil berhak untuk membuat keputusan tentang diterima atau ditolaknya suatu terapi yang dianjurkan setelah mengetahui kemungkinan resiko yang akan terjadi pada dirinya, tanpa tekanan dari pihak lain.
  8. Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama dan kualifikasi orang yang memberikan obat atau melakukan prosedur selama melahirkan
  9. Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi tentang keuntungan suatu prosedur bagi bayi dan dirinya sesuai indikasi medis
  10. Wanita hamil berhak untuk didampingi oleh orang yang merawatnya selama dalam stress persalinan
  11. Setelah melakukan konsultasi medis, wanita hamil berhak untuk memilih posisi melahirkan yang tidak menimbulkan stress bagi diri sendiri maupun dirinya
  12. Wanita hamil berhak untuk meminta agar perawatan bayinya dilakukan satu kamar dengannya, bila bayinya normal dan dapat memberi minum bayinya sesuai kebutuhan dan bukan menurut aturan rumah sakit.
  13. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang orang yang menolong persalinannya serta kualifikasi profesionalnya untuk kepentingan surat keterangan kelahiran
  14. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang kondisi diri sendiri dan bayinya yang dapat menimbulkan masalah atau penyakitnya di kemudian hari.
  15. Wanita hamil berhak atas dokumen lengkap tentang diri dan bayinya termasuk catatan perawat yang disimpan dalam kurun waktu tertentu.
  16. Wanita hamil berhak untuk menggunakan dokumen medis lengkap, termasuk catatan perawat dan bukti pembayaran selama dirawat di rumah sakit

 

HAK INDIVIDU LANSIA

  1. Hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai harga diri dan martabat
  2. Hak menikmati kehidupan pada masa tua, tanpa tekanan
  3. Hak mendapatkan perlindungan dari keluarga dan instansi yang berwenang
  4. Hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal
  5. Hak untuk tinggal di lingkungan kerja atau panti, bila ia menginginkannya
  6. Hak memperoleh pendidikan yang dibutuhkannya untuk menghabiskan sisa hidupnya, misalnya pendidikan agama dan sebagainya
  7. Hak berekreasi dan mengatur hobinya, bila diinginkan
  8. Hak untuk dihargai dan menghargai dirinya dan orang lain
  9. Hak menerima kasih sayang dari anak, keluarga dan masyarakat

 

HAK ANAK

            UU RI no 23 tahun 1992 tentang kesehatan, BAB V Upaya Kesehatan  pasal 7 ayat 1 dan 2 :

Ayat 1: kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak

Ayat 2: kesehatan anak dilakukan melakukan peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi, usia pra sekolah dan usia sekolah

 

PERENCANAAN DAN PEMBAGIAN TENAGA KEPERAWATAN

PERENCANAAN DAN PEMBAGIAN KETENAGAAN KEPERAWATAN

Oleh: Ns. Apriyani Puji Hastuti, S.Kep

 

Perencanaan merupakan fungsi organic manajemen yang merupakan dasar atau titik tolak dan kegiatan pelaksanaan kegiatan tertentu dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Apabila proses perencanaan dilakukan dengan baik akan memberikan jaminan pelaksanaan kegiatan menjadi baik sehingga dapat mencapai tujuan organisasi yang akan diciptakan, pengadaan dan penggunaan tenaga kerja, system dan prosedur yang hendak digunakan serta peralatan yang dibutuhkan untuk kelancaran suatu kegiatan. Perencanaan harus memenuhi prinsip yang sesuai dengan situasi dan kondisi suatu organisasi.

Perencanaan tenaga keperawatan harus disesuaikan  dengan kebutuhan dan tujuan pelayanan keperawatan yang optimal dan bermutu tinggi. Perencanaan ketenagaan menjadi permasalahan besar diberbagai organisasi keperawatan seperti di tatanan rumah sakit, perawatan di rumah dan tempat- tempat pelayanan keperawatan lain. Oleh karena itu, perencanaan ketenagaan harus sesuai dengan ketentuan atau pedoman yang berlaku, tenaga yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan keperawatan harus sesuai dengan standart keperawatan yang ada.

Perencanaan tenaga keperawatan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain lingkungan (external change), keputusan, organisasi yang dapat berbentuk pension, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kematian. Perencanaan ketenagaan merupakan suatu proses yang komplek yang memerlukan ketelitian dalam menerapkan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan dalam mencapai tujuan organisasi. Jumlah tenaga yang ada perlu ditata atau dikelola dalam melaksanakan kegiatan melalui penjadwalan yang sistematis dan terencana secara matang sehingga kegiatan yang dilakukan secara optimal.

  1. Prinsip perencanaan

Menurut Siagian (1983) perencanaan yang baik harus memiliki prinsip:

  1. Mengethui sifat atau cirri suatu rencana yang baik yaitu
    1. Mempermudah tercapainya tujuan organisasi karena rencana merupakan suatu keputusan yang menentukan kegiatan yang menentukan kegiatan akan dilakukan dalam rangka mencapai tujuan
    2. Dibuat oleh orang yang benar- benar memahami tujuan organisasi
    3. Dibuat oleh orang yang sungguh- sungguh mendalami teknik perencanaan
    4. Adanya suatu perincian yang teliti, yang berarti rencana harus segera diikuti program kegiatan terperinci.
    5. Tidak boleh terlepas dari pelaksanaan artinya harus tergambar bagaimana rencana tersebut dilaksanakan
    6. Bersifat sederhana yang berarti disusun secara sistematis dan prioritasnya jelas terlihat
    7. Bersifat luwes, yang berarti bias diadajab penyesuaian bila ada perubahan
    8. Terdapat tempat pengambilan resiko karena tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi pada masa yang akan dating.
    9. Bersifat praktis, yang berarti bias dilaksanakan sesuai dengan kondisi organisasi
    10. Merupakan prakiraan atau peramalah atas keadaan yang mungkin terjadi

 

  1. Memandang proses perencanaan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang harus dijawab dengan memuaskan menggunakan pendekatan 5W1H

What     : kegiatan apa yang harus dijalankan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah disepakati?

Where  : dimana kegiatan akan dilakukan?

When    : kapan kegiatan tersebut dilakukan?

Who      : siapa yang melakukan kegiatan tersebut

Why       : mengapa kegiatan tersebut perlu dilakukan?

How       : bagaimana cara melaksanakan kegiatab tersebut kea rah pencapaian tujuan

  1. Memandang proses perencanaan sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dengan menggunakan teknik ilmiah artinya harus disususn dengan cara sistematis dan didasarkan pada langkah sebagai berikut.
    1. Mengetahui sifat hakiki dan masalah yang dihadapi
    2. Mengetahui data yang akurat sebelum menyusun rencana
    3. Menganalisis dan menginterpretasi data yang telah terkumpul
    4. Menetapkan beberapa alternative pemecahan masalah
    5. Memilih cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah
    6. Melaksanakan rencana yang telah tersusun
    7. Menilai hasil yang telah dicapai

Jika ketiga prinsip tersebut dilaksanakan, maka dapat tersusun suatu perencanaan yang baik termasuk perencanaan tenaga keperawatan.

  1. PERENCANAAN TENAGA KEPERAWATAN

Perencanaan tenaga atau staffing merupakan salah satu fungsi utama seorang pemimpin organisasi, termasuk organisasi keperawatan. Keberhasilan suatu organisasi salah satunya ditentukan oleh kualitas SDM. Hal ini berhubungan erat dengan bagaimana seorang pimpinan merencanakan ketenagaan di unit kerjanya.

Langkah perencanaan tenaga keperawatan menurut Gilies 1994 meliputi hal- hal sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi bentuk dan beban pelayanan keperawatan yang akan diberikan
  2. Menentukan kategori perawat yang akan ditugaskan untuk melaksanakan pelayanan keperawatan
  3. Menentukan jumlah masing- masing kategori perawat yang dibutuhkan
  4. Menerima dan menyaribng untuk mengisi posisi yang ada
  5. Melakukan seleksi calon- calon yang ada
  6. Menentukan tenaga perawat sesuai dengan unit atau shift
  7. Memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas pelayanan keperawatan

Penentuan tenaga keperawatan dipengaruhi oleh keinginan untuk menggunakan tenaga keperawatan yang sesuai. Untuk lebih akuratnya selain perencanaan tenaga keperawatan, maka pimpinan  keperawatan harus mempunyai keyakinan tertentu dalam organisasinya seperti:

  1. Rasio antara perawat dan klien didalam ruangan perawatan intensif adalah 1: 1 atau 1:2
  2. Perbandingan perawat ahli dan terampil di ruang medikal bedah, kebidanan, anak dan psikiatri adalah 2:1 atau 3:1
  3. Rasio antara perawat dan klien shift pagi dan sore adalah 1:5 untuk malam hari du ruang rawat dan lain- lain 1:10

Jumlah tenaga terampil ditentukan oleh tingkat ketergantungan klien.

 

  1. PERKIRAAN KEBUTUHAN TENAGA

Penetapan jumlah tenaga keperawatan harus disesuaikan dengan kategori yang akan dibutuhkan untuk asuhan keperawatan klien di setiap unit. Beberapa pendekatan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah staf yang dibutuhkan berdasarkan ketegori klien yang dirawat, rasio perawat dan klien untuk memenuhi standart praktek keperawatan.

Kategori perawatan klien:

  1. Perawatan mandiiri (self care) yaitu klien memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindakan keperawatan dan pengobatan. Klien melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri
  2. Perawatan sebagian (partial care) yaitu klien memerlukan bantuan sebagian dalam tindakan keperawatan dan pengobatan tertentu misalnya pemberian obat intravena, mengatur posisi, dsb
  3. Perawatan total (total care) yaitu klien yang memerlukan bantuan secara penuh dalam perawatan diri dan memerlukan observasi secara ketat
  4. Perawatan intensif (intensive care) yaitu klien memerlukan obervasi dan tindakan keperawatan yang terus menerus

Cara menentukan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk setiap unit sebagai berikut:

  1. Rasio perawat klien disesuaikan dengan standart perkiraan jumlah klien sesuai data sensus
  2. Pendekatan teknik industri yaitu identitas tugas perawat dengan menganalisis alur kerja perawat atau work flow rata- rata frekuensi dan waktu kerja ditentukan dengan data sensus klien. Dihitung untuk menentukan jumlah perawat yang dibutuhkan.
  3. Sistem approach staffing atau pendekatan sistem ketenagaan dapat menentukan jumlah optimal yang sesuai dengan kategori perawat untuk setiap unit serta mempertimbangkan komponen input- proses-ouutput- umpan balik

Kebutuhan tenaga dapat ditinjau berdasarkan waktu. Perawatan langsung, waktu perawatan tidak langsung dan waktu pendidikan kesehatan. Perkiraan jumlah tenaga dapat dihitung berdasarkan waktu perawatan langsung yang dihitung berdasarkan tingkat ketergantungan klien. Rata- rata waktu yang dibutuhkan untuk perawatan langsung (direct care adalah berkisar 4-5 jam/klien/hari. Dalam Gillien 1994 waktu yang dibuthhkan untuk perawatan langsung didasarkan pada kategori berikut:

  1. Perawatan mandiri (self care) adalah ½ x 4 jam = 2 jam
  2. Perawatan sebagian (partial care) adalah 3/4×4 jam = 3 jam
  3. Perawatan total (total care) adalah 1- 1,5 x 4 jam = 4-6 jam
  4. Perawatan intensif (intensive care) adalah 2 x 4 jam = 8 jam

Perkiraan jumlah tenaga juga dapat didasarkan atas waktu perawaan tidak langsung. Berdasarkan penelitian perawatan di rumah sakit menyatakan bahwa rata- rata waktu yang dibutuhkan untuk perawatan tidak langsung adalah 36 menit/ klien/ hari. Di pihak lain, menurut Wolfe dan Yong (1965) dalam buku yang sama menyatakan sebesar 60 menit/klien/ hari.

Selain cara diatas, waktu pendidikan kesehatan dapat juga digunakan sebagai dasar perhitungan kebutuhan tenaga. Menurut Gilies, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pendidikan kesehatan berkisar 15 menit/ klien/ hari.

Menghitung waktu yang dibuuhkan dalam perawatan klien per hari, perlu menjumlahkan ketiga cara tersebut yaitu waktu perawatan langsung, waktu perawatan tidak langsung dan waktu pendidikan kesehatan. Selanjutnya jumlah tenaga yang dibutuhkan dihitung berdasarkan beban kerja perawat.

Hal- hal yang perlu dipertimbnagkan dalam menentukan beban kerja perawat yaitu:

  1. Jumlah klien yang dirawat setiap hari/ bulan/ tahun di unit tersebut
  2. Kondisi atau tingkat ketergantungan
  3. Rata- rata lama perawatan
  4. Pengukuran keperawatan langsung, tidak langsung dan pendidikan kesehatan
  5. Frekuensi tindakan keperawatan yang dibutuhkan klien
  6. Rata- rata waktu perawatan langsung, tidak langsung dan pendidikan kesehatan

Disamping itu ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi beban kerja perawat yaitu masalah komunitas, bencana alam, kemajuan IPTEk, pendidikan konsumen, keadaan ekonomi, iklim/musim, politik dan hukum /perarturan.

Dengan mengelompokkan klien menurut jumlah dan kompleksitas pelayanan keperawatan yang dibutuhkan untuk masing- masing unit. Metode penghitungan yang digunakan yaitu metode rasio, metode Gilies, metode lokakarya keperawatan, metode di Thailanda dan Filiphina dan metode penghitungan ISN (indicator staf need)

Metode rasio didasarkan surat keputusan menteri kesehatan nomor 262 tahun 1979, kebutuhan tenaga didasarkan pada rasio tempat tidur yang tersedia di kelas masing- masing.

rumah sakit

perbandingan

kelas A dan B

tempat tidur; tenaga medis = 4-7 : 1

tempat tidur : tenaga keperawatan = 2 : 3 – 4

tempat tidur : tenaga non keperawatan = 3 : 1

tempat tidur : tenaga non medis = 1:1

kelas C

tempat tidur; tenaga medis = 9 : 1

tempat tidur : tenaga keperawatan = 2 : 3 – 4

tempat tidur : tenaga non keperawatan = 5 : 1

tempat tidur : tenaga non medis = 3:4

kelasD

tempat tidur; tenaga medis = 15:1

tempat tidur : tenaga keperawatan = 2 : 1

tempat tidur : tenaga non medis = 6:1

 

Metode Gilies 1994 digunakan khusus untuk menghitung tenaga keperawatan dengan menggunakan rumus sbb:

        Jumlah tenaga = (A x B x 365) : (hari libur 1 tahun x jam kerja per hari)

Keterangan :

A: jumlah kerja tenaga keperawatan per hari

B: jumlah pasien rata- rata per hari

Metode berikutnya yang dapat digunakan adalah metode lokakarya keperawatan (1989). Metode ini juga dikhususkan untuk menghitung tenaga keperawatan dengan menggunakan rumus:

Jumlah tenaga = A x 52x 7 (TT x BOR)

                                 41                  40

Metode keempat adalah metode Thailand dan Filiphina yang didasarkan pada jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per pasien, harm kerja efektif perawat dalam 1 tahun. Jumlah jam perawatan per pasien terbagi dalam unit rawat map selama 24 jam yang terdiri dari penyakit dalam (3,4 jam), bedah (3,5 jam), campuran bedah dan penyakit dalam (3,4 jam). Post partum (3 jam), bayi neonatus (2,5jam) dan anak (4jam) sehingga rata- rata jam perawatan yang dibutuhkan per pasien selama 24 jam adalah 3 jam. Unit rawat jalan yang jam perawatan per pasiennya 0,5 jam. Kamar operasi untuk rumah sakit kels A dan B (5- 8 jam/24 jam) untuk RS tipe C dan D (3 jam) dan kamar bersalin 5-8 jam. Hari kerja efektif perawatan dalam 1 tahun (365 hari), jumlah hari kerja non efektif dalam 1 tahun (jumlahan minggu 52 hari, libur nasional 12 hari dan cuti bulanan 12 hari), jumlah hari efektif dalam 1 tahun yaitu 365- 76 = 289 hari. Dan jumlah hari efektif perminggu 289/7 = 41 minggu. Jumlah jam kerja efektif dalam 1 tahun yaitu jam kerja dalam 1 tahun yaitu 41 minggu x 40 jam = 1640 jam/ tahun.

Cara menghitung kebutuhan tenaga perawat dapat menggunakan rumus:

  1. Unit rawat inap (URI)

Jumlah jam perawatan x 52 minggu x  7 hari x jumlah TT x BOR                    koreksi 25%

                41 jumlah minggu efektif x 40 jam

  1. Unit rawat jalan (URJ)

Jumlah jam perawatan x 52 minggu x  6 hari x jumlah kunjungan                                koreksi 25%

                41 jumlah minggu efektif x 40 jam

  1. Kamar bedah/ operasi

Jumlah jam perawatan x 52 minggu x  7 hari x jumlah anggota tim OK      koreksi 25%

                41 jumlah minggu efektif x 40 jam

  1. Kamar bersalin (KB)

Jumlah jam perawatan x 52 minggu x  7 hari x jumlah kunjungan                                koreksi 10%

                41 jumlah minggu efektif x 40 jam

Selanjutnya dapat dihitung jumlah tenaga secara keseluruhan dan penjumlahan URI, URJ, KB, OK

 

Metode lain yang dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga adalah dengan metode perhitungan ISN (indikator staff need). Dasar yang digunakan setiap metode ini adalah beban kerja dari setiap unit atau institusi. Setiap unit harus memproyeksikan kegiatan atau keluaran yang akan dihasilkan pada masa mendatang. Tida faktor yang mendasari formula ISN yaitu:

  1. Indikator beban kerja

Indikator ini merupakan pembilang dan sebagai faktor variabel dalam formula ISN yang dihitung berdasarkan hasil pelksanaan yang dicapai oleh masing- masing kategori tenaga selama 1 tahun kalender. Untuk tenaga yang sama yang bertugas pada institusi yang berbeda akan memilikibeban kerja dan kapasias yang berbeda pula.

  1. Bobot (weighting)
  2. Kapasitas tenaga

Contoh:

Diketahui kondisi tenaga keperawatan disalah satu RS berdasarkan laporan tahunan tahun 2010 sebagai berikut: bagian UPI rata- rata per hari 2,6  bagian bedah rata- rata per hari 44,7 bagian non bedah/non UPI rata- rata pasien per hari sebesar 211,3

Ditanyakan berapa tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bagian UPI, bagian bedah dan non bedah berdasarkan data diatas!

Jawab:

Asumsi A (jumlah jam kerja tenaga keperawatan per hari) untuk bagian UPI adalah 7 jam dan B (jumlah pasien rata- rata per hari ) adalah 2,6; A bedah 5 jam dengan B 44,7 dan A non bedah/ non UPI = 4 jam dengan B= 211,3

Asumsi jumlah hari tidak kerja per tahun sbb:

                Hari sabtu minggu 104 hari

                Hari libur nasional 12 hari

                Cuti tahunan 12 hari

                Izin/ sakit 12 hari

                Jadi total keseluruhan adalah 140 hari

Asumsi jumlah jam kerja per hari adalah 8 jam

Jadi kebutuhan tenaga perawat untuk masing- masing bagian adalah sbb:

                UPI         = (7 x 2,6 x 365) : (365     140) x 8 = 4 orang

                Bedah   = (5 x 44,7 x 365) : (365     140) x 8 = 45 orang

                Non bedah = (4 x 211,3 x 365) : (365     140) x 8 = 171 orang

Dengan demikian jumlah kebutuhan tenaga keperawatan secara keseluruhan di rumah sakit tersebut adalah 220 orang.

  1. Pembagian tenaga keperawatan dan penyusunan jadwal

Penyusunan jadwal dinas merupakan tanggung jawab kepala ruang atau pengawas tetapi lebih diutamakan kepala ruang karena lebih mengetahui tingkat kesibukan ruangan dan karakteristik stafnya. Hal ini akan memudahkan dalam menerapkan orang yang tepat untuk setiap periode jaga (shift)

Prinsip penyusunan jadwal hendaknya memenuhi beberapa prinsip diantaranya harus ada kesinambungan antara kebutuhan unit kerja dan kebutuhan staf. Misalnya kebutuhan staf untuk rekreasi, memperhatikan siklus jadwal penugasan yang sibuk dan tidak sibuk, berat dan ringan, harus dilalui oleh semua staf yang terlibat dalam rotasi serta staf yang mempunyai jam kerja yang sama. Prinsip berikutnya yaitu setiap staf harus terlibat dalam siklus atau rotasi pagi- sore- malam; metode yang dipakai harus sesuai dengan kuantitas dan kualitas staf  dalam suatu unit kerja; siklus yang digunakan mengikuti metode penugasan yang dipakai dan setiap staf harus dapat mencatat hasil dinas, libur dan shift.

Berdasarkan prinsip tersebut, dapat diperkirakan formulasi jumlah staf pada setiap shiftnya.

  1. Modifikasi kerja mingguan

Beberapa pendekatan yang digunakan untuk penyusunan jadwal dinas mingguan. Pendekatan tersebut dapat dilihat dari karakteristik staf yang ada dalam tim. Modifikasi tugas mingguan meliputi:

1)      Total jam kerja per minggu adalah 40 jam dengan 10 jam per hari dan 4 hari kerja per minggu. Pada metode ini terjadi tumpang tindih kurang lebih 6 jam per 24 jam. Dimana jam- jam tersebut dapat dipergunakan untuk ronde keperawatan, penyelesaian rencana keperawatan atau kegiatan lainnya. Kelemahan cara ini adalah memerlukan staf yang banyak.

2)      Perincian 12 jam dalam satu shift yaitu 3 hari kerja, 4 hari libur dan 4 hari kerja. Sistem ini sama dengan sistem yang pertama yang membutuhkan tenaga yang banyak.

3)      Perincian 70 jam dalam 2 minggu yaitu 10 jam per hari (7 hari kerja dan 7 hari libur)

4)      Sistem 8 jam per hari dengan 5 hari kerja per minggu. Sistem ini lebih banyak disukai karena mengurangi kelelahan staf dan produktivitas staf tetap dapat dipertahankan.

 

PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN STAF

  1. In service education

Pendekatan yang dilakukan adalah bagaimana staf akan terlibat dalam proses pendidikan melalui berlangsungnya pelayanan kesehatan atau keperawatan yang terus diberikan kepada klien. Hal demikian dapat dilakukan baik di dalam maupun diluar rumah sakit.

  1. Orientasi

Program ini diberikan kepada staf yang baru atau sebaliknya untuk mengenalkan tugas- tugas yang harus dilakukannya atau mengetahui adanya perkembangan teknologi di bidang kesehatan.

  1. Job training

Dilakukan melaui program pelatihan bagi staf sesuai bidang penugasannya atau job tertentu

  1. Continuing nursing education

Program ini merupakan program berkelanjutan sesuai dengan sistem pendidikan formal yang berlaku yaitu sistem pendidikan tinggi bagi perawat selaras dengan statusnya sebagai insan profesi. Sesuai dengan kebutuhan pengembangan, seluruh perawat layak untuk mengikuti program ini dengan pertimbangan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada

  1. Pelatihan kepemimpinan

Hakekatnya semua perawat adalah pemimpin. Oleh sebab itu ia perlu mengembangkan kemampuan leadershipnya sebagai seorang profesional

  1. Pengembangan karier

Staf mempunyai hak atas pengembangan karirnya sesuai dengan sistem yang berlaku. Pimpinan harus mampu merencanakan, melaksanakan dan menilai pengembangan masing- masing stafnya serta melihat semua itu sebagai upaya memotivasi, menstimulasi dan memberikan penghargaan untuk peningkatan prestasi kerja

  1. Studi banding

Unit kerja satu dengan yang lain ternyata bersifat kompetitif. Oleh sebab itu bukan tidak mungkin unit kerja lain mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan unit kerja sendiri. Rencana untuk tukar pengalaman dan institusi atau unit kerja lain perlu diprogramkan dalam rangka membangun motivasi, pengembangan dan peningkatan prestasi kerja. Bentuk lain yang sekarang sedang menjadi tren aalah melalui kegiatan study branch marking

  1. Penilaian kinerja

Seluruh staf diberikan penilaian atas kinerjanya melalui sistem penilaian yang berlaku. Cakupannya antara lain tanggung jawab, loyalitas, kerajinan, kedisiplinan, kepemimpinan dan kejujuran

  1. Pendidikan dan pelatihan

Program ini dirancang untuk memberikan pendidikan dan pelatihan terhadap staf melalui kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dengan target waktu tertentu (waktu, materi, ketrampilan). Pelaksanaan dan program ini adalah melalui kepanitiaan atau lembaga institusi tertentu yang berkompeten

  1. Magang di rumah sakit yang lebih maju

Harus diakui bahwa rumah sakit lain yang memiliki nilai lebih harus menjadi target untuk mencari serta menambah ilmu. Program ini dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan kedua belah pihak yang terlibat.

  1. Kelompok kerja keperawatan

Program ini perlu dilaksanakan selaras dengan keperawatan sebagai profesi yang telah, tengah dan terus dikembangkan. Produk kelompok kerja ini adalah hasil diskusi pengembangan keperawatan, karya tulis dan prosedur tetap, materi buku ajar, temu ilmiah, penelitian keperawatan, pengembangan sistem pendidikan keperawatan dan masukan untuk organisasi profesi

  1. Pengembangan kerja tim di ruangan

Konsep kerja tim ini masih banyak kendala dalam pelaksanaanya, namun semua komponen dalam tim tersebut perlu mengidentifikasi semua masalah di lapangan yang dilakukan oleh semua profesi kesehatan yang terlibat. Staf keperawatan dengan otonomi dan kemandiriannya harus lebih proaktif dalam membangun pelaksanaan kerja tim dalam memeberikan asuhan keperawatan secara paripurna.

 

 

 

 

KONSEP DASAR MANAJEMEN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

 

 

 

 

 

KONSEP DASAR MANAJEMEN KEPERAWATAN

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dosen Pengajar:

Ns.Apriyani Puji Hastuti, S.Kep

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

POLITEKNIK KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

MALANG 2011

KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN

Oleh: Apriyani Puji Hastuti, S.Kep Ners

 

 

  1. I.       PENGERTIAN MANAJEMEN DAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

Manajemen adalah suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi (Grant dan Massey, 1999).  Manajemen juga didefinisikan sebagai proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui upaya orang lain. Manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas yang telah ditentukan pada tingkat administrasi (P. Siagian)

Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Nursalam, 2007). Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan  oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan serta mengawasi sumber- sumber yang ada baik SDM, alat, maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif, baik kepada pasien, keluarga dan masyarakat,

Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkun bagi individu, keluarga dan masyarakat.  

 

  1. II.       FUNGSI MANAJEMEN KEPERAWATAN
    1. Planning (perencanaan) sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkaian kegiatan untuk mencapainya, melalui perencanaan yang akan daoat ditetapkan tugas- tugas staf. Dengan tugas ini seorang pemimpin akan mempunyai pedoman untuk melakukan supervisi dan evaluasi serta menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf dalam menjalankan tugas- tugasnya
    2. Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber data yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
    3. Actuating (directing, commanding, coordinating) atau penggerakan adalah proses memberikan bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal dan melakukan tugas- tugasnya sesuai dengan ketrampilan yang mereka miliki sesuai dengan dukungan sumber daya yang tersedia.
    4. Controlling (pengawasan, monitoring) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi.

 

 

  1. III.       PROSES MANAJEMEN KEPERAWATAN

 

pengkajian

diagnosis

perecanaan

pelaksanaan

evaluasi

 

PROSES KEPERAWATAN

pulta

perencanaan

pengelolaan

kepegawaian

kepemimpinan

pengawasan

Gambar 1. Proses manajemne yang mendukung proses keperawatan (Gillies; 1996)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INPUT                                           PROSES                                            OUTPUT

 

       
     
   

 

 

 

 

 

 

pulta

perencanaan

pengelolaan

kepegawaian

kepemimpinan

pengawasan

 

                           
   

Pengumpulan:

Informasi mengenai:

Unit kerja

Pasien

Karyawan

Sumber daya

 

 

Perencanaan:

Tujuan

Sistem

Standart

Kebijaksanaan

Prosedur

Anggaran

 

 

Pengaturan:

Tabel organisasi

Evaluasi tugas

Deskripsi kerja

Pembentukan kerjasama tim

 

 

persediaan

 

 
 
 
   

Kepegawaian:

  • klasifikasi pasien
  • penetuan kebutuhan staf
  • rekrutmen
  • orientasi
  • penjadwalan
  • penugasan
  • minimaslisasi ketidakhadiran
  • penurunan pergantian
  • pengembangan staf

 

 

Kepemimpinan

  • Penggunaan kekuatan
  • Pemecahan masalah
  • Pengambilan keputusan
  • Mempengaruhi keputusan
  • Mempengaruhi perubahan
  • Mengangani konflik
  • Komunikasi dan analisis intruksional

 

 

Pengawasan:

  • Jaminan keselamatan
  • Audit pasien
  • Penilaian prestasi
  • Disiplin
  • Hubungan pekarya dan tenaga kerja
  • Sistem informasi komputer

 

peralatan

 

penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Sistem Manajemen Keperawatan

 

 

 

 

  1. IV.       PRINSIP MANAJEMEN KEPERAWATAN
    1. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan, karena melalui fungsi perencanaan pimpinan dapat menurunkan resiko kesalahan, memudahkan pemecahan masalah
    2. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai waktu yang telah ditentukan
    3. Manajemne keperawatan melibatkan para pengambil keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi saat mengelola kegiatan keperawatan memerlukan keterlibatan pengambil keputusan diberbagai tingkat manajerial
    4. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer keperawatan dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien  merupakan point utama dari seluruh tujuan perawatan
    5. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan
    6. Divisi keperawatan yang baik dapat memotivasi perawat untuk memperlihatkan penampilan kerja yang terbaik
    7. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif
    8. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perawat.
    9. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi: penilaian pelaksanaan yang rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi, menetapkan standart dan membandingkannya dengan penampilan serta memperbaiki kekurangan yang terjadi.

Berdasarkan prinsip diatas maka hendaknya manajer keperawatan  bekerjasama dengan perawat dan staf dalam perencanaan dan pengorganisasian untuk mencapai tujuan yang telah dicapai sebelumnya,

 

 

 

  1. V.       FILOSOFI DAN TUJUAN PELAYANAN KEPERAWATAN

FILOSOFI MANAJEMEN KEPERAWATAN

  1. Mangerjakan hari ini lebih baik daripada besok
  2. Manajerial keperawatan merupakan fungsi utama pimpinan keperawatan
  3. Meningkatkan mutu kinerja perawat
  4. Perawat memerlukan pendidikan berkelanjutan
  5. Proses keperawatan menjamin perubahan tingkat kesehatan hingga mencapai keadaan fungsi optimal
  6. Tim keperawatan bertanggung jawab dan bertanggung gugat untuk setiap tindakan keperawatan yang diberikan
  7. Menghargai pasien dan haknya untuk mendapatkan asuhan keperawatan yang bermutu
  8. Perawat adalah advokat pasien
  9. Perawat berkewajiban untuk memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga

TUJUAN PELAYANAN KEPERAWATAN

Tujuan pelayanan keperawatan merupakan pernyataan konkret dan spesifik tentang pelayanan keperawatan, yang digunakan untuk menetapkan prioritas kegiatan sehingga dapat mencapai dan mempertahankan misi serta filosofi yang diyakini.

Tujuan pelayanan keperawatan pada umumnya ditetapkan untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas pelayanan rumah sakit serta meningkatkan dan mempertahankan kualitas pelayanan rumah sakit serta meningkatkan penerimaan masyarakat tentang profesi keperawatan. Tujuan ini dicapai dengan mendidik perawat agar mempunyai sikap profesional dan bertanggung jawab dalam pekerjaan, meningkatkan hubungan dengan pasien/ keluarga/ masyarakat, meningkatkan pelaksanaan kegiatan umum dalam upaya mempertahankan kenyamanan pasien, dan meningkatkan komunikasi antar staf serta meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja/ staf karyawan.

Tujuan tersebut juga dicapai melalui penetapan kebijakan yang dibuat secara kooperatif antara tim kesehatan dalam upaya menjamin kesejahteraan sosial bagi perawat dan staf lain sehingga mempunyai kepuasan kerja dan pemberian kesempatan kepada perawat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

 

  1. VI.       LINGKUP MANAJEMEN KEPERAWATAN

Keperawatan merupakan disiplin praktis klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Manajer keperawatan mengelola kegiatan keperawatan meliputi:

  1. Menetapkan penggunaan proses keperawatan
  2. Mengetahui intervensi keperawatan yang dilakukan berdasarkan diagnosa
  3. Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat
  4. Menerima akuntabilitas hasil kegiatan keperawatan

Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatan terdiri dari:

  1. Manajemen operasional (manajemen pelayanan keperawatan)

Pelayanan keperawatan di RS dikelola oleh bidang perawatan yang terdiri dari 3 tingkatan manajerial yaitu:

  1. Manajemen puncak (kabid keperawatan)
  2. Manajemen menengah (kepala unit pelayanan atau supervisor)
  3. Manajemen bawah (kepala ruang perawatan)

Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Faktor yang harus dimiliki manajeer adalah:

  1. Kemampuan menerapkan pengetahuan
  2. Ketrampilan kepemimpinan
  3. Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
  4. Kemampuan menjalankan fungsi manajemen
  5. Manajemen asuhan keperawatan

Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep- konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi.

Proses keperawatan adalah proses pemecahan masalah yang menekankan pada pengambilan keputusan tentang keterlibatan perawat yang dibutuhkan pasien.

  1. Pengkajian merupakan langkah awal dalam proses keperawatan yang mengharuskan perawat menentukan setepat mungkin pengalaman masa lalu pasien, pengetahuan yang dimiliki, perasaan dan harapan kesehatan dimasa mendatang.

Pengkajian ini meliputi proses pengumpulan data, memvalidasi, menginterpretasikan informasi tentang pasien sebagai individu yang unik.

  1. Perencanaan intervensi keperawatan dibuat setelah perawat mampu memformulasikan diagnosa keperawatan
  2. Pelaksanaan merupakan penerapan rencana intervensi keperawatan merupakan langkah berikut dalam proses keperawatan
  3. Evaluasi merupakan pertimbangan sistematis dari standart dan tujuan yang dipilih sebelumnya dibandingkan dengan penerapan praktek yang aktual dan tingkat asuhan yang diberikan.

Keempat langkah dalam proses keperawatan ini berlangsung terus menerus dilakukan oleh perawat melalui metode penugasan yang telah ditetapkan oleh para manajer keperawatan sebelumnya.

 

KESIMPULAN

Penerapan konsep manajemen menuntut para pelaku yang terlibat dalam manajemen keperawatan untuk selalu  melaksanakan fungsi- fungsi manajemen.

Lingkup manajamen keperawatan yang terdiri dari manajemen operasional dan asuhan keperawatan perlu dilaksanakan berdasarkan standart keperawatan.